Cinta Angin Lalu

Angin bertiup mendekat mencari kehangatan di tengah badai yang terus saja menerpa. Terkurung oleh waktu di dalam dekapan pencari angin untuk menyegarkan hati dan suasana. Sama-sama saling membutuhkan dan saling memberikan. Hingga saatnya pun tiba bagi angin untuk segera pergi kembali.

Pencari angin sudah mendapatkan kesegaran dan suasananya yang dapat membawanya terbang tinggi. Dia harus kembali kepada posisi dan tempatnya karena waktu pun sudah menantinya. Sementara angin harus kembali menghadapi fakta dan kenyataan yang ada. Dia tak boleh lagi bersembunyi karena bukan di situlah tempatnya berada. Meskipun berat, tetapi memang tidak ada tempat hangat yang dapat menerima angin. Selamanya akan tetap menjadi angin lalu.

Seorang perempuan mendesah dalam dan panjang ketika menyadari bahwa waktunya sudah tiba untuk segera pergi dan kembali menghadapi kehidupannya sendiri. Setelah sekian lama terlena dalam dekapan kehangatan seorang pria yang sangat dicintainya, pada akhirnya, dia pun menyadari posisi dan tempatnya. Dia bukanlah prioritas utama dan bukanlah yang sesungguhnya dibutuhkan oleh pria itu. Dia hanyalah angin lalu yang memiliki cinta untuk diberikan namun tidak akan pernah ada cinta untuknya.

Berjumpa dengan pria itu bagaikan sebuah kemustahilan yang tidak pernah dipikirkan ataupun diduga akan pernah terjadi. Setelah sekian lama sendiri dan kesepian, tak pernah yakin dapat mencintai ataupun dicintai, pria itu berhasil mengubah segala yang ada di dalam hati dan pikirannya. Dia pun menjadi perempuan yang penuh dengan mimpi dan sangat bahagia.

“Saya belum pernah jatuh cinta seperti ini sebelumnya. Saya dulu tidak pernah yakin bahwa saya dapat mencintai seseorang, tetapi dirimu telah membuat saya benar jatuh cinta.”

Terlena dengan segala kenyamanan dan kehangatan yang diberikan, perempuan ini kemudian menjadi ketakutan sendiri. Sebagai seorang perempuan, tentunya selalu ingin mendapatkan cinta, perhatian, kasih sayang, belaian, pelukan, dan memiliki tempat untuk berlabuh dan bermanja. Bagaimana bila tidak mendapatkannya lagi bila sudah terbiasa dengan semua itu?!

“Saya bukanlah siapa-siapa dan bukan perempuan yang mudah untuk dapat dicintai. Akan ada banyak sekali masalah yang harus dihadapi bila terus bersama dengan saya. Sekarang, semuanya kelihatan mudah, tetapi nanti, belum tentu sanggup. Meskipun sudah ada banyak yang dilewati, tapi itu belum seberapa. Ke depannya, akan jauh leih berat lagi. Bagaimana mungkin saya membiarkan dia menghadapinya jika saya tahu ada jalan yang lebih baik dan mudah untuknya?!”

Dia tahu bahwa dia bukanlah perempuan yang bisa mendapatkan tempat sebagai prioritas utama dan diutamakan. Ada banyak hal lain yang lebih penting dan harus diprioritaskan oleh pria itu agar dapat mewujudkan semua mimpi dan keinginannya, dan perempuan itu selalu mendukungnya. Tak ada yang lain yang ingin dilihat dari pria itu selain melihat pria itu menjadi seseorang terbaik yang bisa memberikan banyak kebahagiaan bagi semua. Menjadi pria terhormat yang dihormati dan tidak lagi direndahkan ataupun dikucilkan. Berkah yang diberikan oleh Tuhan kepada pria itu harus dapat diberikan lagi kepada semua.

“Dia adalah seorang bintang yang tidak pernah boleh redup sebelum waktunya tiba. Dia harus dapat memberikan cahaya di dalam kegelapan. Sekecil apapun cahayanya, akan memberikan arti yang besar meskipun seringkali banyak yang tidak menyadari ataupun mensyukurinya.”

Tentunya untuk bisa dapat menjadi yang terbaik dan memberikan kebahagiaan, maka semuanya harus dimulai dari dirinya sendiri dulu dan keluarga. Perempuan ini ingin pria itu yakin atas dirinya sendiri dan mampu untuk mandiri. Selain itu, dia juga harus menjadi seorang pria yang memiliki nilai sempurna di mata anak-anak yang sangat dicintainya. Masalah yang dihadapi bersama istrinya, harus bisa diselesaikan dengan baik. Cinta yang sudah sekian lama ada seringkali terhapuskan dan terlupakan karena situasi dan kondisi, oleh karena itulah mereka harus dapat membangkitkannya kembali.

“Dia seorang pria yang sangat baik hati dan penuh dengan cinta. Situasi dan kondisilah yang membuat dia menjadi sedih, lari, dan bersembunyi. Apalagi, dia adalah pria yang tidak suka dengan pertikaian dan marah-marah. Dia sangat lembut dan sensitif sekali. Seringkali dia lupa bahwa tidak semua dapat mengerti apa yang dipikirkannya terutama bila dia tidak mengutarakan atau menjelaskannya. Dia memang sangat tertutup sekali dan seperti banyak yang disembunyikan. Inilah yang membuat saya semakin merasa bahwa saya sangat tidak berarti.

