Siapapun, Apapun, dan Bagaimana pun Dirimu….

Setiap perjalanan tidak pernah sama antara yang satu dengan yang lainnya. Ada yang selalu bersama tapi ada juga yang harus berpisah sewaktu-waktu, bahkan ada yang tak pernah bisa bersama. Bila dikatakan tidak cinta, tidak juga karena cinta itu tetap ada di dalam hati. Barangkali sudah seharusnya demikian, bila pun kemudian diputar balik belum tentu juga sesuai dengan apa yang ada di dalam angan dan mimpi. Namanya juga hidup dan kehidupan….

Bertanya kepada bulan sabit, ada apakah gerangan yang terjadi. Mengapa dia tidak lagi seperti dulu? Kenapa dia berubah? Mengapa dia seperti menjauh dan menghindar? Apakah memang dia ingin menghilang dan sudah tidak ingin lagi bersama?Bulan sabit tidak menjawab dan hanya memberikan senyum. Bintang yang sedang gelap tertutup awan, tidak bisa juga memberikan jawaban. Hingga akhirnya, hanya tinggal ada cermin di dinding saja.

“Apakah gerangan yang terjadi?”

“Dia hanya sedang tidak enak saja semuanya.”

“Apakah saya telah berbuat salah?”

“Dirimu seringkali terlalu polos dan menceritakan semuanya. Mungkin maksudmu baik, tetapi seringkali kamu tidak bisa melihat dan menjaga perasaannya.”

“Apa yang telah saya lakukan?”

“Dirimu barangkali telah membuatnya kecewa atau pernah membuatnya kecewa. Dirimu juga barangkali sudah membuatnya menjadi tidak yakin dan kehilangan percaya diri.”

“Ya, Tuhan!”

“Dia pun sedang menghadapi banyak masalah, sehingga dia butuh waktu untuk menyelesaikannya.”

“Lantas, apa yang sebaiknya saya lakukan?”“Biarkanlah dia sendiri dulu menyelesaikan masalahnya, begitu juga dengan dirimu. Cinta tak harus selalu bersama, kan?”

“Saya sangat mencintai dia. Dia selalu menjadi yang terbaik dan terindah bagi saya. Saya tidak ingin yang lain selain dia. Hanya dia satu-satunya yang saya miliki dan inginkan. Saya tidak bisa tanpa dirinya.”

“Kamu terlalu serius dan menutup diri. Pasti ada yang lain, kan?!”

“Saya tidak bisa mendustai hati saya. Biarpun ada banyak yang lain yang datang, buat saya mereka tidak pernah bisa masuk. Saya tidak akan pernah membiarkan mereka masuk. Saya sudah memiliki dia, dia cinta saya. Tidak ada yang lain.”

“Bagaimana bila bukan dirimulah yang dicintainya?”

“Tidak apa-apa. Tentunya saya sangat bahagia bila dia mencintai saya, tetapi bila ada yang lain di hatinya, buat saya, tidak masalah. Saya akan lebih bahagia lagi bila dia bisa bersama yang dicintainya. Dia pasti akan sangat bahagia bila bersamanya. Siapa pun orang itu, pastilah yang paling terbaik baginya dan yang paling bisa memberikan banyak bahagia dan keindahan untuknya. Saya juga tidak mau didustai ataupun memaksa. Apa adanya saja, itu akan lebih indah. Saya tidak menyalahkan dia bila dia tidak mengatakannya karena dia orang yang sangat baik hati sekali. Dia selalu menjaga perasaan orang lain. Dia tidak pernah mau ataupun bermaksud menyakiti siapa pun juga.”

“Tidakkah itu menyakitkanmu?!”

“Saya selalu percaya bahwa cinta adalah segalanya dan mampu mengalahkan segalanya. Tidak ada yang sakit bila benar itu cinta. Saya tidak akan merasa sakit sama sekali karena saya memang sangat mencintainya. Sedih, iya tapi itu hanya akan menjadi sebuah proses dalam perjalanan saja. Seiring waktu, semuanya akan bisa menjadi biasa dan terbiasa. Melihatnya bahagia akan menghilangkan semua kesedihan yang ada.”

“Apa yang kamu rasakan darinya?”

“Saya pikir, dia sayang sekali dengan saya. Hanya saja, barangkali, saya saja yang terlalu kegeeran, ya? Dia mungkin sayang saya tetapi bukan seperti yang saya pikirkan dan bayangkan. Duh, malunya! Saya merasa sungguh sangat tidak tahu diri dan tidak tahu malu!!! Mana mungkinlah ada orang yang bisa menerima saya dengan keadaan dan saya yang seperti ini. Ha ha ha….”

“Maksudmu?”

“Hedeh! Saya ini suka sok kepedean dan sok yakin. Tapi, saya tidak bodoh-bodoh amat, kok! Saya sadar penuh bagaimana saya dan saya mengerti banget bila amat sangat tidak mudah untuk bisa bersama saya. Nggak akan ada yang tahan, deh! Kasihan!!! Bener, deh!!! Saya bukannya tidak mau berubah, ada banyak hal yang memang tidak bisa diubah. Mau bagaimana lagi?! Saya ini apa, sih?! Sudahlah! Malu saya untuk mengatakannya. Yang pasti, saya ini benar-benar bukan seperti yang selalu saya tampilkan. Saya ini memalukan banget dan tidak ada apa-apanya, kok!”

“Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan?”“Saya mungkin sebaiknya meminta maaf padanya. Saya sudah terlalu lancang sekali dan sudah pasti banyak berbuat salah. Tidak mungkin seseorang menjauh begitu saja bila saya tidak melakukan kesalahan. Meskipun barangkali dia tidak mau mengatakan yang sejujurnya, tetapi saya harus tahu diri. Tidak bolehlah saya berharap, berangan, dan bermimpi lagi. Memiliki cinta untuknya saja sudah memberikan banyak sekali arti bagi saya. Ada banyak yang berubah dalam hidup saya sejak saya bisa merasakan cinta itu benar ada.”

“Apakah kamu akan pergi meninggalkannya?”

“Saya sudah pernah berjanji padanya, saya tidak akan pernah pergi dan meninggalkan dia. Sejujurnya, saya sendiri tidak akan pernah mampu pergi darinya. Saya selalu membutuhkannya. Saya harus mampu menempatkan diri saya pada tempatnya dan yang seharusnya. Saya ingin sekali melihat dia kembali memliki rasa percaya diri dan keyakinan atas mimpinya. Dia itu sangat luar biasa sekali walaupun dia selalu merasa biasa saja. Saya mengerti bila ada banyak kecewa, karena dia sudah terlalu sering dikecewakan dan mungkin saya sendiri telah membuatnya kecewa dan kesal. Saya akan selalu ada untuknya dan memberikan apapun yang mampu saya berikan untuknya. Saya ingin dia segera pulih dan menemukan dirinya kembali. Saya yakin dia mampu dan pasti bisa, karena cintanya kepada semua bukanlah sekedar bualan ataupun omong kosong semata.  Sudah terbukti dan tidak perlu diragukan. Saya tidak boleh berharap ataupun menginginkan apa-apa darinya, biarlah dia bersama cintanya dan saya, saya akan tetap selalu memberikan cinta saya untuknya.”

“Jika dia benar pergi menjauh dan menghilang?”“Saya ingin dia segera menyelesaikan masalahnya terutama dengan dirinya sendiri. Menjauh dan menghilang tentu memiliki maksud baik bagi dirinya sendiri dan juga saya. Dia sangat tertutup dan sulit sekali mengungkapkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Bisa dipahami, dan saya tetap akan ada bila dia memang ingin kembali. Toh, dia tetap ada di dalam hati saya. Ke mana pun saya pergi, dan ke mana pun dia pergi, di mana pun juga kapan pun, dia selalu ada di dalam hati saya. Dia sudah menjadi bagian dalam diri saya yang tidak akan pernah saya mau hilangkan ataupun hapuskan.”

“Yakinkah dirimu tentang semua ini?”

“Saya yakin sekali saya bisa. Itu sudah jalan yang diberikan kepada saya, dan saya sebaiknya tidak menginginkan lebih. Semua itu sudah yang paling baik bagi saya, dan sudah cukup. Saya tidak ingin apa-apa lagi bagi saya sendiri. Saya lebih baik fokus saja pada pekerjaan dan semua yang membutuhkan saya. Bisa membuat mereka bahagia menjadi kebahagiaan yang luar biasa bagi saya.”

“Bagaimana bila ada yang lain datang?”

“Itu akan saya anggap sebagai tantangan untuk tetap mampu menjaga hati saya. Untuk saat ini, saya tetap memilih tidak. Sekali lagi, saya tidak mau mendustai diri saya sendiri dan berdusta lagi. Saya sudah kapok! Sama sekali tidak enak! Lebih baik saya seperti ini saja, saya tetap ingin dia satu-satunya yang ada di dalam hati saya. Dia sungguh terlalu sangat berarti bagi saya.”

Cermin di dinding tak lagi nampak, tertutup oleh tetesan air mata yang terus mengalir tiada henti. Desah panjang dan dalam dihembuskan untuk menghentikannya. Doa dipanjatkan agar bisa lebih tenang dan lebih yakin. Setiap perjalanan pasti ada hikmah dan manfaatnya. Kebahagiaan senantiasa yang menjadi tujuan akhir, tidak pernah mudah untuk didapatkan. Masih banyak pelajaran yang harus diterima dan masih panjang lagi jalan yang akan ditempuh dengan belokan dan kerikil tajamnya. Semua ada masa dan waktunya, waktu pula nanti yang akan bicara.

“Siapapun, apapun, dan bagaimana pun dirimu, dirimu tetap selalu yang terbaik dan terindah. Dirimu mungkin biasa tetapi sangat luar biasa bagi diri ini. Dirimu  adalah pria penuh pesona cinta dan bintang tergenit yang ada di dalam hati. Cinta saya hanya untuk dirimu dan itu akan selamanya.”

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

24Juli 2012

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Siapapun, Apapun, dan Bagaimana pun Dirimu….

  1. ismikova says:

    saat pusing mikirin hosting dan iklan yang sepi saya tidak tau darimana bisa masuk blog ini.. Melihat judul blognya saya agak berprazsangka kurang baik tapi begitu baca artikelnya, saya menemukan sebuah kejujuran hidup yang begitu enak dituangkan dalam sebuah tulisan. Lam kenal mbak mariska lubis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s