Menuju Bukit Keputusan

Ingin hati dapat berkata yang sebenarnya tentang bagaimana perasaan yang ada di dalam hati. Situasi dan kondisinya yang sulit membuat semua yang sudah ada di ujung lidah itu pun terpaksa ditelan kembali. Membuat hati menjadi gelisah dan seringkali marah tak karuan, meledak, dan tak mampu mengendalikan diri. Haruskah sebuah keputusan itu diambil?!

Rasa rindu begitu memuncak mengiringi waktu yang terus berjalan tanpa pernah berhenti.  Kebersamaan yang terjalin begitu indahnya, tertanam di dalam hati, jiwa, dan sekujur tubuh hingga tak kuasa untuk tidak menginginkannya kembali. Apa daya, semua itu hanya bisa menjadi sebuah keinginan yang bahkan terlalu indah untuk dimimpikan.

“Saya rindu.”

“Saya juga rindu.”

“Mungkinkah kita berjumpa?”

“Ada yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Nanti ada waktunya kita berjumpa kembali.”

Mimpi itu pun berhenti,  apalagi komunikasi menjadi kian terhambat dan sulit. Sementara itu, ada banyak kisah dan cerita di dalam setiap waktunya, yang menjadi beban berat di luar kemampuan. Tak tahu mau bicara ke mana, semuanya hanya disimpan di dalam hati. Hingga akhirnya pun meledak dan tidak lagi mampu untuk dikendalikan.

Rasa sakit yang terus saja mendera namun tersimpan itu, seringkali mengurung hati, jiwa, dan pikiran. Tidak mudah untuk melepaskannya meski pun sadar bahwa hanya diri sendiri yang dapat melakukannya, Bantuan dukungan berupa cinta, kasih, dan perhatian akan sangat membantu dan menolong. Sekali lagi, apa yang dibutuhkannya itu pun tidak diberikan.

“Bukannya tidak mau, tetapi tugas ini harus diselesaikan.”

“Bantulah saya melepaskan diri dari semua ini.Jika tidak, maka saya akan terus seperti ini.”

“Pikiran saya menjadi kacau balau dan saya tak mampu mengerjakan apapun jika kamu terus marah.”

“Apakah pekerjaan dan tugas itu lebih penting dari saya? Apakah saya hanya menjadi perusak dan pengganggu saja?! Apakah lebih baik saya pergi dan menghilang saja agar dirimu bisa lebih bebas tanpa beban?”

“Saya tak akan mampu membuat tugas ini bila dirimu tidak membantu saya.”

“Mengapa dirimu tidak membantu saya dulu? Jika saya sudah tenang, saya akan mampu membantu dirimu seperti biasanya. Yang saya butuhkan hanya bertemu dan bicara saja sejenak untuk menenangkan diri.”

“Saya ingin sekali ke sana, tetapi saya pun terikat dengan pekerjaan dan tugas yang harus diselesaikan. Jika dirimu pergi, maka percuma saja saya menyelesaikan semua ini. Saya membuat ini pun karena dirimu.”

Cinta itu begitu besar dan dengan semampunya, apa yang menjadi masalah itu diatasi sendiri. Semua dilakukan agar tak lagi menjadi pengganggu dan pekerjaan serta tugas itu pun diselesaikan. Prioritas tetaplah yang utama. Bintang tergenit harus tetap terus bersinar meskipun hanya kecil dan dari kejauhan. Biar bagaimana pun juga, tugas dan pekerjaan itu menyangkut masa depan dan jauh lebih penting. Apalah artinya seseorang dalam kehidupan bila ada banyak yang lain yang membutuhkannya?!

Sayangnya, tidak semudah itu. Sekuat dan semampu apapun seorang manusia, tetap saja harus ada yang membantu. Ingin sekali dapat mengatakan betapa diri membutuhkannya, namun tetap saja tidak mungkin. Seorang pengganggu tidak akan dapat membantu. Malah akan terus merusak dan menghancurkan.

Pergi pun bukan pilihan yang dapat dilakukan meski itu bisa saja dipilih bila memang ingin melepaskan diri. Siapa yang pernah tahu ke depan, bila mau membuka hati dan diri untuk yang lainnya. Hati tetap saja tidak dapat dipungkiri. Tak akan pernah mampu melihat yang sangat dicintainya menjadi hancur berantakan. Meskipun bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, dan bukan juga yang patut untuk dipikirkan dan diprioritaskan, bila sekiranya dapat membantu, semua akan diberikan.

