Pergilah Dengan Cinta

Illustrasi: jackielrobinson.com

Besarnya cinta yang ada di dalam diri dan dengan kesadaran penuh atas segala kekurangan, membuat diri lebih memilih untuk membiarkannya pergi. Semua itu akan menjadi lebih indah daripada mempertahankan tetapi membuat salah satu menjadi tidak merasa nyaman. Indahnya cinta lebih terasa justru pada saat perpisahan pun terjadi, ketika cinta itu masih ada.

Tentunya tidak ada satu orang pun yang senang dengan pertengkaran, konflik, masalah, dan kemarahan. Damai, tentram, nyaman, dan kemesraan selalu menjadi yang diidamkan dan diinginkan. Habis waktu dan energi percuma saja bila ada pertengkaran, konflik, masalah, dan kemarahan. Apalagi bila semua itu tersimpan di dalam hati dan menjadi mendalam serta membekas. Sama sekali tidak enak rasanya.

Seorang ayah pernah berkata kepada putrinya, “Saya ini seorang pria dan seorang pria seperti saya, tidak akan pernah mau menjadi suami atau bahkan pacarmu! Tidak akan ada seorang pria pun yang sanggup dan tahan dengan sikap dan perilakumu itu.”

Bagi sebagian orang, tentunya akan menganggap ayah itu sangat kejam namun di mata putrinya, ayah itu benar sekali. Mana ada pria yang sanggup dan tahan dengan perempuan yang memiliki perangai dan perilaku tidak baik? Bukan soal kehidupan pribadinya dengan pria, tetapi karena dia memiliki perilaku dan sikap yang berbeda dengan yang pada umumnya. Ada masa dan waktunya, di mana seringkali dia tak mampu mengendalikan dirinya dan menjadi tidak karuan. Diam, marah, menangis, depresi, kabur dan pergi tanpa tahu arah dan tujuan, atau mengurung diri berbulan-bulan tanpa mau keluar rumah sedikit pun. Semua terjadi begitu saja tanpa sebab dan alasan yang jelas.

“Saya ini sakit. Saya menderita satu penyakit syaraf yang tak mungkin dapat disembuhkan. Meskipun penyakit ini dapat hilang dalam jangka waktu lama tetapi dapat muncul tiba-tiba dalam jangka waktu yang tak tentu. Saya sadar penuh dengan penyakit ini dan saya pun tetap sadar pada saat saya kambuh, saya tidak gila dan hilang ingatan. Hanya saja, sulit sekali bagi saya untuk dapat mengendalikan diri dari segala kesedihan dan ketakutan.

Di sisi lain, saya memiliki trauma yang sangat besar sepanjang kehidupan saya. Saya melihat dan merasakan banyak hal yang seharusnya tidak pernah terjadi dalam kehidupan ini. Saya jadi dipenuhi dengan benci dan amarah. Saya pun jadi sering ketakutan sehingga saya tidak lagi mau tahu dan tidak peduli. Saya sering ingin pergi saja dari dunia ini. Ya, saya sering ingin mati saja.

Salah satu penyebabnya, seperti yang pernah dikatakan oleh psikiater yang menangani saya, adalah karena saya memiliki intelijensia yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata orang lainnya. Perkembangan jiwa dan umur tidak sesuai dengan kapasitas dan kemampuan berpikir serta daya serap. Sehingga membuatnya menjadi tidak seimbang dan seringkali sulit untuk dikendalikan.

Barangkali bagi kebanyakan orang, memiliki anugerah fisik yang menarik, intelejensia yang tinggi, dan memiliki banyak berkah dari segi materi dan duniawi sangatlah membahagiakan. Namun bagi saya, justru semua itulah yang membuat saya menjadi tersiksa. Saya tak mampu menikmatinya. Saya malah sering menyalahkan Tuhan, kenapa Dia memberikan saya semua itu.

Oleh karena itulah, saya juga sadar penuh bahwa saya tidak akan pernah mendapatkan cinta. Secinta-cintanya seorang pria kepada saya, dia tidak akan pernah sanggup dan tahan menghadapi saya. Apalagi jika dia sudah pernah tahu pada saat saya sedang “kumat”, mereka pasti akan takut atau merasa tidak nyaman.

