Disorientasi Moral

KATANYA menutupi seluruh aurat dan bagian tubuh, tapi, kok, celananya ketat banget, ya? Bahannya tipis pula!!! Tembus pandang, tuh!!! Apa memang cuma sekedar asal nutup doang?! Maksudnya apa, sih?!

Kita nggak usah bicara soal agama, deh, ya! Saya memang bukan pakarnya. Kita bicara secara pandangan awam sajalah. Pada fakta dan kenyataan yang ada di lapangan, sekarang sudah banyak yang mempertanyakan soal yang satu itu. Berkerudung tetapi tetap mengundang syahwat. Malah ada yang menilai ini justru jauh lebih negatif dibandingkan dengan mereka yang suka mengenakan rok mini dan baju tank top. Masalahnya, ini sudah bukan urusan mode lagi, tetapi sudah bawa-bawa moral juga! Kesannya jadi munafik banget!!!

Kalau menurut saya, sih, ini adalah salah satu dari ciri disorientasi moral yang sekarang ini sedang kita hadapi bersama. Masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Misalnya saja, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya dalam artikel yang berjudul Masih Perawan, Tapi…. Di mana nilai keperawanannya sendiri jadi sudah rancu. Apakah seseorang yang belum pernah bersetubuh tetapi pernah melakukan seks oral dan masturbasi untuk pasangannya masih bisa dianggap perawan? Keperawanan telah direduksi hanya menjadi soal selaput dara dan keperjaan semata. Tidak pernah dipikirkan lebih dari itu. Kesuciannya sendiri tidak pernah dipertanyakan.

Sebetulnya, mau ke mana, sih, kita ini? Saya, kok, bingung banget, ya? Keblinger sama yang namanya moral dan amoral. Apa saya yang salah, ya?

Korupsi juga bisa kita jadikan salah satu contoh. Sekarang ini, kebanyakan dari kita, melihat korupsi hanya dari sisi uang saja. Moralnya sudah jelas. Tapi, korupsi dalam bentuk lain jarang, tuh, ada yang memikirkannya. Korupsi sejarah contohnya. Memutarbalikkan sejarah dan tidak mengakui sejarah yang sebenar-benarnya ada dan terbukti, menurut saya juga merupakan korupsi. Ini bukan hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu saja, lho, tetapi sudah kebanyakan dari kita juga melakukannya.

Seberapa banyak dari masyarakat Indonesia yang mau mengakui bahwa Islam masuk ke Indonesia bukan hanya dari Arab atau pedagang Gujarat saja, tetapi juga dari Negeri China. Sudah jelas dan terbukti bahwa Islam sudah lebih dahulu masuk ke China dan baru kemudian masuk ke Indonesia. Banyak pedagang, pelaut, dan politisi China Muslim yang datang ke Indonesia dan kemudian menyebarkan agama Islam di sini. Malah ada wali yang asli orang China, kok! Penolakan atas sejarah ini tidak hanya dilakukan oleh orang pribumi, tetapi juga oleh masyarakat turunan Thiong Hoa yang ada di Indonesia. Memangnya kenapa, sih, kalau datangnya dari China? Nggak boleh, ya? Nggak bisa terima? Kenapa?

Jelas sekali menurut saya ini sudah merupakan sebuah disorientasi moral. Ketika kemudian kita hanya memikirkan moral dari sisi kita saja, sementara moral dari sisi yang lainnya tidak dipertanyakan, membuat kita menjadi tidak memiliki arahan yang jelas. Semuanya jadi tidak pasti. Abu-abu.

Memang tidak mudah, sih, karena untuk menurunkan dan menjabarkan nilai-nilai moral itu sendiri menjadi sebuah tindakan atau dalam bentuk prakteknya, susahnya setengah mati. Apalagi kalau sudah dimuati kepentingan-kepentingan dari pihak-pihak tertentu. Tambah ruwet aja!!!

Sama juga kalau kita melihat problema moral yang ada dalam kehidupan para gay, lesbian, dan waria. Kita cenderung memberikan penilaian negatif terhadap mereka semua. Mereka seringkali dianggap sebagai manusia yang tidak bermoral. Tapi, apakah kita pernah mempertanyakan kepada diri sendiri, apakah kita patut dibilang sebagai seorang yang bermoral bila menganggap orang lain, manusia lain sebagai manusia yang tidak bermoral. Siapakah kita? Tuhankah? Apalagi kalau kemudian kita melakukan tindakan-tindakan kekerasan terhadap mereka walaupun mereka tidak melakukan apa-apa, tidak melakukan kejahatan apapun juga terhadap kita. Kalau sudah melakukan kejahatan, siapapun juga, mau yang “normal” atau “tidak normal”, sih, memang patut mendapat ganjaran. Tapi kalau tidak?!

Gosip juga menurut saya, sih, sudah menjadi tidak jelas. Dengan alasan kebebasan pers, media merasa berhak menayangkan urusan pribadi dan rumah tangga sesorang. Yang malah terlalu pribadi dan sama sekali tidak ada kepentingannya dengan urusan publik. Tidak mendidik malah!!! Kalau ada kemudian yang marah, dihujat habis-habisan. Dianggap sebagai seorang public figure yang tidak bermoral dan kemudian diboikot oleh media. Terbolak-balik nggak, sih?! Aneh!!! Jadi, kalau kita yang mau tahu urusan pribadi orang dan kemudian bergosip sana-sini, merasa bermoral. Gitu, ya?! Kok, lucu, sih?! Secara tidak langsung, kita ini bisa jadi sudah berbuat jahat kepada mereka, tapi, kok, tetap merasa lebih bermoral, ya?!

Masih banyak contoh kasus disorentasi moral yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Perhatikan, deh, lingkungan sekitar kita. Pedulilah dengan yang lain. Berpikirlah dengan lebih luas lagi. Memang ini sering dianggap sepele, tetapi justru berbahaya bagi masa depan bangsa kita ini. Mau ke mana kita? Mau jadi apa kita? Kalau semua ini dibiarkan terus, nanti kita sendiri yang akan bingung. Baca Moral Panic, deh!!! (Dikerjain Mariska Lubis, nih, judulnya. Hehehe….

12 November 2009

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Buku Mariska Lubis, Perubahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Disorientasi Moral

  1. Bambang Heru says:

    Lho…kok jadi “ngambang” begitu idenya? diawali dengan ide yang bagus tapi dicampur dengan hal-hal lain yang menjadikan topik tidak focus.
    Anyway good idea to discus about.

  2. eraha says:

    blognya keren mbak,,,kritis dan menggigit,,ijin follow yaa,,,
    lam kenal,,,saya baru di sini.. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s