Lagi-lagi Kebodohan dan Pembodohan

Sudah terlalu banyak kasus terjadi yang diakibatkan oleh berita di media massa. Berita yang juga ditonton pleh manusia penonton. Sama-sama merasa paling bermoral dan paling memiliki etika. Paling benar dan paling paling paling. Sama-sama tidak juga mau berkaca dan sama-sama juga tidak mau merasakan dengan hati. Terus saja menuding dan menunjuk tanpa pernah mau bertanya apa dan siapa diri sebenarnya. Pembodohan terus saja berlanjut dan masih saja terus mau dibodohi. Mau sampai kapan bangsa dan negara kita seperti ini?!

Kasus video Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari sudah sangat jelas membuktikan bagaimana situasi dan keadaan psikologis serta sosial bangsa dan negara ini. Bukan hanya pemimpinnya saja, tetapi sudah hampir merata di masyarakat. Begitu juga dengan kasus yang baru terjadi, kisah tentang mau bunuh dirinya seorang anak karena melihat bapaknya berselingkuh dengan Kris Dayanti. Kalau dipikirkan, kejam sekali bangsa kita ini. Saudara sebangsa dan setanah air yang seharusnya diberikan pertolongan dan perlindungan justru merekalah yang paling pertama dijajah dan dijerumuskan. Tanpa henti dan entah kapan mau berhenti.

Sudah capek nggak, sih, dengan tayangan dan berita di media massa yang berisi seputar hal-hal yang sifatnya terlalu pribadi?! Kalaupun alasannya mereka adalah idola dan tokoh sehingga segala sesuatu yang mereka lakukan itu dijadikan contoh, terus kenapa yang diberikan justru contoh yang tidak baik?! Yakin itu akan membuat orang tidak meniru apa yang mereka lakukan?! Berapa banyak yang terinspirasi melakukan hal yang sama?! ”Idola saya juga jadi ngetop gara-gara itu, kenapa saya nggak?!” Jika sampai ada yang begitu gimana?! Bilang lagi orang itu bodoh?! Siapa yang telah berperan dalam pembodohan ini?!

Pengidolaan juga sudah sangat berlebihan menurut saya. Di satu sisi idola dituntut untuk selalu menjadi manusia yang sempurna sementara di sisi yang lain kita jadi mengabaikan sisi manusia mereka. Jika mereka berbuat salah lalu mereka dianggap telah memberikan contoh yang tidak baik. Menurut saya, siapa suruh mengidolakan mereka?! Kenapa mereka dijadikan idola?! Kenapa mereka yang menjadi patokan atas perilaku?! Kenapa tidak menjadi diri sendiri saja?! Bukankah menjadi diri sendiri itu jauh lebih baik?!

Sungguh sangat tidak sehat kondisi seperti ini. Masa, sih, tontonan dijadikan sebuah kebenaran dan keyakinan?! Kenapa tidak mau dicerna dan diolah dulu?! Katanya logis dan intelektual, tapi masih saja menggunakan patokan karakter manusia yang ada di dalam sinetron sebagai panduan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau orang jahat, pasti jahat terus. Kalau orang baik, pasti baik terus. Kalau orang susah, menangis terus. Begitukah?!

Sudahlah, jangan juga menggunakan alasan kebebasan pers untuk membenarkan semua ini. Di dalam kebebasan juga ada yang namanya aturan serta peraturan. Ada juga tanggung jawab moral dan etika. Korban sudah banyak yang berjatuhan, tetapi mana tanggung jawabnya?! Selalu mengkritik tentang tanggung jawab moral dan etika yang lain tetapi diri sendiri juga tidak mau mempertangungjawabkannya. Berkaca dulu, deh, ya!!! Coba lihat siapa yang ada di dalam cermin itu?!

Makanya, jika kemudian mereka yang ”lebih pintar” dengan mudahnya mengecoh masyarakat. Bila ada suatu masalah, seperti soal kemacetan di Jakarta, solusinya juga mudah. Pindah saja rumah, kan, beres!!! Padahal coba pikirkan lagi berapa dana yang harus dikeluarkan dari dana masyarakat yang digunakan untuk kepindahannya itu?! Lagipula, apakah masalah kemacetan itu bisa diselesaikan dengan kepindahannya?! Intinya, soal kemacetan, kenapa jadi dialihkan ke soal kepindahan rumah?! Bukannya dicari solusi bagaimana bisa mengatasi macet yang juga mengakibatkan hangusnya uang rakyat secara percuma, ini malah menambah masalah baru. Coba hitung berapa banyak subsidi BBM yang hangus hanya karena penggunaan BBM yang tidak efisien akibat macet?! Bukankah itu bisa digunakan untuk membangun sarana dan prasarana untuk rakyat yang lebih baik dan memadai?!

Saya tidak habis pikir kenapa, ya, sulit sekali untuk bisa membuat mata itu benar-benar terbuka, telinga itu benar-benar mendengar, dan hati benar-benar merasa. Apakah karena memang kebodohan?! Menurut saya tidak juga. Kalau memang bodoh, mana mungkinlah bisa berpikir. Orang masih yang masih bisa beraktifitas sehari-hari dengan menggunakan akal tidak bisa disebut bodoh. Kalau menurut saya, ini semua karena memang sudah turun menurun dilakukan pembodohan sehingga secara disadari, tidak disadari, diakui tidak diakui, sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang sebenarnya. Untuk apa juga tahu yang sebenarnya, toh yang dipercaya dan diyakini orang banyak pasti itu yang paling benar?! Ada juga orang ”pintar” meski sebenarnya keblinger yang bisa ditanya dan juga buku yang bisa dibaca dan tontonan yang bisa dilihat. Susah-susah dan repot-repot, itu saja yang dijadikan pegangan. Lebih mudah, kan?! Belajar dan berpikir sendiri memang capek!!!

