Dilema Calon Pemimpin Aceh

Wed, Oct 6th 2010, 09:10

Dilema Calon Pemimpin Aceh

MEMBACA tulisan Risman. A. Rachman (RAR) yang berjudul “Tantangan Memajukan Aceh” (Serambi Indonesia, 23/9/2010), dan tanggapan dari Jarjani Usman (JU) lewat tulisan berjudul “Pemimpin Oplosan” (Serambi Indonesia, 02/10/2010), membuktikan, sekarang ini Aceh sedang menghadapi dilema di dalam transisi transformasi masyarakat terutama di dalam menentukan dan memilih pemimpin yang ideal dan sesuai dengan masyarakat Aceh.Hal ini kemudian menyebabkan timbulnya perbedaan di dalam pola pikir dan cara pandang, yang sah-sah saja bila memang merupakan bagian dari demokrasi dan kebebasan, namun menurut saya, ada baik bila dicermati terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi.

Perbedaan atas formulasi mengenai problema ini sangat jelas sekali disebabkan ketegangan antara tatanan transendental dan tatanan keduniaan, dan juga oleh kesetiaan terhadap kedua tatanan tersebut.

Di mana, bila kita melihat tatanan transedental yang terjadi di dalam masyarakat Aceh, jelas sekali ada kekuatan politik yang dikuasai oleh berbagai kelompok dan komunitas tertentu yang menjadi mayoritas dan menguasai sistem sosial politik dan kemasyarakatan. Sementara itu, di sisi lain, sebagai wilayah yang dikenal sebagai Serambi Mekah, di mana ada sebagian kelompok yang bercita-cita mempersatukan kembali ummah dan menerapkannya di dalam kehidupan bersosial dan berpolitik di Aceh.

Ketegangan ini tentunya sangat mempengaruhi struktur-struktur elit sekunder dan dengan demikian juga mempengaruhi kelembagaan dari aturan dasar interaksi sosial politik terutama struktur pusat, hubungan pusat-pinggiran, formasi “strata” di dalam masyarakat dan juga pola-pola di dalam perubahan yang biasa terjadi pada masyarakat transisi yang sedang melakukan transformasi seperti di Aceh. Namun demikian, di sisi lain, seharusnya tidak dipungkiri bahwa feodalisme dan otoriterian di dalam pola kepemimpinan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat, meski mengagungkan dan menggunakan demokrasi serta kebebasan, tetap berlaku dan tetap diterapkan.

Persepsi mengenai tingginya komitmen kepada tatanan yang telah berlaku ini jika tidak disertai persepsi atas ketegangan yang terjadi maka tidak akan pernah mendorong perubahan yang otonom atas keadaan sosial maupun hirarki juga elit-elit sosial dan politik. Pemimpin yang akan dipilih akan menjadi tetap mengikuti pola yang sama dan masyarakat pun tetap menjadi tidak berdaya. Kebodohan dan pembodohan terus berlanjut karena apa yang telah ditanamkan dan tertanam di dalam kelompok-kelompok yang askriptif, tetapi juga sangat berorientasi kepada penyelenggaraan atas kewajiban yang harus dilakukan setiap kelompok tersebut. Hal ini cenderung melahirkan koalisi di antara para elit kelembagaan dan masyarakat yang kolektif yang meski demokratis dan bebas namun tetap dikontrol dan dikendalikan oleh pusat dan mayoritas serta tentunya yang menjadi pemimimpin, penguasa, dan berkuasa.

Terbukti dengan tidak diterima atau disangkalnya keinginan atas mereka yang berasal dari daerah lain selain daerah di luar yang selama ini dianggap “menghasilkan” gubernur Aceh, yang memiliki potensi untuk bisa juga menghasilkan pemimpin dan mendapatkan posisi sebagai minimal calon Gubernur Aceh. Ada kecenderungan rasa tidak percaya diri dan juga ketakutan atas wilayah-wilayah tersebut yang menyebabkan mereka tidak juga maju dan tampil. Begitu juga dengan wacana baru yang sulit untuk diterima dan bahkan terus dijatuhkan, maka kemerdekaan berpikir menjadi relatif berdasarkan tradisi, kebudayaan, pusat-pusat dan simbol-simbol identitas dari pusat politik yang sejajar dengan otonomi yang relatif pada struktur sosial masyarakat.

Meskipun di lain sisi tampak jelas, runtutan atas semua masalah yang terjadi di Aceh sekarang ini disebabkan oleh kegagalan para pemimpin dan juga penguasa untuk memakmurkan dan mensejahterakan Aceh sendiri. Bukankah tampak jelas bahwa organisasi dan aktivitas menjadi hanya didasarkan pada kombinasi “kepemilikan berbagai macam sumber dan pengendalian atas penggunaannya serta konversinya, sehingga pengendalian penuh dicapai hanya lewat hubungan antar “kelompok” mayoritas di dalam kekuasaan saja.

