Seandainya Waktu Berputar Kembali

Bila saja waktu dapat berputar kembali, mungkinkah semua yang dimimpikan itu dapat terwujud? Akankah ada kesempatan untuk memperbaiki dan mengulanginya lagi? Atau mungkin semua itu baru akan terwujud di hari esok? Ah! 

Setiap kali mengingat masa yang lalu, hati ini seperti dipenuhi dengan berbagai macam rasa yang bercampur aduk tak karuan. Apalagi jika mengenang tentang seseorang yang pernah ada di dalam hati,  aduh rasanya sedih banget! Belum lagi jika ada yang belum sempat disampaikan dan diutarakan atau ada yang masih mengganjal dan belum terselesaikan, wah, semakin sedih sekaligus gemas dan menyesal. Seandainya saja waktu itu….

Sepasang insan yang sudah lama berpisah bertemu kembali di sebuah jejaring sosial dunia maya. Awalnya mereka enggan dan ada ragu untuk kembali saling menyapa karena mereka berdua berpikir masing-masing sudah memiliki pasangan dan keluarga. Namun demikian, rasa rindu itu begitu kuatnya, terlebih lagi situasi dan kondisi mereka berdua sedang dalam masa-masanya. Usia mereka sudah cukup matang dan dewasa untuk memilih dan menentukan sikap serta lebih percaya diri. Mereka sudah tahu apa yang diinginkan dan diakui tak diakui, disadari tak disadari, mereka sedang terjebak dalam kejenuhan serta rutinitas yang membuat mereka lelah dan bosan. Hingga akhirnya mereka pun kembali saling bercerita dan mengingat masa yang telah mereka lalui bersama.

“Masih ingat nggak dulu kita suka pergi makan bakso di jalan itu.”

“Ingat, dong! Waktu itu kamu kan pernah sok-sok traktir dan banyak uang, nggak tahunya kurang.”

“Waduh! Iya! Hahaha…. Aib banget, tuh! Kamu masih ingat saja, sih?”

“Hahaha…. Ya, iyalah! Siapa yang bisa lupa?!”

Kenangan demi kenangan terus dibuka kembali. Semakin lama hati semakin bergetar bila hendak menyapa. Ada rindu yang kian mendesak bila dia tiada menyapa dan perasaan bahagia begitu meluapnya bila dia hadir. Persis seperti ketika mereka masih muda dulu.

“Kenapa, sih, kamu dulu putusin saya?”

“Kenapa, ya? Lupa, tuh!”

“Tahu nggak, sampai sekarang saya masih penasaran banget. Perasaan waktu itu hubungan kita baik-baik saja, tapi tiba-tiba kamu putuskan dan pergi begitu saja. Apakah gerangan yang terjadi?”

“Hmmm…. Kamu pasti tahu.”

“Nggak! Beneran!”

“Memangnya kamu nggak dengar dari teman-teman?”

“Ya, saya cari tahu juga. Katanya, kamu bertemu dengan pria lain yang jauh lebih baik dari saya. Pria yang ideal menurut keluargamu. Apa benar?”

“Ih! Nggak, deh!”

“Tuh, kan…. Kamu bohong! Lantas kalau begitu kenapa, dong?!

Semakin lama semakin mendalam pembicaraan dan semakin juga terbuka segala susah dan sedih. Perhatian yang diberikan membuat hati semakin berbunga-bunga. Kenangan yang indah itu seperti benar datang kembali. Waktu yang hilang seolah berputar.

“Saya sebetulnya masih sering merindukanmu.”

“Saya juga.”

“Ah, yang betul?! Bisa saja, nih!”

“Iya, betul. Saya masih sayang kamu, kok! Saya tak bisa melupakanmu.”

“Hmmm… Seandainya saja waktu itu kamu tidak putusin saya, mungkin sekarang kita masih bersama….”

Dunia maya sudah tak sanggup lagi menahan waktu. Keinginan untuk bertemu kembali di dunia nyata tidak dapat dihindarkan. Meski sama-sama tahu resiko yang dihadapi, tetapi dorongan itu begitu kuat. Bahkan, mimpi untuk memadu cinta di peraduan sudah membuat keduanya gelisah. Bila dulu mereka belum pernah melakukannya, kini ada celah dan kesempatan untuk itu. Anak dan pasangan yang masih terikat pun tak mampu lagi menghalangi. Apalagi, salah satu dari mereka ternyata sudah sendiri, dia tak lagi memiliki pasangan hidup.

Pada saat bertemu, tentunya ada yang berubah. Usia yang bertambah tak bisa ditutupi. Bentuk badan, raut wajah, dan penampilan sudah berubah namun tatapan mata dirasa masih tetap sama. Tak membutuhkan waktu lama, maka mimpi yang dulu pernah sering diimpikan itu pun terwujud dan terjadilah. Mereka pun merasa semakin jatuh cinta dan tak mau berpisah lagi. Mereka tak ingin mengulangi kesalahan di masa lalu dan ingin tetap bersama.