Seharusnya jangan protes dan kritik atas keadaan yang sekarang ini terjadi. Memang kita juga yang telah berperan menyebabkan semua ini. Rasakanlah akibatnya sendiri. Presiden dan para pemimpin rakyat memangnya siapa yang memilih?! Kenapa dipilih?! Kenapa dipercaya?! Jangan giliran sudah terpilih lalu kemudian kesalahan sepenuhnya diserahkan kepada mereka juga, dong?! Pernah nggak ada pertanyaan di dalam benak, ”Kenapa, ya, waktu itu saya memilihnya?! Kenapa mau?! Apa yang telah saya lakukan?!”

Ditambah lagi dengan keanehan yang luar biasa, di mana masyarakat kita tetap menganggap bahwa pemimpin itu adalah raja dan penguasa. Memangnya kita ini negara feodal apa?! Katanya menuntut demokrasi, tetapi sikap feodalistik masih sangat kental di dalam masyarakat. Tidak perlu di dalam urusan bangsa dan negara, coba saja di dalam lingkungan keluarga sendiri. Terasa nggak feodalnya?! Apa kata yang tua dan lebih besar adalah yang paling benar, tidak peduli itu benar atau salah. Alasannya, hormat dan berbakti lagi, padahal sebaiknya saling menghormati dan menghargai. Perhatikan senioritas dan junioritas di kampus sajalah!!!

Jangan heranlah kalau keadaan kita akan semakin parah dan semakin tidak baik lagi di kemudian hari. Kita juga tidak mau mengubah diri untuk menjadi lebih baik. Jangankan belajar, untuk jujur pada diri sendiri saja sulit. Lagi-lagi pembenaran dan tudingan dijadikan sarana untuk menutupi kebenaran. Terus saja begitu. Memang susah kalau sudah merasa yang paling dan paling paling.

Yang paling parahnya lagi kalau sudah merasa yang paling baik dan paling suci. Duh!!! Memangnya manusia ada yang benar-benar suci dan tidak pernah berbuat salah?! Anehnya lagi, penilaian atas orang yang baik dan suci itu hanya dari penampilannya saja. Pokoknya selama dia sudah berpakaian yang memenuhi standard moral dan etika yang berlaku di masyarakat, itu sudah berarti baik dan suci. Plus ditambah lagi dengan bicaranya yang selalu dikaitkan dengan kata-kata kebenaran meski hanya sepotong-sepotong. Sementara isi dari dalam hati dan pikirannya, siapa yang peduli?! Sudah berapa banyak yang terkecoh dengan semua ini?! Berapa banyak yang menjadi korban?!

Sebagai catatan penting yang ingin saya tekankan adalah bahwa penampilan tidak menjamin sebuah wilayah itu bebas dari perbuatan yang tidak baik. Ini bisa dibuktikan dari apa yang terjadi di negeri di mana penampilan yang tertutup merupakan kewajiban, bila tidak akan mendapat hukuman yang luar biasa memalukan. Namun apa yang terjadi?! Kenapa justru tingkat pelecehan seksual sangat tinggi terjadi di sana?!

Menundukkan kepala dan bersujud ternyata memang tidak selalu merendah. Melihat pun tidak selalu berarti menatap. Mendengar pun tak selalu mencerna dan meresapi. Yang ada tinggal pasrah yang berarti hanya untuk menyerah. Kosong pun menjadi sunyi dan benar-benar sepi meski sebenarnya nol itu masih berisi. Raga kehilangan nyawa bila asa sudah tidak ada lagi. Mutiara tak lagi berkilau dan bunga pun hanya menjadi layu bercampur debu. Kehidupan hanya menjadi semu dan jangan pernah marah ataupun salahkan yang lain bila angin, topan, dan badai akan terus menderu.

Jujur dan rendah hatilah!!. Belajar dan belajar terus!!!

Cinta adalah keyakinan dan kerja keras adalah hormat serta pengabdian. Masa depan penuh penantian dan jadikanlah surga itu benar milik semua. Fajar akan terus datang esok hari membangunkan mereka yang mau benar-benar berdiri. Mereka yang benar-benar mau menegakkan seruan sabda sang pemberi untuk kini dan juga nanti.

Bilapun semua ini tak berarti namun adalah kebahagiaan telah memberi. Tak pernah berharap juga untuk diberi.. Saya hanya ingin selalu ada kedamaian di dalam hati semua yang memiliki jiwa yang penuh dengan cinta yang sesungguhnya. Semoga kita semua bisa benar-benar merdeka.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

21 Juli 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Lagi-lagi Kebodohan dan Pembodohan

  1. ruddabby says:

    bodoh itu makanan apa ya kok seperti enak dan membuat ingin lagi lagi dan lagi😀

  2. d351ree says:

    Hi,dear….keras bener tulisannya…gua juga cape sich tiap lihat tv lokal pd pintar ngomong tapi NO AKSI, 🙂

  3. Nurul Amin says:

    Jika nurani seseorang tidak menjerit saat jasad berbuat salah, maka kemanusiaannya pelan-pelan akan hilang….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s