Dari Pria Sebuah Rasa

Hidup ini penuh sekali dengan kejutan di luar dari yang pernah diperkirakan atau dipikirkan sebelumnya. Sebuah permainan kejujuran dan tantangan memunculkan seorang pria dengan sebuah rasa begitu saja ke dalam kehidupan nyata. Ya, pria dengan sebuah rasa.

Sofa merah menggugah mata untuk memperhatikan dengan lebih seksama. Pemandangan wajah yang sedang berpangku tangan di atasnya membuat mata menjadi lebih tergoda lagi. Jas hitam dan kemeja putih yang dikenakannya sangat berpadu dengan sekitar. Wajah tampan rupawan dengan sedikit senyum nakal dan pandangan mata genit, membuat bibir tak kuasa untuk tersenyum. Hmmm….

“Truth or dare?”

“Truth!”

“Kapan terakhir kali kamu berhubungan intim dengan perempuan?”

“Sebulan yang lalu dengan seseorang yang bisa dianggap pacar.”

“Kok, gitu? Memangnya dia bukan benar-benar pacar?!”

“Saya orang yang paling takut dengan komitmen. Kami hanya bertemu sesekali saja dan tidak intens.”

“Oh, begitu. Tapi kamu tidak bisa, kan, kalau tidak ada perempuan.”

“Ya, iyalah! Truth or dare?”

“Hahaha….”

Demikianlah waktu terisi dengan permainan yang terus dimainkan dan menjadi semakin seru. Topik demi topik dibahas satu persatu dengan penuh kecerdasan dan kecerdikan. Seks dan kanibalisme pun bisa menjadi topik yang sangat menarik. Pria sebuah rasa mampu mengemas sebuah keseriusan dengan jalan yang dipenuhi dengan humor cerdas.

Saya jadi berpikir tentang pria sebuah rasa ini. Saya menyebut dia pria sebuah rasa karena sebenarnya pria ini memiliki sebuah rasa yang jarang sekali dimiliki oleh pria-pria lain, yaitu kombinasi antara rasa ingin tahu yang tinggi dan kepedulian yang sangat cerdas tetapi sangat lembut. Sisi inilah yang membuatnya menjadi menarik perhatian, karena jarang sekali ada yang berani melakukan permainan ini dengan hingga usai dan terus berlanjut. Kebanyakan orang, tidak berani jujur. Awalnya saja yang kelihatannya manis, tetapi makin lama makin tampak jelas bagaimana aslinya. Konsistensi pria sebuah rasa ini, menjadikannya spesial di mata saya.

“Kamu salah, saya bukan pria yang baik.”

“Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan perbuatan buruk.”

“Saya tidak bisa bermanis-manis. Ya, kalau begitu, begitu sajalah.”

“Kalau pisang, ya pisang saja. Yang penting, tidak kanibal.”

“Hahaha…. Ya, nggak sampai begitulah.”

Pria seperti dia tentunya banyak disukai perempuan. Dari segi penampilan dan caranya bertutur kata, perempuan pasti banyak yang tak mampu melawan. Bahasa tubuhnya sangat menggoda dan tatapan matanya membuat siapapun ingin tersenyum. Cerita tentang kenakalan dan kejahatannya sebagai pria, justru itu membuat perempuan lebih tertantang untuk mendekat. Bad boys merupakan salah satu bentuk keseksian tersendiri di mata perempuan, disadari tidak disadari, diakui tidak diakui.

Saya selalu berpikir tentang pria dan perilakunya setiap kali kami bercerita dan bertukar pikiran. Bila pria beranggapan bahwa perempuan itu penuh dengan misteri, saya pria itu ternyata benar seperti pisang. Bukan karena pria memiliki “pisang” tetapi memang pisang banget. Kenapa?!

Pohon pisang mudah tumbuh di mana saja selama ada induknya yang menjadi pegangan. Segagah-gagahnya dan sehebat-hebatnya pria, tetap saja sulit untuk melepaskan diri dari ibunya. Pohon pisang yang belum dewasa akan kesulitan untuk tumbuh besar bila dipisahkan dari ibunya. Pria yang tidak mendapatkan kasih sayang ibunya hingga dewasa, maka akan sulit sekali mendapatkan kebahagiaan karena ibulah yang selalu menjadi panduan di dalam setiap langkah menuju bahagia.