Begitu keduanya harus berhadapan dengan fakta dan kenyataan bahwa salah satu dari mereka masih terikat dengan pasangan dan keluarga, masalah pun mulai muncul. Tuntutan atas status dan kejelasan akan hubungan dan masa depan kian merongrong. Mimpi untuk dapat selalu bersama menjadi keharusan atas sebuah perwujudan mimpi. Meskipun tahu akan sulit, tetapi apa yang tidak mungkin bila memang mau?!

Di sisi lain,  nyali untuk melepaskan dan memilih salah satu juga tidak ada. Terlalu besar pengorbanan yang harus dipertaruhkan bila harus memilih. Belum lagi ada anak-anak yang tidak bersalah dan terlalu berat bila mereka memikul beban atas kesalahan yang dilakukan. Memiliki keduanya bukanlah sesuatu yang tidak mungkin bila mau mengalah dan mengerti. Jika sudah begini, lantas harus bagaimana?!

Sebagian orang pasti akan menyalahkan mereka yang dianggap sudah berbuat tidak baik, melakukan perselingkuhan, mengganggu rumah tangga orang lain, dan sudah malakukan perbuatan yang dilarang oleh agama. Sementara ada sebagian lagi yang justru larut dalam suasana cinta atau justru berusaha menjadi rasional dengan berbagai alasannya. Bahkan mungkin ada yang mengatakan bahwa itu adalah puber kedua dan maklum bila itu terjadi. Bagi saya, semua itu adalah pelajaran yang sangat berharga dan merupakan proses menuju pencarian kebahagiaan sejati. Mengapa?!

Seiring bertambahnya usia maka proses pendewasaan pun semakin menuju puncaknya. Pada saat seperti ini maka akan ada banyak sekali timbul keinginan-keinginan terutama untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dan diperbuat. Sayangnya, terlalu sulit bagi kebanyakan orang untuk mau merendahkan hati dan mengakui kesalahan itu, malah justru melemparnya dengan berbagai pembenaran. Sehingga kemudian hidup tak lagi maju ke depan tetapi malah mundur ke belakang, apalagi jika kesempatan dan celah itu terbuka lebar. Meski sudah di usia matang pun sesungguhnya masih banyak yang belum mampu menjadi dewasa dan mengendalikan diri.

Rutinitas dan kejenuhan di dalam keseharian memicu hal ini terjadi, terutama bila hubungan dengan pasangan sudah dirasa datar dan biasa saja. Tidak ada lagi tantangan yang mampu memicu gairah agar tetap hidup. Padahal, adrenalin itu sangat dibutuhkan untuk dapat meningkatkan libido dan membuat gairah terus ada dan ada terus. Rasa cinta juga kian menghilang karena sudah tidak ada lagi romantisme di dalamnya dan sama-sama sudah merasa saling tahu dan kenal.

Komunikasi yang dianggap baik dan berjalan serta terbuka itu pun sebenarnya tidak pernah demikian. Jarang sekali pasangan yang sudah lama berpasangan mau bicara tentang “cinta kita”, biasanya komunikasi berkutat tentang diri sendiri, anak, teman, keluarga, kantor, pekerjaan, bangsa, negara, dunia, dan lajn sebagainya. Rayuan yang genit dan menggida juga hampir tidak pernah dilakukan lagi. Urusan ranjang menjadi hanya sebuah kewajiban dan pemenuhan atas kebutuhan semata.

Tidak mengherankan bila ada yang berubah seiring dengan datangnya tantangan baru. Apalagi jika dipikir, ada cinta di dalamnya dan belum usai. Selain itu, faktor resiko karena belum pernah bertemu sebelumnya juga hilang. “Dia bukan orang lain. Saya sudah kenal dia sebelumnya, jadi saya sudah tahu dia seperti apa,” kira-kira begitu, kan?!

Saya memiliki kesimpulan tersendiri bahwa sebenarnya banyak di antara kita yang tidak jujur di dalam berpasangan. Banyak yang menikah karena faktor-faktor lain di luar cinta, seperti status, kedudukan, posisi, uang, kenyamanan, kebutuhan, dan keluarga serta nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. Kita menikah tetapi bukan dengan yang kita cintai dan mengabaikan suara hati yang tak pernah bisa berdusta itu. Memilih untuk tetap berpasangan juga karena berbagai pertimbangan meski merasa sudah tidak bisa melanjutkannya kembali. Nyali untuk memilih dan komit dengan pilihan itu saja sulit, maunya semua dapat tapi tidak mau menghadapi resikonya. Jika memang ada masalah dengan pasangan dan ingin terus, kenapa tidak diperbaiki? Jika merasa sudah tidak bisa lagi, kenapa takut untuk berpisah?