Saya pun tidak ingin dia mendapatkan predikat buruk ataupun menjadi buruk di mata yang lain, terutama anak-anak dan istrinya. Saya sudah salah karena saya telah mengambil dia dari mereka. Perempuan mana yang rela bila suaminya memiliki yang lain?! Anak mana yang mau melihat ayahnya bersama perempuan lain selain ibunya?! Sekarang semuanya bisa disembunyikan, tetapi sampai kapan?! Bisa saja terus ditutupi tetapi saya tidak nyaman dengan segala dusta yang ada. Saya ingin terlepas dari persembunyian dan segala kebohongan.

Dia tidak boleh nakal dan dia memang sebetulnya tidak nakal. Dia harus kembali menjadi yang terbaik dan selalu memberikan yang terbaik.”

Sekarang saya yang mendesah dan menarik nafas panjang dan dalam. Aduh!

Sungguh tidak mudah untuk memulai sebuah hubungan, apalagi bila hubungan tersebut sudah dimulai dengan banyak hal yang ditutupi dan disembunyikan. Resikonya terlalu besar dan akan selalu ada masa dan waktu di mana sedih serta duka terjadi. Barangkali bagi yang tidak peduli, tidak menjadi masalah. Lain ceritanya bagi yang sangat perasa dan peduli akan hal ini.

Hal yang paling membuat sedih di dalam sebuah hubungan adalah pada saat kita menjadikan dia sebagai prioritas utama dan selalu kita prioritaskan sementara kita sadar penuh bahwa kita ini hanya menjadi opsi kedua, ketiga, dan seterusnya. Tidak akan pernah menjadi yang utama dan tidak akan pernah diutamakan. Yah, bisa dikatakan, kita hanya menjadi sebagai angin lalu yang ditangkap bila dibutuhkan dan akan dilepaskan kembali begitu waktunya tiba. Itu adalah resiko bila memiliki hubungan dengan seseorang yang sudah berkeluarga.

Tidak mungkin untuk memberikan pilihan, kecuali bila memang kita egois dan ingin menguasai. Itu sangat tidak baik juga. Tidak mungkin juga untuk perempuan yang tidak ingin menjadi nomor dua atau diduakan untuk meneruskannya, karena dia pun tidak mau bila pria itu kelak melakukan kenakalan yang sama, apalagi bila sudah memiliki pengalaman buruk sebelumnya tentang hal ini baik sebagai istri, pacar, ataupun sebagai anak. Siapa yang pernah tahu cinta kapan datangnya dan kapan berakhirnya, iya kan?!

Perempuan adalah penentu di dalam sebuah hubungan. Meski pun pria dominan dan pempimpin, namun tetap saja perempuanlah yang sangat menentukan. Oleh karena itu, pilhan ada di tangan perempuan. Melanjutkan atau tidak, sama-sama memiliki resikonya masing-masing. Tidak melanjutkan berarti harus berani melepaskan  diri dari semua kenyamanan dan siap untuk menghadapi diri sendiri dengan segala keinginan dan kebutuhannya. Bila melanjutkan, maka harus siap juga menerima fakta dan kenyataan bila pria yang dicintainya itu tidak bisa menjadi yang terbaik dan memberikan kebahagiaan bagi semua. Toh, tidak semua keinginan dapat selalu diperoleh.

“Saya cinta dia dan sangat cinta. Saya tidak bisa memungkiri isi hati saya. Tubuh saya dipenuhi oleh dirinya. Namun begitu, saya juga tidak ingin dia kehilangan apa yang seharusnya dia miliki dan dapat dia berikan. Lebih baik saya tidak melanjutkan hubungan kami sebagai kekasih. Saya sudah merasakan apa yang terindah darinya dan itu lebih dari cukup untuk saya. Saya akan tetap menjadi sahabat terbaiknya yang akan selalu mendukungnya hingga semua mimpi dan cita-citanya terwujud. Saya ingin dia terus menjadi yang terbaik dalam bekerja, berkarya, dan berkeluarga. Biarlah saya mencintai dia dan memberikan cinta saya tanpa harus bersamanya sebagai kekasih. Saya tidak mau lagi mimpi di siang bolong, saya harus siap menerima fakta dan kenyataan serta menghadapinya. Sendiri. Saya harus bisa dan mampu untuk dia. Saya bukanlah cintanya dan saya bukanlah siapa-siapa.Dia akan selamanya ada di dalam hati saya.”

Cinta angin lalu yang meski datang hanya sebentar saja dan lalu berlalu tetap memiliki cinta yang diberikan untuk semua dan masa depan. Benih-benih yang tersebar selalu memiliki harapan baru yang lebih baik lagi.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

14 Mei 2012

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Cinta Angin Lalu

  1. Dewi says:

    Semua cerita itu sgt membuat ku… kuat… terimakasih mbak mariska….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s