Analisa bisa dilakukan dari berbagai macam cara namun amat sangat juga tergantung kepada kemampuan seseorang untuk melakukan analisa dan juga atas maksud dan tujuannya. Tidak mudah untuk memiliki analisa yang baik dan benar serta bersifat netral dan tidak memiliki kepentingan tertentu. Penerapan atas analisa di dalam praktik dan pelaksanaannya juga sangat tergantung kepada pola pikir dan cara pandang masing-masing terhadap apa yang terjadi juga atas kecenderungan persepsi yang “lumrah” dan “jamak” yang merupakan bagian dari kondisi sosial dan kepribadian di dalam tatanan sosial masyarakat.

Semua ini bisa diperhatikan dari analisa psikologis dan kondisi sosial masyarakat Aceh sendiri, juga atas transisi transformasi perubahan yang sampai sekarang juga masih sering tidak diperhatikan sehingga ketegangan terus berlanjut.

Tidak perlu jauh-jauh untuk melihat bagaimana transisi dan transformasi ini menjadi sangat tegang dan labil, salah satu contohnya, dengan pemahaman masyarakat Aceh sendiri terhadap Aceh. Bagaimana Aceh menghargai dan menghormati dirinya sendiri dan memperlakukan Aceh sebagaimana seharusnya orang Aceh meski mengaku sebagai orang Aceh sejati. Sejarah dan jati diri Aceh sendiri pun sudah banyak ditinggalkan, dilupakan, dan bahkan sengaja dihilangkan untuk kepentingan tertentu. Apa yang terjadi dengan Hasan Tiro yang dianggap sebagai “Wali” oleh masyarakat Aceh sendiri?!

Bila memang ingin ada perubahan di dalam kehidupan yang lebih baik, saya sependapat dengan JU yang mengatakan, “sebaiknya bukan hanya pemimpin yang disalahkan, tetapi kita semua yang telah berperan memilihnya atau menggiring masyarakat untuk memilihnya”, juga sependapat dengan RAR yang mengatakan, “Pemimpin yang bisa menerapkan, bukan yang hanya bisa berbicara dan berteori saja.”. Perubahan itu dimulai dari sendiri, dan semua seharusnya menjadi pemimpin atas dirinya sendiri sehingga tidak perlu dikuasai ataupun menguasai yang lainnya.

Penguatan atas masyarakat transisi yang sedang melakukan transformasi adalah pada pengukuhan jati diri dan penguatan pada pola pikir dan cara pandang yang luas, objektif, benar, dan juga sehat. Pemahaman dan pengertian atas konteks dan juga pada kata serta bahasa menjadi penting agar pembodohan dan kebodohan itu tidak terus berlanjut. Penelusuran atas apa yang terjadi dan apa yang menjadi akar permasalahan akan menjadi berguna untuk menetapkan kesamaan di antara masyarakat serta kondisi-kondisi khusus yang menyertai perkembangan awal perubahan. Sejarah dan fakta yang ada hendaknya tidak lagi hanya sekadar bagian dari masa lalu yang bisa dihilangkan dan dianggap bukan sesuatu yang penting ataupun tidak modern dan tidak logis untuk diperhatikan serta dicermati.

Oleh karena itulah, saya pribadi justru melihat, penggiringan dan pengotakan dalam tulisan RAR adalah sebagai salah satu upaya yang dilakukannya untuk mengajak mereka yang merasa “minoritas” dan tersingkirkan untuk mau dan berani menantang diri tampil ke permukaan. Siapa tahu memang mereka yang selama ini “hilang” dan “tenggelam” di balik sana itu bisa menjadi pemimpin yang lebih baik yang bisa membangun Aceh dengan lebih baik lagi. Begitu juga dengan pemimpin yang independen dan tidak berasal dari partai, kenapa tidak?! Fakta dan kenyataan memang sudah amat sangat jelas bagaimana kegagalan itu terjadi. Kenapa wacana baru tidak mendapatkan dukungan? Salahkah untuk menjadi berbeda dan memulai sesuatu yang baru?

Saya hanya ingat peribahasa Aceh saja, “Umong meuateung, ureng meupeutua. Rumoh meuadat, pukat meukaja”. Setiap masyarakat harus ada pemimpin untuk mengatur hak dan kewajiban anggota masyarakatnya agar tujuan itu tercapai sebagaimana mestinya. Bila masyarakat tidak mempunyai pemimpin yang baik, maka suatu waktu akan robohlah masyarakat itu. Apa masih ingat?M

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Politik, Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s