Harga Sebuah Awalan

Seringkali kita berpikir bahwa kita mampu dan menjadi lupa bahwa kemampuan kita itu bila tidak diawali dengan niat yang baik dan ada dusta di dalamnya, maka semuanya akan sia-sia saja. Cinta bukanlah sesuatu yang remah dan bisa dianggap sepele sehingga dapat diabaikan. Seiring perjalanan, masa dan waktu akan tiba. Siapa yang patut disalahkan?!

Seorang pria mendesah dalam dan panjang atas dusta dan ketidakjujuran di dalam berpasangan. Sejak semula, bila mau jujur, dia tidak memiliki cinta bagi pasangannya. Dia berusaha keras mendapatkan perempuan itu untuk membuktikan diri dia mampu merebut piala dan menjadi juara. Selain itu, ada juga berbagai kepentingan lainnya yang membuatnya tertantang dan terpicu memilih jalan untuk ikut berkompetisi.

Dia tipe pria yang suka dengan kebebasan dan sama sekali tidak suka bila dikuasai. Komitmen menjadi momok yang membuatnya merasa terikat dan tidak mampu berbuat apa-apa. Hidup yang mengalir apa adanya menjadi sebuah prinsip tetapi akhirnya goyah juga oleh berbagai pertimbangan, situasi, dan kondisi. Namun, ketika piala itu sudah berhasil didapatnya, lantas apa lagi?! Sudah cukup, kan?!

Rasa tanggungjawab pada akhirnya membuat dia meneruskan dan melanjutkan ke langkah berikutnya yang justru membuat dia menjadi lebih terikat lagi. Pernikahan adalah dambaan siapapun tetapi tidak semua orang berani jujur di dalam mempersiapkan dan menjalaninya. Pernikahan yang dilakukan tanpa berdasarkan cinta maka akan fatal sekali akibatnya. Mau ditutupi dengan cara apapun, tetap sulit dan semakin sulit lagi melepaskan diri. Apalagi jika sudah anak yang ada di dalam perut, duh!

“Sejak semula memang sudah salah. Saya pacaran dan menikahinya, tidak dengan cinta tetapi karena ada banyak faktor pertimbangan yang lain. Saya tidak seperti dia dan keluarganya atau mantan-mantan pacarnya. Saya merasa tertantang untuk membuktikan bahwa saya mampu, selain karena ada faktor lain yang pada saat itu memang sedang harus saya lakukan.

Setelah menikah, saya mencoba untuk bisa meredam apa yang sesungguhnya saya rasakan tetapi hanya bertahan dua bulan saja. Setelah itu, saya tidak sanggup lagi. Dia terlalu banyak melarang saya dan mengekang kebebasan saya sebagai seorang pribadi dan suami. Kehidupan sosial saya dibatasi, BB dan HP saya diperiksa, dan semua ditanya sedetil-detilnya dengan mendesak seolah saya ini salah dan kesalahan itu dicari-cari. Saya paling kesal jika dia sudah cemburu tak jelas. Mending kalau benar saya ini selingkuh atau bermain mata dengan yang dicemburuinya, kalau tidak, kan, tidak enak jadinya.

Saya bekerja untuk dia, seharusnya dia mengerti pekerjaan saya yang menuntut jam kerja panjang sehingga waktu kami bersama berkurang. Kami memang tinggal terpisah, itu pun karena dia bekerja dan saya juga bekerja. Saya tidak ingin dia lelah dan saya juga tak sanggup bila harus terlalu jauh dari tempat saya bekerja. Jika memang tidak mau, kenapa saya selalu dituntut urusan materi? Kalau kurang, dia juga yang marah dan kesal, kan?

Hal sepele seperti melarang saya merokok, mungkin bagi dia dan keluarganya adalah maksud yang baik. Tetapi bagi saya, itu lebih dari hanya sekedar melarang saya merokok. Itu sama artinya dengan melarang saya untuk melakukan apa yang sudah biasa saya lakukan, apa yang saya sukai, dan apa yang saya butuhkan. Saya sampai malas mengajak dia pergi bersama teman-teman saya karena dia pasti akan marah jika saya merokok. Saya bukannya tidak mau berhenti merokok, tetapi saya tidak suka didikte dan dikuasai seperti itu. Semakin dia melarang saya, maka saya pun akan semakin hilang keinginan untuk menghentikannya. Apa dia juga mau dilarang berhenti makan pedas? Dia punya sakit maag dan makan pedas bisa membuatnya juga sakit. Apa harus saya melarangnya?!

Saya teringat dengan kata-katamu bahwa apa yang diawali dengan niat tak baik dan tidak dengan sungguh-sungguh maka semuanya akan hancur berantakan. Itulah yang saya rasakan sekarang ini. Meski sudah mencoba, saya tetap tidak memiliki cinta untuknya.”

Siapa pun yang harus menghadapi masalah seperti ini pasti akan pusing dan kesal. Untuk bertemu dengan pasangan juga pasti sudah malas sekali, bawaannya ingin pergi dan menjauh saja. Jika bukan karena merasa masih ada tanggungjawab dan rasa malu kepada keluarga, dan karena ada janin mungil di dalam kandungan pasangannya, dia mungkin sudah tak peduli. Perempuan di dunia ini masih ada banyak dan tidak sulit baginya mendapatkan pengganti.

