Merdeka dalam Damai dan Bahagia

Banyak di antara kita yang masih merasakan dirinya sebagai yang tertindas. Merasa tidak mendapatkan keadilan dan hanya merasakan sedih juga sengsara. Pada fakta dan kenyataannya memang kemerdekaan dan merdeka itu sulit sekali untuk diraih. Damai dan bahagia bukanlah sebuah keberuntungan yang bisa diperoleh begitu saja. Mungkinkah kita semua bisa menjadi merdeka dalam damai dan bahagia?!

Seorang pria tua sedang sakit dan kesakitan. Berkeluh kesah tentang penderitaan yang dialaminya selama ini. Sebagai seorang bapak yang berjuang untuk menafkahi keluarga dan memberikan segalanya untuk keluarga tetapi tidak pernah bisa mendapatkan cinta yang diinginkan dari semua yang dirasa sangat dicintainya. Tidak ada rasa hormat dan juga penghargaan kepada dirinya bahkan oleh mereka yang dianggap sangat dicintainya. Segala jerih payah dan kerja kerasnya selama ini pun dianggap sia-sia karena habis untuk berobat. Apa yang menjadi mimpinya selama ini tidak bisa tercapai. Yang dirasakan olehnya hanya sedih, susah, dan sengsara.

Saya bisa mengerti dan memahami apa yang dirasakannya, namun saya ingin sekali bisa bertanya kepadanya, apa sebenarnya arti cinta baginya. Apakah bila dengan mendapatkan balas jasa dari mereka yang dicintainya, itu menandakan bahwa memang cinta itu ada untuknya?! Di manakah ketulusan hatinya di dalam memberikan cinta dan kasih sayang?! Bukankah di dalam cinta, memberi itu harus dengan sebuah keikhlasan tanpa harus mengharapkan timbal balik?! Penghormatan dan penghargaan itu pun tak perlu diminta bila ada hormat dan penghargaan yang diberikan kepada yang lain.

Pengabdian yang dituntut untuk diberikan sebagai buah jasa atas apa yang telah diberikan bukanlah cinta untuk yang lain, tetapi hanya untuk diri sendiri. Memaksakan kehendak untuk menjadikan yang lain sesuai dengan apa yang diinginkan hanyalah sebuah ego dan nafsu semata. Sebuah pengekangan atas jiwa yang tidak memberikan rasa hormat dan penghargaan, namun hanya kebanyakan hanya menjadi sebatas iba dan kasih sayang. Siapa yang mencintai dan siapa yang dicintai menjadi sudah tidak jelas dan tidak memiliki arti dan makna lagi. Apa semua ini bisa membuat bahagia?! Apakah membuat damai?! Apakah bisa membuat diri menjadi merdeka?!

Jerih payah dan kerja keras adalah proses di dalam perjuangan dan di dalam menjalani kehidupan. Tidak ada yang perlu disesalkan bila pada akhirnya semua itu tidak menghasilkan apa-apa. Takdir memang menentukan lain, namun bukankah proses itu yang lebih bernilai dan berarti?! Mungkinkah juga sebenarnya bahwa apa yang terjadi itu merupakan sebuah akibat dari apa yang dilakukan sebelumnya?! Bukankah terkadang manusia sering lupa, tinggi hati, dan sombong untuk menjadi jujur atas apa yang sebenarnya telah dilakukan dan diperbuat?! Sadar disadari, diakui tidak diakui.

Seandainya saja dia mau bercermin dan mau mengakui apa sebenarnya yang telah terjadi. Mau mengakui semua kesalahan dan juga semua tindakan serta perbuatan yang dilakukannya. Mau berdamai dengan dirinya sendiri maka susah, sedih, dan sengsara itu pasti tidak perlu ada. Kebahagiaan yang dicarinya selama ini tidak perlu harus disembunyikan lewat pembenaran atas perilakunya dan juga dengan menuding dan menunjuk jari kepada yang lain. Kebahagiaan itu ada bila damai itu ada bila kebenaran dan cinta sesungguhnya itu pun mau dirasakan dan didirikannya. Selama kebenaran dan cinta yang sesungguhnya itu tak pernah mau diakuinya, dia tidak akan pernah bisa merasakan semua ini. Dia tidak akan pernah bisa merasakan kemerdekaan dan merdeka.

Tidak ada bedanya dengan apa yang terjadi saat ini dengan bangsa dan negara kita. Kita semua merasa telah sangat berjasa dan telah memberikan banyak kepada bangsa dan negara ini sehingga kita pun merasa berhak untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Sementara apa yang kita berikan itu belum tentu sepenuhnya memang benar untuk bangsa dan negara. Belum tentu juga sudah membantu untuk memberikan kehidupan dan masa depan yang lebih baik. Berapa banyak di antara kita yang berjuang hanya untuk memuaskan hasrat dan nafsu sendiri?!

