Saat Semua Hilang dan Pergi

Kupu-kupu bersayap cokelat berbintik ungu terbang melewati purnama dengan penuh kebingungan. Sayapnya mengepak semrawut seolah kehilangan irama. Hinggap sebentar di sana lalu segera pindah ke sini, seperti tidak mampu menemukan tempat yang nyaman baginya. Tidak seperti biasanya dia demikian, ada apakah gerangan yang terjadi?

Sudah sejak pertama kali saling menyapa, kupu-kupu rama-rama yang bersayap cokelat berbintik ungu selalu datang menghampiri. Apalagi jika rasa rindu begitu besar dan menguasai diri serta hati, dia akan selalu datang menemani seolah dialah yang dirindukan. Bahkan bila sedang sedih, dia sering datang menghibur bersama teman-temannya yang lain. Hinggap mendekat dan mencium wajah, tangan, dan kepala seperti tahu dan ingin membuat diri tersenyum kembali.

Entah sudah berapa lama kami tidak lagi saling bertemu dan dia tak pernah lagi datang. Rindu yang ada seperti tak lagi didengarnya dan kesedihan pun tak juga dirasakannya. Hingga kemarin dia datang kembali dan dalam keadaan yang sangat mengharukan. Itu pun tidak lama, hanya sejenak saja. Dia pergi ditelan kegelapan malam dan tak kembali.

“Kupu-kupu, mengapa dirimu pergi? Apa yang salah telah diri ini lakukan hingga dirimu tak lagi menemani? Ke mana semua rasa rindu dan cinta yang ada? Tidak ada lagikah semua ini dirimu rasakan? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuatmu tak lagi seperti biasanya?!”

Tampak awan menyelimuti malam dan menutup purnama sebagian. Udara malam yang sudah dingin menjadi kian dingin biarpun tidak ada angin yang berhembus menerpa dan menyelimuti. Hati menjadi kian hampa ditelan kesepian.

Bintang tergenit juga tak seperti biasanya. Dia telah berubah. Sinarnya yang selalu terang itu kini hanya samar-samar. Barangkali ada tempat lain yang lebih membutuhkannya dan lebih membuatnya merasa nyaman dan bahagia. Udara dingin penghantar kemarau sudah memberikan tanda dan isyarat.  Warna mimpi di masa depan sudah tidak lagi sama.

“Mengapa semua selalu pergi? Bintang tergenit yang selalu memberikan petunjuk itu pun tak mau lagi memberikan arah. Untuk melihat dan memberikan sinar saja harus samar-samar dan tak pernah jelas lagi. Bahagia yang pernah menjadi mimpi mungkin memang tak pernah ada.

Siapa yang bisa bertahan dengan kerasnya batu dan badai yang terus menghujam dan selalu berubah? Mendekatinya pun membutuhkan pemikiran yang matang dan kesiapan mental yang kuat. Petualang yang nekad dan berani juga belum tentu mampu bertahan lama. Batu karang tetap akan menjadi batu karang yang sepi dan sendirian meski di tengah lautan. Badai yang menerpa tidak akan mampu meruntuhkan dan menghancurkannya, tetapi menjadi teman sejatinya sepanjang masa dan waktu. Untuk apa bintang tergenit bertahan? Untuk apa juga kupu-kupu datang menemani?!”

Menangis tersedu sedan sepanjang malam hingga pagi tidak memberikan dan menghasilkan apa-apa selain rasa lelah dan letih yang tiada akhir. Sungguh tidak mudah untuk merasionalisasikan rasa dan menjadi rasional bila sudah bersentuhan dengan rasa. Meskipun dihindari dan dipungkiri, tetap saja tidak bisa. Pengalihan yang dibuat juga hanya sementara saja dan tidak bisa berlangsung lama.

Terkadang dan seringkali kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Perhatian yang dibutuhkan oleh setiap manusia selalu menjadi masalah yang tidak pernah usai. Bentuk dan cara menerima dan memberikannya juga tidak pernah sama antara satu dan yang lainnya. Sehingga keinginan atas perhatian itu jarang sekali mampu dipenuhi dan terpenuhi. Apalagi jika ada prioritas lain yang harus diutamakan. Tidak ada yang patut untuk disalahkan selain diri sendiri.