Anak tidak bisa dijadikan tameng karena biar bagaimana juga, anak mampu merasakan yang sebenarnya. Anak bukan hancur karena keluarga yang tercerai berai tetapi karena kedua orang tua yang tidak mau saling merendahkan hati dan memprioritaskan kebutuhan anak, serta mengesampingkan masalah yang ada di antara mereka demi anak. Banyak sekali anak yang bermasalah walaupun kedua orang tua mereka tetap bersama dan banyak sekali anak yang justru lebih hancur karena tidak ada keharmonisan di antara kedua orang tua mereka. Mereka juga banyak yang belajar dan meniru perilaku orang tua mereka dan menganggap bahwa semua itu benar untuk dilakukan.

Berapa banyak anak yang mengertinya bahwa cinta itu ada lewat pukulan dan caci maki?! Berapa banyak anak yang mencari perhatian dan kasih sayang di tempat lain karena orang tua mereka sendiri pun tidak saling memberikan kasih sayang dan cinta?! Berapa banyak anak yang kecewa karena mengetahui orang tuanya sudah berdusta antara satu dengan yang lainnya?! Jangan korbankan anak! Bertanggungjawablah dan dewasalah!!! Jika memang masih ingin bersama, kembalikanlah cinta yang ada dan buatlah keluarga yang harmonis!

Apa yang terjadi pada pasangan di atas belum terlalu rumit, bagaimana bila pasangan mengetahui perselingkuhan yang terjadi?! Mampukah mengatasinya dengan baik atau kemudian akan ada lagi cerita cinta yang belum selesai dan tuntas?! Mau sampai kapan hidup demikian?! Seharusnya, pada usia yang sudah cukup matang, seseorang lebih mampu mengambil keputusan tegas. Hidup ini mengalir dan harus dinikmati?! Betul tetapi belum tentu yang lan, termasuk pasangan kita sendiri memiliki perasaan dan pemikiran yang sama. Setiap manusia memiliki keinginan dan kebutuhannya masing-masing. Bayangkan, bagaimana bila posisinya dibalik?! Sanggupkah?!

Cobalah untuk tidak menjadi rakus dan maruk yang merasa mampu memiliki semuanya. Bila takut dengan prosesnya, lebih baik bercermjn terlebih dahulu. Roda terus berputar dan masalah akan kembali sama bila masalah pada diri sendiri tidak diselesaikan terlebih dahulu. Jangan pernah salahkan yang lain, tetapi beranikan diri untuk mengakui kesalahan dan menempuh proses untuk memperbaikinya. Komit! Hanya itu saja kuncinya, kok!!!

Hidup dipenuhi dengan bayang-bayang masa lalu hanya akan menghambat perjalanan kita ke depan. Masa lalu memang tak boleh dilupakan karena masa lalu adalah pijakan menuju masa depan. Apa yang terjadi pada pasangan itu merupakan sebuah pelajaran yang sangat berharga sekali untuk mengingatkan kita bahwa waktu yang berputar kembali belum tentu mampu mewujudkan mimpi yang dulu pernah ada.

Jika memang benar ada cinta, bukan masa lalu lagi yang hanya harus diingat karena cinta tak akan pernah hilang dan lekang oleh waktu. Bila direstui dan diijinkan oleh Yang Maha Kuasa, masih ada masa depan yang menanti. Siapa yang tahu semua mimpi itu akan terwujud di kemudian hari?! Tentunya memang perlu usaha, kerja keras, pengorbanan dan keyakinan penuh. Tidak ada yang tidak mungkin bila memang mau dan berjuang serta menempuh setiap prosesnya. Tinggal yang mana yang mau dipilih dan kembali lagi, sanggup dan beranikah untuk berkomitmen?!

“Maafkan diri ini yang tak juga mampu meninggalkan dia dan juga dirimu. Terima kasih atas cinta yang telah dirimu berikan meskipun dirimu tahu bahwa saya sudah ada yang lain. Sekarang atau nanti akan tiba masa dan waktunya. Seandainya waktu dapat berputar kembali ke masa lalu pun, tidak akan pernah ada yang berubah. Hari esok adalah yang menjadi tujuan kita saat ini. Pilihan itu ada dan sekarang adalah waktunya kita menentukan. Semoga yang terbaik dan terindah selalu diberikan oleh-Nya untuk kita berdua.”

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis
4 Juli 2012

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Seandainya Waktu Berputar Kembali

  1. Endrow alex says:

    wah makasih bgt atas tulisan yg bermanfaat bgt bwt q ini.
    krn tulisan ini sama persis dengan yg q alami skarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s