“Jika diedit di komputer itu, pasti akan seindah aslinya. Tapi apa dayaku? Nantilah berbuah pohon uang di sawah pada saat purnama ke tujuh.”

“Jangan menyerah hanya karena apa yang tidak dimiliki. Bersyukur dan manfaatkan maksimal apa yang ada. Pelan-pelan dirintis untuk menggapai yang sempurna.”

“Saya tidak akan lagi bercerita soal kendala jika itu bermakna mengeluh. Hanya kepada dirimulah saya bercerita. Jika cerita saya ini membuat saya menjadi si pengeluh, maka saya tidak akan bercerita lagi.”

“Bukankah kita harus saling mengingatkan satu sama lain?! Bukankah memang itu yang selama ini kita biasa lakukan?!”

“Janganlah marah dulu. Saya kerap ingatkan dirimu untuk tidak marah karena jika dirimu marah maka struktur kepala saya tidak bisa bergerak. Jika pun duduk di hadapan lap top maka tetap saja hasilnya jelek. Jika dirimu marah-marah juga, saya tak mampu melarangnya.”

“Saya tidak marah. Saya bermaksud ingin membuatmu tetap semangat. Mungkin barangkali lebih baik kita tak berkomunikasi dulu hingga dirimu dapat menyelesaikan pekerjaan dan tugasmu, dan saya mampu mengendalikan diri saya.”

“Tidak usah berhenti komunikasijuga saya tidak akan mengeluh lagi. Saya akan maksimalkan apa yang ada di diri saya untuk melakukan apa yang harus saya lakukan.”

“Sensitifnya kita berdua, ya?!”

Seandainya saja mampu berkata yang sebenarnya, ingin rasanya menjerit. “Tolong, jangan selalu membuat diri ini semakin tertekan dengan rasa bersalah yang selalu dirimu berikan kepada saya. Saya berusaha mengerti, tetapi mengapa sulit sekali bagi dirimu untuk mengerti apa yang saya derita sekarang ini? Tidak adakah sedikit pun empati ataupun sedikit saja kasih sayang yang mampu membangkitkan diri dari segala keterpurukan yang sedang melanda?!”

Tidak semua manusia sama dan tidak semua dapat selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Perhatian yang sudah barangkali dianggap cukup, seringkali justru dianggap tidak pernah cukup. Bentuk perhatian pun sudah berbeda, sehingga hal ini kerap menjadi masalah. Hanya kesadaran bahwa tidak semua yang diinginkan itu dapat diperolehlah yang mampu untuk tetap membuat diri tersadar dan mengendalikannya.

Adalah sesuatu yang seharusnya dianggap wajar bila dalam situasi dan kondisi tertentu, manusia tidak mampu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Bila diri sendiri merasakan hal yang sama dan membutuhkannya juga, lantas mengapa yang lain tidak mau diberikan?! Apakah karena diri sendiri dan yang lain itu benar lebih penting?! Tidak perlu heran bila kemudian rasa kehilangan pun muncul dan pikiran semakin ke mana-mana. Apalagi bila sendiri dan tidak ada yang lain yang membantu.

Beruntung bila ada yang lain yang datang dan masuk. Pada saat demikian, tentunya sangat mudah bila ada yang lain, tetapi bagaimana bila semua itu tidak diinginkan juga? Meskipun ada yang datang, hati tetap selalu dijaga hanya karena cinta yang ada. Namun, hingga kapan semua ini dapat bertahan? Bila hanya satu sayap saja, maka kupu-kupu pun tidak akan dapat terbang. Apakah karena karena “kita” memang bukan kupu-kupu lagi?! Tidak ada lagi kesepasangan itu?!

Semua pasti ada saat dan waktunya bila memang sudah tiba. Kita adalah apa yang kita pikirkan dan apa yang kita lakukan. Semoga saja semua siap dengan segala resiko dan konsekuensinya karena itulah yang paling sulit dan menakutkan.

Seandainya saja masih ada keinginan dan kemauan yang disertai usaha dan perjuangan untuk diberikan, cinta itu tak akan pernah hilang. Meskipun cinta tetap ada, tetapi selalu ada kata cukup. Yang berlebihan tidak pernah baik, bukan?!

Bukit telah didaki. Apapun itu, biarpun lidah telah menjadi pilu dan kaku, keputusan akan selalu tetap diambil. Semoga yang terbaik dan terindah bagi semua meskipun itu pahit terasa.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

11 Juni 2012

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Menuju Bukit Keputusan

  1. Mahesa says:

    Bagus, mbak, dan selalu bikin senyum.
    salam.😀

  2. asef says:

    a beautifull ………………………………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s