Evolusi Pemikiran Tentang Seks dan Moral

Seks dan moral sangat berkaitan erat sekali. Seks bisa membuat manusia menjadi dianggap tidak bermoral. Seks juga bisa membuat manusia yang lainnya menjadi merasa lebih bermoral dari yang lainnya. Apakah yang menyebabkan ini semua?! Kenapa seks bisa membuat manusia dianggap tidak bermoral?! Kenapa seks juga bisa membuat manusia yang lainnya merasa lebih bermoral?! Seks itu apa, sih?! Moral itu apa?!

Terus terang saja, saya membuat tulisan ini karena keprihatinan saya atas apa yang sedang terjadi saat ini di negara kita tercinta. Negeri kita terpecah belah dan dihancurkan oleh berbagai intrepretasi dan persepsi yang berbeda atas apa yang diyakini sebagai “yang paling benar”. Meskipun merasa bahwa “sudah melakukan yang benar”, namun pada fakta dan kenyataannya, apakah itu memang benar-benar sebuah ketulusan dan keikhlasan?! Apakah telah dilakukan berdasarkan cinta yang sesungguhnya?! Apakah benar-benar paham apa yang diyakini, dipikirkan, dan diperbuatnya?! Yang paling utama menurut saya, apakah memang sudah benar-benar dipikirkan berdasarkan pemahaman dan pengertian yang sebenarnya dan apakah memang benar-benar tidak ada maksud lain di balik semua perbuatan ini. Satu saja pertanyaan yang ingin sekali saya ajukan kepada mereka yang merasa bermoral, “moral itu apa?”.

Di sisi yang lain, disadari tidak disadari, diakui tidak diakui, kita memang selalu berproses. Kehidupan ini terus saja berputar dan evolusi tidak bisa dihindarkan. Meskipun evolusi itu sendiri bisa memang terjadi secara alami, bisa juga karena memang diatur dan dibuat. Semua tergantung kepada bagaimana mau mempelajari dan memahaminya. Sangat tidak mudah untuk mau mempelajari dan memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan ini, karena kita memang masing-masing memiliki keinginan yang berbeda. Bukan masalah keterbatasan, tapi masalah keinginan. Di mana bila ada keinginan semua juga bisa. Keterbatasan bukanlah halangan bagi seseorang untuk belajar. Kita bisa belajar di mana pun, kapanpun, dengan siapapun, oleh apapun, dan dari apapun juga. Bukankah begitu?!

Pemikiran tentang seks adalah salah satu contoh yang paling konkret dan paling jelas menurut saya. Di mana dulu sekali, persetubuhan merupakan sebuah ritual yang sangat sakral sifatnya, karena persetubuhan ini dianggap dan dipahami sebagai perbuatan yang sangat religius. Tidak sembarang untuk bisa melakukan persetubuhan.. Ada banyak sekali proses dan prosesi yang harus dilewati. Ini juga berkaitan erat dengan pemikiran dan pandangan bahwa bila sebuah perbuatan dilakukan oleh jiwa yang suci dan bersih maka akan menghasilkan kebahagiaan. Perhatikan saja kisah tentang keperawanan, di mana bukan selaput daranya yang menjadikan seseorang itu bisa dianggap suci dan bersih, tetapi perawan berarti memiliki jiwa yang suci dan bersih. Bagaimana dengan sekarang ini?! Sudah berubah kan?!

Di dalam jiwa yang suci dan bersih terdapat kearifan dan kebijaksanaan. Setuju dengan hal ini?! Saya yakin kita semua bisa menyetujuinya. Lalu, apa hubungannya dengan moral?! Pasti banyak yang setuju juga bahwa orang yang arif dan bijaksana adalah orang yang memiliki moral dan bermoral. Yakin?!

Bila kita semua mau mempelajari dan memahami apa itu moral yang sesungguhnya, kita bisa melihat dengan jelas bahwa asas dasar dari moral adalah adil. Nah, sekarang pertanyaan saya, kalau begitu, apakah orang yang tidak berbuat adil bisa dianggap bermoral?! Apakah dengan menuduh yang lainnya tidak bermoral menunjukkan sikap seseorang yang adil?! Apakah dengan merasa lebih bermoral sudah telah berbuat adil?!

Tidak perlu merasa kaget ataupun terkejut dengan ini semua. Ini semua terjadi karena memang ada pergeseran atau telah terjadi evolusi atas pemikiran tentang moral itu sendiri. Semarang ini, moral cenderung lebih dikaitkan kepada agama dan keyakinan. Sementara itu, agama dan keyakinan itu berbeda-beda, sehingga konsep pemikiran dari moral itu sendiri menjadi sangat beragam. Sangat tergantung kepada interpretasi dan persepsi masing-masing, yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan pengertiannya. Tidak semua memiliki tingkat pemahaman dan pengertian yang sama. Lagipula, menurut saya, beragama tidak sama dengan beriman. Menganut agama dan keyakinan tidak selalu berarti beriman. Iya, kan?!

Tidak perlu juga harus merasa heran dengan apa yang terjadi dengan perlakuan terhadap seks sekarang ini. Penghormatan dan penghargaan terhadap seks yang merupakan anugerah serta rahmat terindah yang diberikan oleh-Nya pun sudah tidak diabaikan lagi. Pemikiran tentang seks telah bergeser menjadi pemikiran yang terbatas hanya pada persetubuhan semata. Bercinta dan bersetubuh pun dianggap sama, padahal sudah merupakan dua kata yang berbeda dan masing-masing memiliki arti dan makna sendiri-sendiri. Seks itu sendiri pun menjadi porno dan hanya dinilai dari sisi fisik dan materi saja. Kemana sisi non fisik dan non materialnya?!