Saya mengerti sekali, dan saya pun tidak pernah ingin membuat mereka susah, sedih, ketakutan, atau merasa tidak nyaman dengan saya. Lebih baik mereka pergi saja, mencari dan bersama yang lain. Saya pun tidak akan merasa nyaman bila mereka tidak nyaman. Lebih baik saya sendiri saja, barangkali memang sudah seharusnya demikian. Saya sudah memiliki segalanya, jadi saya tidak pernah berhak untuk mendapatkan dan memiliki yang lebih dari itu.”

Saya jadi teringat dengan kata-kata seorang pria yang pernah berkata kepada saya, “Saya tidak mau kita bertengkar. Saya mau kita baik-baik saja. Asli, tidak enak banget bertengkar. Bukan tipe saya banget. Dengan orang lain pun saya tidak mau bertengkar apalagi dengan orang yang sangat menyayangi saya.”

Saya jadi terpikir, betapa sulitnya menjadi perempuan itu bila memang semua orang “normal” dan “waras” tidak bisa dan tidak mau menghadapi saat dan waktu yang terisi dengan pertengkaran dan amarah. Mereka yang sabar sekali pun, akan sangat sulit sekali jadinya. Malah bisa jadi, akan serba salah dan bingung. Hmmm….

“Saya ingin kita baik-baik saja. Bukankah kita jadi tidak bisa apa-apa bila kita tidak saling memberi semangat?!”

“Ya, tetapi saya lebih tidak bisa apa-apa jika saya tahu dirimu tidak merasa nyaman dengan saya. Yang baik-baik saja menurutmu, belum tentu juga membuat saya nyaman. Saya tahu, selalu akan ada masa dan waktunya di mana saya tidak baik-baik dan itu pasti akan membuatmu susah. Saya tidak ingin kamu susah apalagi karena saya.”

Entahlah, untuk kali ini, saya tidak sanggup juga untuk dapat mengerti kenapa semua ini harus terjadi. Saya selalu yakin bahwa cinta mampu mengalahkan segalanya, tetapi manusia adalah makhluk yang tidak sempurna dan memiliki banyak sekali kekurangan serta keterbatasan. Apa yang menjadi kelebihan itu pun belum tentu benar menjadi kelebihan, bahkan bisa menjadi sebuah kekurangan di sisi yang lain. Lagipula, seringkali cinta tak bisa bersama ataupun harus bersama. Cinta dapat selalu diberikan dalam bentuk dan cara apapun juga, walau hanya dalam sebatas doa dan kerinduan. Bila semua itu tulus adanya, cinta pun akan memenuhi diri dan tak akan pernah lekang oleh ruang dan waktu.

Bila harus disebutkan bahwa semua ini adalah takdir, maka mungkin inilah yang disebut dengan takdir yang tak dapat diubah. Namun demikian, kita tak pernah tahu apa rencana Dia ataupun apa yang akan terjadi nanti. Saya selalu yakin, yang terbaik dan terindahlah yang selalu diberikan oleh-Nya. Susah atau pun senang, bukanlah menjadi sesuatu yang membuat manusia berhenti melangkah dan berjalan. Semuanya memiliki tujuan dan tidak ada yang tidak mungkin bila Dia merestui dan mengijinkannya.

“Pergilah dengan cinta. Biarlah kita berpisah ketika cinta kita ini masih ada. Cinta itu akan selalu ada dan ada selalu. Berbahagialah dirimu selalu dan semoga Yang Maha Kuasa selalu memberkatimu dengan segala yang terbaik dan penuh keindahan cinta. Dirimu adalah yang terbaik, yang diberkati, dan yang penuh dengan rahmat dari-Nya. Yang terbaik dan terindahlah yang pantas untukmu. Saya bukanlah yang terbaik dan saya tidak akan pernah mampu memberikanmu yang terbaik, terindah, dan yang pantas untukmu. Pergilah, sayang! Biar bagaimanapun dan sampai kapan pun, saya akan selalu mencintaimu. Cinta saya hanya untukmu. Saya akan selalu hadir untukmu, mendampingimu, dan memberikan segala yang mampu saya berikan untukmu, meski dalam ruang yang berbeda.”

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

24 Juni 2012

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s