Cinta Seorang Perempuan Untuk Bintang Tergenit

Illustrasi: atnzone.com

Malam di Kota Bandung sedang sangat dingin. Suhu di temperatur menunjukkan angka 17 derajat Celcius. Awan dan kabut tebal menyelimuti kota. Kelap-kelip lampu seluruh kota yang biasanya tampak indah dari teras di depan kamar, kelihatan remang-remang saja. Gunung-gunung di sekitar yang biasanya menjadi bingkai menawan, sama sekali tidak kelihatan. Membuat malam semakin temaram dan hati semakin tenggelam.

Sudah lama rasanya bintang tergenit yang berkelip manja itu tak menampakkan wajahnya. Biasanya dia selalu menggoda saya untuk selalu menatap dan tersenyum padanya. Tak kuasa untuk menolak daya tarik dan daya pikatnya yang selalu mempesona. Sepertinya setiap kelipan matanya itu memang mengandung sejuta arti dan makna. Konon kabarnya setiap kelip yang dibuatnya sama dengan guncangan gempa berskala 9,7 skala Richter.

Entah apa yang sedang dilakukannya di balik awan dan kabut tebal itu. Sibuk dan sibuk selalu yang menjadi alasannya. Bisa dipahami dan dimengerti karena semua ada prioritasnya. Prioritas tetap harus didahulukan. Apalagi bila memang semua itu demi masa kini dan juga nanti. Semua proses perjuangan untuk meraih kehidupan yang lebih baik adalah sebuah keindahan tersendiri. Segala sesuatu pasti ada masa dan waktunya.

Berusaha untuk memahami dan mengerti namun juga tidak bisa memungkiri rasa yang ada di dalam hati. Kerinduan itu selalu saja ada. Ada saat di mana kerinduan itu menjadi sangat menggelora. Kerinduan untuk bisa bercinta lagi seperti biasanya tidak bisa dibendung. Ingin sekali segera terbang ke langit dan bercinta dengan bintang tergenit itu. Meluapkan segala rasa yang ada meski hanya untuk memeluk dan berlabuh sesaat.

Sepertinya semua usaha yang dilakukan tidak pernah berarti lagi. Sampai harus mempertanyakan diri sendiri, apakah benar cinta yang dimiliki benar-benar sebuah cinta yang tulus?! Cinta yang sesungguhnya memang tulus apa adanya. Tak seharusnya berharap dan tak seharusnya juga pernah meminta. Salahkah bila kemudian berharap dan meminta?! Apakah dengan berharap dan meminta maka cinta itu bukanlah cinta yang sesungguhnya?!

Perempuan membutuhkan pria dan menginginkan cinta. Pria yang bisa memberikan cinta dan menerima cintanya. Apakah ini menjadikan perempuan tidak memiiki cinta yang sesungguhnya?!

Seorang pria penuh cinta menyampaikan pesan kepada saya tentang apa yang diketahui dan dirasakannya. “”Jika Anda ingin hidup bahagia dengan pria, Anda harus banyak memahaminya dan sedikit mencintainya. Jika Anda ingin berbahagia dengan perempuan, Anda harus lebih banyak mencintainya dan jangan coba-coba memahaminya.” Helen Rowland (1876–1950), penulis Amerika Serikat kelahiran Inggris”

Lain padang lain belalang. Seorang pria penuh pesona cinta berkata, “Pria mengatakan apa yang tidak dilakukan. Perempuan melakukan dan tidak mengatakan apa yang dilakukan. Akhirnya diam adalah kondisi yg dilakukan meski selalu dielakkan dalam pengungkapan. Malam adalah wujud cinta pada kesemestaan. Malam adalah diam dan diam adalah puncak bahasa cinta. Adakah cinta yangg engkau inginkan selain cinta? Tanyakan pada hatimu yang diam secara diam-diam.”

Ah! Sudahlah! Mungkin memang semua ini tidak perlu dipertanyakan. Toh, cinta itu cukup untuk dirasakan bukan?! Untuk apa berharap dan bermimpi?! Biarlah semuanya mengalir apa adanya dan dinikmati saja. Untuk apa juga diperjuangkan dan diusahakan?! Cinta yang sesungguhnya selalu ada dan ada selalu. Semua ada masa dan waktunya. Hanya waktu yang bisa bicara.

Pria penuh cinta itu pun menambahkan, “Cinta sesuatu yang sangat unik, harus dipahami secara terbuka, sangat disayangkan jika sama-sama memiliki cinta namun cara penyampaiannya berbeda, kemudian terjadi perpecahan. Bukankah beraneka ragam lebih bernilai daripada monoton? Menghargai lebih bernilai daripada memaksakan kehendak?”

Beliau pun menjelaskan, ”Pria akan memberikan cintanya jika ia dipahami, sebaliknya perempuan ingin dicintai, apapun akan direlakan. Kalimat ini bisa didiskusikan bersama pasangan Anda, apakah benar, jika Ya, mengapa Anda tidak mau mengubah cara berpikir kita demi keutuhan cinta itu sendiri?”

Berjuta keinginan dan berjuta mimpi juga harapan. Tidak semua kemudian harus diwujudkan. Prioritas adalah yang utama. Bila masih ada keinginan untuk bisa selalu berbagi dan tidak merasa sepi apakah itu juga berarti memang cinta tak pernah ada?!
Mungkin sebaiknya introspeksi diri saja terlebih dulu. Belajar untuk bisa mengerti dan memahami cinta. Kebahagiaan adalah yang selalu dicari. Tak mengerti dan tak memahami cinta maka kebahagiaan itu pun hanya menjadi sebuah pencarian.

Cinta seorang perempuan?! Mungkin memang tak seharusnya dipertanyakan. Yang pasti, kerinduan untuk bisa selalu bersama dan bercinta dengan bintang tergenit itu tak pernah hilang. Hati tak bisa berdusta. Cinta itu ada dan ada selalu.

Selamat menikmati malam penuh cinta!

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

Catatan: Terima kasih untuk kata-kata indah Pak Kwee dan Bang Risman!!! Membuat saya banyak belajar dan ingin belajar lagi.

7 Agustus 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Mimpi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s