Memang sangat mudah untuk memperdebatkan hal ini bila kita hanya melihat apa yang terjadi sekarang ini. Namun akan menjadi berbeda bila kita semua mau melihat apa yang menjadi latar belakang masalahnya dan apa yang menjadi akar dari permasalahan yang ada. Menurut saya, berkutat hanya pada permasalahan yang ada tanpa mencari tahu asal muasal dan penyebab terjadi masalah, tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah secara tuntas. Mungkin saja masalah bisa diatasi, namun sifatnya paling-paling hanya sementara saja dan akan timbul lagi masalah yang sama ditambah masalah-masalah yang baru lainnya. Mau terus menerus menghadapi masalah yang sama?! Nggak bosan?!

Saya juga tidak bisa memungkiri atau menyalahkan keadaan yang terjadi sekarang ini ataupun mencoba menghilangkan dan menyalahkan akar dari permasalahan yang ada. Kenapa?! Karena ini semua adalah bagian dari proses kehidupan manusia, di mana manusia memang sudah seharusnya terus mencari dan mencari. Belajar dari masa yang lalu untuk kemudian dipikirkan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik di kemudian hari. Seperti yang saya tuliskan dalam tulisan saya yang berjudul “Seks dan Kegagalan Era Post Modern. Bagi saya era ini adalah awal dari pergeseran atas pemikiran yang menjadikan terjadinya pergeseran juga atas arti dan makna juga nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. Era ini memang mencoba untuk lebih memodernisasikan manusia dari konsep pemikiran sebelumnya, namun pada fakta dan kenyataannya, justru membuat manusia menjadi lebih terfokus kepada nilai berdasarkan fisik dan materi saja. Nah sekarang, apa yang harus kita lakukan?!

Saya ingin sekali mengajak semua untuk mau bersama-sama berpikir kembali atas semua yang selama ini kita pikirkan dan kita lakukan. Ada baiknya bila kita semua mau sama-sama mengintrospeksi diri terlebih dahulu atas semua ini. Sungguh sangat tidak arif dan tidak bijaksana sama sekali bila kita merasa bermoral namun sama sekali tidak juga mau mengakui kesalahan, mempertangungjawabkannya, dan mau memperbaikinya.Tidak juga mau belajar dan terus belajar untuk bisa lebih memahami dan mengerti tentang semua ini. Tidak juga mau jujur dan mau mengenal siapa dan apakah kita yang sebenarnya. Apalagi kemudian menjadi sombong dan merasa “paling”. Apalah artinya moral kalau memang demikian jadinya?! Apalah artinya semua tuntunan yang diberikan oleh-Nya itu?!

Pasrah terhadap apa yang terjadi dan menyerahkannya kembali kepada kehendak Yang Maha Kuasa menurut saya juga bukanlah berarti kita tidak berusaha. Untuk apa kita diberikan anugerah untuk bisa berpikir dan merasa bila kita tidak mau memanfaatkan ini semua untuk menjadi sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi diri kita sendiri dan juga bagi yang lainnya. Memang lebih nyaman diam karena resikonya tentu saja juga lebih kecil, tidak capek, dan tidak harus menanggung banyak beban. Kalaupun ini semua memang sudah merupakan takdir, paling tidak kita sudah berusaha. Apakah memang kita sudah tidak memiliki lagi tujuan dalam hidup?! Bagaimana dengan kebahagiaan?! Bagaimana dengan semua mimpi dan harapan di masa depan?!

Pertanyaan saya, kok, bisa, ya?! Apa benar ini bisikan dari hati nurani yang paling dalam?! Apa mungkin ini karena ini pemikiran saya saja?! Apa karena menurut saya, ora et labora (berdoa dan berusaha) adalah demikian yang seharusnya dilakukan?! Mungkin juga karena bagi saya, diam memang bisa menjadi emas namun diam juga bisa menjadi sangat menjerumuskan.

Keadaan kita tidak akan pernah bisa berubah bila kita tidak mau melakukan sesuatu. Paling tidak kita memulainya dari diri sendiri dulu. Kita tidak bisa mengubah apapun bila kita sendiri belum berubah. Sekali lagi, jujur dan kenalilah apa dan siapa kita yang sebenarnya. Susah, ya?! Bukan susah barangkali, tapi takut, ya?! Takut mengetahui semua keburukan dan kesalahan diri kita sendiri?! Kalau untuk mengorek dan menunjuk jari keburukan dan kesalahan yang lain, paling berani, kenapa kalau untuk diri sendiri tidak berani?! Alasan untuk membenarkan bisa saja diutarakan, tapi bukankah itu sama saja dengan telah berbuat tidak jujur dan melakukan pembenaran?!

Memang tidak mudah sama sekali untuk mau berusaha apalagi untuk mau memulainya dan untuk mau terus konsisten melakukannya. Butuh perjuangan yang keras untuk bisa melakukannya. Bukan melawan yang lain, tapi melawan ego dan diri sendiri. Jangan pernah bilang ingin ada perubahan bila diri sendiri pun tidak mau berubah!!! Kecuali kalau memang sudah merasa “paling”, itu lain lagi ceritanya.

Ayo semangat!!! Tidak ada yang tidak mungkin!!! Semua adalah mungkin bila kita semua mau sama-sama melakukannya!!!

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

1 Juli 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Jiwa Merdeka, Pendidikan Sosial, Perubahan, Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s