Saya sangat terkesan dengan ucapan bapak tua itu soal keadaan bangsa dan negara dan juga tentang semua perilaku para pemimpin dan juga semua yang lainnya. Kritikan pedas selalu dilontarkannya. Dia merasa bahwa semua tidak ada yang benar. Semua salah dan semua bodoh. Jika memang demikian, lalu siapa yang benar dan siapa yang pintar?! Apa hanya dirinya yang paling benar dan paling pintar?! Jika juga memang dia benar dan pintar, apa solusi yang diberikannya untuk memperbaiki keadaan?! Apa yang telah diperbuatnya untuk menyelesaikan semua masalah yang ada?! Apa sudah ada yang dilakukannya untuk itu semua?!

Mana demokrasi dan kebebasan serta keadilan yang menurutnya tidak pernah dirasakannya?! Bagaimana mungkin dia merasakan itu bila dia sendiri pun sama sekali tidak demokratis, tidak memberikan kebebasan dan sama sekali tidak adil?! Bila memang demokratis, seharusnya dia memberikan kesempatan kepada yang lain untuk menunjukkan cara memberikan cinta kepadanya sesuai dengan caranya masing-masing. Bila dia memang memberikan kebebasan, maka dia tidak perlu menuntut pengabdian. Bila dia memang sudah bersikap adil, dia tidak perlu mempertanyakan soal jerih payah, usaha, dan kerja kerasnya karena belum tentu yang lain tidak melakukan yang sama atau mungkin bahkan lebih keras lagi. Menurut saya, sikapnya malah sangat feodal dan otoriter namun berbalut dengan kata-kata yang seolah-olah memang kelihatan pintar dan benar. Bentuk pembodohan gaya baru. Maaf, ya, Pak!!! Saya tidak mau dibohongi dan dibodohi!!! Ini adalah pilhan saya!!!

Tidak perlulah kemudian juga harus membawa-bawa orang tua dan para leluhur yang telah banyak berjasa kepada bangsa dan negara. Mereka adalah mereka, mereka bukan kita dan tidak sepantasnya kita menjadikan mereka sebagai sebuah tameng untuk menutupi segala kekurangan yang kita miliki. Mereka besar karena diri mereka sendiri, dan kita pun seharusnya menjadi besar karena diri kita sendiri. Mereka memang pahlawan dan pejuang sejati, namun apakah karena mereka pahlawan dan pejuang maka kita pun demikian?! Belum tentu!!! Hormatilah dan hargailah perjuangan yang telah mereka lakukan dengan meneruskan perjuangan mereka, bukan hanya dengan menjadikan mereka sebagai sebuah simbol untuk memenuhi ego diri semata. Apa tidak merasa malu dengan semua ini?! Di mana rasa hormat dan penghargaan yang sesungguhnya itu?!

Kita semua menjadi sedih, menderita, dan sengasara sekarang ini juga sebenarnya adalah kesalahan kita sendiri. Kenapa kita mau saja hanyut dan larut dalam semua kebohongan dan pembodohan?! Kenapa kita terus menerus menjadi manusia yang sombong dan tinggi hati dengan tidak mau belajar dan terus belajar?! Kenapa kita tidak pernah mau untuk menjadi jujur kepada diri sendiri dan terus saja melakukan pembenaran dan pembenaran lainnya?! Kenapa kita selalu sibuk dengan menghujat, menghakimi, dan menuding yang lain sementara tidak juga pernah mau bercermin dan berkaca?! Mencoba menjadi malaikat tetapi sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa menjadi malaikat. Berjuang pun hanya memperjuangkan bualan dan menjual bualan untuk kepentingan pribadi.

Tidak ada yang bisa mengubah keadaan bila tidak sebelumnya tidak mengubah diri sendiri terlebih dahulu. Manusia tidak bisa berubah kecuali diri sendiri yang melakukannya. Semua harus dimulai dari diri sendiri dulu. Pejuang yang sejati adalah mereka yang memeliki cinta yang sesungguhnya untuk diberikan kepada semua. Mereka yang bisa memberikan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk semua. Memerdekaan setiap jiwa yang ada dengan damai dan bahagia lewat cinta yang sesungguhnya.

Tidak perlu malu untuk mengakui semua kesalahan karena tidak ada seorang pun yang tidak pernah berbuat salah. Kebenaran itu akan selalu datang pada masa dan waktunya. Tidak ada pesta yang tidak pernah usai. Janganlah tinggi hati dan sombong karena kita semua adalah sama. Siapakah kita dan apakah kita?! Nilai manusia tidak berarti dan bernilai karena nilai dari-Nya jauh lebih utama. Marilah kita sama-sama melakukannya untuk bangsa dan negara ini. Jadilah manusia yang merdeka dalam damai dan bahagia. Cinta itu ada dan ada selalu.

Merdeka!!!

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

15 agustus 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s