Buah pisang bisa dikatakan cukup lama untuk bisa tumbuh dan menjadi matang. Demikian juga dengan pria. Butuh waktu lebih lama bagi pria untuk dapat menjadi dewasa dan matang dibandingkan dengan perempuan. Buah pisang baru bisa besar dan matang bila jantungnya dibuang. Pria baru bisa menjadi dewasa dan matang bila sudah bisa melepaskan diri dan berjuang untuk dirinya sendiri tanpa harus bergantung lagi kepada siapa pun juga. Bahkan menjadi sebuah kebanggaan, seperti pisang yang menguning, bila sudah mampu mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri, kan?!

Pisang bukanlah buah yang keras dan dalamnya sangat lembut. Pria sesungguhnya pun demikian meski “penampakannya” keras dan menyeramkan. Mudah sekali hancur bila diremas sedikit saja. Pada fakta dan kenyataannya, pria memang lebih gampang dihancurkan dan lebih sulit bagi pria untuk dapat pulih kembali. Dibutuhkan waktu lebih lama bagi pria yang “hancur” hati dan pikirannya untuk dapat menjadi “utuh” dibandingkan dengan perempuan. Oleh karena itulah, pria selalu membutuhkan perempuan untuk mendampinginya karena perempuan sangatlah kuat. Pria memang pemimpin tetapi perempuan mampu menguasai dunia. Kehebatan dan kejatuhan pria dapat dengan mudahnya dibuat oleh seorang perempuan. Marah-marah saja pada pria, mereka pasti tidak mampu berpikir dan bekerja.

Namun demikian, pisang memiliki kandungan protein dan karbohidrat yang tinggi. Bayi kecil pun diberikan pisang sebagai makanan padat pertamanya karena sangat sehat dan bergizi. Efek dari memakan pisang bisa langsung dirasakan. Coba saja memakan pisang bila sedang lemas, pisang mampu mendongkrak tubuh untuk menjadi kuat kembali. Pria sangat dibutuhkan perempuan untuk dapat lebih percaya diri dan menjadi seorang perempuan yang kuat. Tak perlu dipuja dan dipuji, perhatian dari seorang pria saja mampu membangkitkan seorang perempuan untuk bisa berdiri tegak kembali. Perhatikan saja perempuan yang habis curhat dengan pria, pasti beda, deh!!!

Pisang juga senangnya bergerombol tetapi tidak masalah jika harus dipisahkan dan sendirian. Pria selalu senang bila sedang bersama teman-temannya dan kehidupan pria tidak pernah bisa lepas dari teman dan sahabat. “Brotherhood” ini sangat kuat dan seringkali jauh lebih penting dibandingkan dengan yang lainnya. Namun demikian, tidak berarti mereka harus selalu bergerombol. Sense of survival dan gengsi mendorong mereka untuk tetap mampu menjadi diri mereka sendiri dan lebih bebas di dalam berekspresi. Menjadi dirinya sendiri adalah sebuah kejantanan.

Sementara perempuan, terlalu banyak norma dan etika serta budaya yang diyakini dan dipercaya sehingga secara tidak sadar telah membuat mereka terbatas dan dibatasi. Mereka memang senang juga bergerombol, tetapi jarang yang mampu menjadi dirinya sendiri bila harus sendirian. Perempuan lebih mudah dipengaruhi dan menjadi terpengaruh meskipun perempuan sangat lihay di dalam mempengaruhi. “Bisa” perempuan jauh lebih mematikan dibandingkan dengan bisa ular paling berbisa, tetapi kalau sudah digigit dan dipatuk ular, mereka sulit untuk dapat melepaskan diri.

Pisang rasanya enak, pria?! Hahaha…. Bohong sajalah bila saya sebagai perempuan tidak mengatakan bahwa pria itu enak. Bukan hanya dari soal seks tetapi juga dari berbagai macam sisi. Saya sendiri lebih senang bertukar pikiran dengan pria karena biasanya pria memiliki pengetahuan umum yang lebih luas dan lebih mampu untuk menerima perbedaan dibandingkan dengan perempuan. Saya tidak bisa membayangkan hidup ini bila tidak ada pria. Wah, bisa repot!!!

Tulisan ini hanyalah sebuah coretan ungkapan rasa untuk sahabat saya, pria sebuah rasa. Banyak yang sudah dia lakukan untuk membuat saya berpikir lebih banyak terutama tentang pria. Pria dan pisang sungguh mampu membuat saya menjadi lebih bebas dari segala pemikiran negatif tentang pria dan lebih mampu menerima pria sebagai mereka sendiri. Ya, apalagi kalau bukan sebagai pisang. Hehehe….

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

6 Juli 2012

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mimpi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Dari Pria Sebuah Rasa

  1. Ali says:

    kiraian apaan, dan akhirnya beginian

  2. ramadya says:

    menarik analogi pisang dengan pria, rata2 memang tepat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s