Niat baik untuk membantu dan menolong pun belum tentu benar. Seringkali semua itu justru menjadi salah karena setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing. Tidak akan ada bantuan dan pertolongan yang menjadi berarti dan berharga bila tidak diterima dengan ketulusan dan keikhlasan. Banyak yang tidak mau dibantu dan ditolong dengan berbagai alasannya, lagipula tidak ada yang perlu dipaksakan. Manusia hanya bisa berubah karena dirinya sendiri dan bukan karena yang lain.

Pengertian yang selalu dituntut itu juga sebenarnya lebih banyak menjadi alasan atas keegoisan. Kita terlalu sering menuntut untuk mengerti tetapi sungguh sulit untuk mau mengerti yang lain. Apa yang nyaman dan enak buat kita selalu diprioritaskan, sementara kebahagiaan yang seharusnya diberikan bagi semua, barangkali hanya menjadi kalimat tanpa arti dan makna yang sesungguhnya. Perilaku menunjukkan dan mata tidak pernah berdusta.

Bingung dan labil bukanlah sesuatu yang tidak wajar dan menjadi ketakutan. Mengandalkan orang lain untuk membantu dan menyelesaikannya akan membuat kebingungan dan kelabilan semakin menjadi karena manusia bukanlah yang dapat diandalkan. Sudah seharusnya setiap manusia menjadi mandiri dan seutuhnya serta tidak pernah mengandalkan yang lain selain Dia. Segala sesuatunya di dalam setiap perjalanan sangat tergantung pada diri sendiri, bukan yang lain.

Pertemuan terakhir membuka mata dan hati. Kupu-kupu bersayap cokelat berbintik ungu barangkali memang sudah tidak merasa nyaman dan bahagia lagi. Sudah cukup baginya menemani dan memberikan kegembiraan karena saat ini, itulah yang dia butuhkan. Dia pun membutuhkan teman dan kebahagiaan untuk dapat membuat sayapnya kembali berkembang dengan indah dan serasi, dengan caranya sendiri tentunya. Cinta dan rindu selalu didapatkan dan dimilikinya dan biarlah itu semua dibawanya terbang ke mana pun tujuannya.

Bintang tergenit tidak akan pernah bisa dipaksa karena kemerdekaan dan kebebasan adalah haknya. Dia sudah cukup matang dan dewasa menentukan sikap dan pilihan serta memiliki jiwa besar di dalam menempuh segala resiko dan konsekuensinya sendiri. Saat ini, yang dibutuhkan olehnya adalah dirinya sendiri agar dapat terus bersinar terang. Tidak ada yang perlu disesali ataupun diinginkan dan diharapkan darinya. Yang dia inginkan hanyalah diberikan cinta karena cintanya barangkali benar hanya sebutir salju yang bisa mencair, menguap, dan hilang karena panas. Berganti dan membeku kembali pada saat dingin datang, bukan di tempat dan ruang yang sama, tetapi yang memang ada di dalam hatinya.

Air mata tidak lagi boleh menetes karena roda terus berputar. Masa lalu biarlah berlalu dan belajar dari yang lalu merupakan sebuah kesempatan berharga. Hidup tidak boleh mundur ke belakang tetapi harus terus maju ke depan. Tidak ada yang perlu ditangisi dan diselali karena usaha sudah dilakukan. Dia pasti tahu apa yang terbaik dan selalu memberikan yang terbaik. Keyakinan atas cinta dan rasa rindu yang selalu ada itu, hanya dapat dipasrahkan dan diserahkan kembali pada-Nya. Bila memang ada masa dan waktunya, maka semua itu tak akan pernah hilang dan pasti akan kembali. Bila pun tidak, semua pasti ada maksud dan tujuannya sendiri.

Sekarang, sudah waktunya untuk melangkah maju. Kuatkan dan yakinkan hati. Hidup ini tidak indah bila tidak melewati jalan berliku dan menerobos kerikil tajam. Mimpi bisa saja sudah berubah warna seiring perjalanan dan waktu, tetapi hati yang dipenuhi cinta dan rindu akan senantiasa mencapai kebahagiaan yang senantiasa. Tidak ada yang pernah sendiri dan tidak perlu merasa sepi. Semua itu hanyalah semu dan ilusi semata karena sendiri pun tidak berarti sendiri.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

5 Juli 2012

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Saat Semua Hilang dan Pergi

  1. Linda Djalil says:

    aduuuuuh bagusnyaaaaaa!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s