Hanya saja, menurut saya, pergi ataupun tetap tinggal sama-sama tidak akan menyelesaikan masalah bila inti dari masalahnya belum diselesaikan. Pergi dengan rasa kesal dan marah hanya akan membuat hati semakin sakit dan penuh kebencian. Tinggal pun akan membuat semua menjadi sedih dan tidak bahagia. Jangan sampailah anak menjadi korban kesalahan dan kebencian orang tua.

Harus diingat bahwa tuntutan pasangannya sebagai seorang istri sekaligus perempuan yang berasal dari didikan keluarga berbeda dan dengan gaya hidup yang berbeda, tidak bisa disalahkan meski itu menjadi masalah besar. Seharusnya sudah dari semula hal itu disadari dan dijadikan pertimbangan. Perempuan dan tuntutan materi serta perhatian, sudah bukan sesuatu lagi yang menjadi aneh, malah sangat umum terjadi di mana-mana. Sama seperti halnya pria soal pengertian dan perhatian, tidak ada bedanya.

Rasa cemburu yang berlebihan dan perilaku yang ingin menguasai serta mendominasi sangat jelas menunjukkan betapa pasangannya sangat tidak percaya diri sama sekali dan amat sangat membutuhkan pengakuan. Perilaku seperti ini banyak terjadi pada perempuan dan pria yang tidak mengenal dirinya dengan baik, memiliki rasa bersalah dan menutupinya, tidak percaya pada dirinya sendiri, dan sebenarnya tidak tahu harus berbuat apa di dalam menghadapi pasangan. Kasihan sebetulnya, karena orang yang seperti ini sulit untuk bahagia apalagi jika keras kepala dan tinggi hati. Untuk mengubahnya diperlukan proses dan waktu, kesabaran yang luar biasa dan ketegasan di dalam mendidiknya. Jangan berharap bahwa dia dapat berubah seketika ataupun berubah karena kita, karena dia harus berubah karena dirinya. Dia harus mampu menjadi bahagia, bebas, dan merdeka.

Jika memilih hendak pergi, sebaiknya semua dibicarakan baik-baik dan anak tetap harus dijaga dan dirawat bersama. Bekas istri atau bekas suami itu ada, tetapi tidak ada bekas anak. Banyak pria yang melupakan kewajibannya sebagai ayah dan meninggalkan anak tanpa asuhan dan kasih sayang tetapi masih ingin mendapatkan cinta dari anak itu di kemudian hari. Sebaiknya, berpikir dan malu hati bila berperilaku demikian, karena pria jantan yang berani selalu penuh dengan tanggung jawab. Selain itu, perempuan pun tidak perlu menjelek-jelekkan bekas pasangannya dan menjauhkan anak itu dari ayahnya. Akibatnya akan menimpa pada anak itu sendiri, sebegitu teganyakah mengorbankan anak hanya karena keangkuhan?!

Jika memilih untuk tinggal, sebaiknya cobalah untuk membangkitkan rasa kasih sayang antara berdua. Tidak bisa sendirian di dalam melakukannya, harus berdua dan bersama. Bicaralah baik-baik dan dengan intonasi rendah serta kendalikan emosi. Bahas setiap masalah yang ada secara jujur dan terbuka. Yang paling penting dalam hal ini adalah komitmen di dalam setiap kompromi yang sudah disepakati bersama. Kalau perlu, ditulis saja. Memang tampaknya ini seperti anak kecil tetapi orang yang merasa dewasa pun belum tentu memang benar dewasa. Kerendahan hati dan kedewasaan di dalam bersikap ditunjukkan dari perilaku yang mau mencoba melakukan apapun yang terbaik untuk kebaikan bersama.

Jarak yang jauh dan tempat tinggal terpisah selalu membuat ada ruang dan waktu yang hilang. Komunikasi lewat media elektronik mau seberapa sering, sih, dilakukan? Tak mungkin setiap saat, kan?! Saya selalu menyarankan untuk membuat catatan harian, yang diisi oleh coretan rasa dan pemikiran setiap harinya. Lebih bagus bila sama-sama mau membuatnya, sehingga ketika bertemu, catatan harian ini dapat dibaca bersama dan menjadi bahan komunikasi tentang “kita berdua”. Cara ini sangat efektif untuk bisa saling kenal dan mengisi hilangnya ruang dan waktu akibat jarak dan tempat tinggal terpisah. Tidak ada salahnya, kan, mencoba bila memang ingin memperbaiki hubungan?!

Nah, sekarang sebaiknya tidak lagi bicara soal masa lalu dan niat yang salah ataupun kesalahan-kesalahan serta peristiwa yang sudah lalu. Pikirkan, apa yang mau dicapai di masa depan. Fokuskan dan tetapkan langkahnya dengan segala keteguhan dan keyakinan hati. Abaikan dulu bunga-bunga yang menggoda, benahi diri sendiri dulu. Jika diri sendiri sudah mampu mengenal diri sendiri dengan baik, mampu menemukan apa yang diinginkan, bisa menentukan langkah dan mengambil sikap dengan tegas dan yakin, barulah bisa melangkah ke depan. Tempuh setiap prosesnya dengan jiwa besar dan lapang dada karena pasti akan ada kerikil yang tajam dan pahit yang berliku di dalam setiap perjalanan. Jika memang benar, kenapa harus takut?!

Awali hidup yang baru saat ini dengan niat yang baik dan penuh kejujuran. Buah dari ketulusan dan keikhlasan adalah kebahagiaan yang senantiasa.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

6 Juli 2012

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s