Memilih Menjadi Bulu Babi

Ribut-ribut dengan kekerasan yang terus saja berlangsung. Seolah memang dibenarkan karena sudah menjadi budaya dan pantas atau biasa untuk dilakukan. Kesal dan kecewa tentunya tak bisa dihindarkan walaupun di sisi lain ada rasa iba sekaligus ingin tertawa. Hanya segitu saja, toh?!

Gara-gara itu, saya jadi teringat dengan peristiwa di sebuah pulau kecil di antara seribu pulau. Saat malam ditemani purnama dan angin serta arus yang sedang bersahabat. Tidak ada suara yang mengganggu dan saat itu kepala sedang seru-serunya tenggelam dalam mimpi bersama hati.

Tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong yang berasal dari laut. “Tolong! Saya tertusuk bulu babi! Tolong!”

Saya dan teman-teman yang sedang asyik duduk di dermaga segera bangun. Berhubung gelap, senter pun dinyalakan untuk mencari asal suara itu. Tampaklah salah satu teman kami yang turun menyelam malam itu di permukaan laut, tak jauh dari dermaga. Kami pun segera menarik dia untuk segera diobati.Terkena bulu babi sakitnya minta ampun! Meskipun kecil saja, tetapi mampu membuat rasa nyut-nyut di sekujur tubuh. Memang biasanya tidak langsung terasa, tetapi pelan-pelan dan makin lama makin menyakitkan.

“Iya, nih! Saya ceroboh! Saya tak melihat ada bulu babi di bawah saya karena gelap. Senter saya arahkan ke tempat lain sementara kaki saya berantakan ke mana-mana. Kena, deh di tulang kering! Sakit banget, nih!”, kata kawan saya yang tadi berteriak minta tolong itu.

Kami segera berusaha mengobatinya dengan obat-obatan paling canggih yang kami bawa saat itu. Yah, maklum, kami bukan anak laut jadi tahunya obat-obatan yang dijual di apotik atau toko khusus peralatan menyelam. Kami  hanya mampu mengobati sebatas pengetahuan kami saja, tak bisa lebih.

Di tengah kepanikan dan kesibukan kami menolong, tiba-tiba terdengar suara seorang pria mendekat. Setelah kami lihat, ternyata dia adalah salah satu nelayan penduduk pulau tersebut. Dia barangkali terbangun karena mendengar suara ribut-ribut dan kegaduhan yang kami buat.

“Kenapa? Ada apa?”
“Teman kami kena bulu babi, Pak!”
“Terus sudah diapain?!”
“Ya, kami usaha nyabut durinya dan kasih obatlah, Pak!”
“Oh, gitu….”

Cara bapak itu berkata “Oh” membuat dahi saya mengerenyit. Apalagi dia mengucapkannya sambil tersenyum sinis, seolah ada yang salah dengan apa yang sedang kami perbuat. Saya jadi merasa ikut tertusuk bulu babi karena diberi senyum seperti itu.

“Mana bisa bulu babi dicabut! Bulu babi cuma bisa dihancurkan. Percuma dikasih obat juga, nggak bakal mempan!”
“Gimana menghancurkannya?”
“Buruan dipukul-pukul pakai palu atau batu tempat duri itu tertusuk. Kalau kelamaan, nanti durinya masuk ke dalam darah dan ke jantung. Itu sudah susah. Bisa mati!”
“Waduh! Apa nanti nggak infeksi, Pak?”
“Kencingin aja dulu sebelum dipukul. Biar nggak infeksi dan durinya cepat hancur!”

Saya dan teman-teman saling berpandangan. Dikencingin? Dipukulin palu? Siapa yang mau kencingin? Apa betul, nih?! Tapi, akhirnya kami menuruti perkataan bapak itu. Dia nelayan di sana dan tentunya pasti lebih pengalaman. Dia tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan.

Teman saya yang kena bulu babi pun pasrah saja. Dia harus merelakan kakinya dikencingi bapak itu. Meskipun jijik, tapi mau bagaimana lagi? Nah, pas giliran dipukul-pukul pakai palu, barulah dia jerit-jerit kesakitan dengan kerasnya sampai penduduk di kampung nelayan itu terbangun. Ampun, deh!

Duh, duri kecil ternyata benar-benar bikin repot, ya? Jauh lebih repot dibandingkan dengan dilempar batu atau terjatuh. Bahkan barangkali lebih tak enak dibandingkan dengan tersangkut pancingan atau tertembak spear gun (senapan berpeluru panah). Soalnya, langsung jelas dan penangannya juga sudah pasti. Untung dia terkena duri bulu babi, jika terkena duri lion fish atau puffer, wah pasti lebih repot lagi. Racunnya jauh lebih berbahaya dan cepat sekali menjalarnya.

Pelajaran dari pengalaman yang sangat berharga. Hati-hati dengan duri bila ingin selamat! Duri memang tidak sebesar dan semenakutkan ikan hiu. Giginya pun tidak perlu banyak, bertumpuk, dan berlapis serta menonjol ke mana-mana. Namun begitu, tetap saja tak enak bila terkena duri.

Duri yang masuknya perlahan-lahan dan tidak ribut-ribut, bisa membuat satu kampung nelayan terbangun karena yang terkena duri itu menjerit-jerit kesakitan. Nah, jika tidak hati-hati, siapa mau dikencingi dan dipukuli? Belum lagi ditambah dengan senyum sinis penduduk di sana yang merasa kesal karena terbangun di tengah malam tetapi ingin tertawa karena melihat tingkah laku yang bagi mereka tidak masuk di akal. Hedeh! Ogah, ah!

Lantas, apa, ya, hubungan antara duri dengan kekerasan yang sedang saya pikirkan tadi? Hmmm….

Saya sekarang mau tersenyum seperti bapak nelayan itu dulu. Bukan senyum biasa, tapi agak serong sedikit biar terasa sinisnya. Mata pun agak dikecilkan agar terkesan sadis. Saya memang kesal tapi saya juga mau ketawa!!!

Jika banyak orang lebih senang menjadi hiu yang ganas dan brutal untuk menakuti, sepertinya saya lebih memilih untuk menjadi duri sajalah. Untuk apa juga saya melakukan perbuatan kasar dan keras terhadap yang lain meski itu dianggap untuk memberikan pelajaran. Yang ada, malah jadi dendam dan sakit hati sehingga kekerasan terus berlanjut dan tak pernah berhenti. Jika saya menjadi duri, siapa yang akan menyalahkan saya? Siapa suruh menginjak atau memegang duri? Memangnya duri bisa masuk sendiri?!

Dengan menjadi duri, maka saya juga tak perlu capek dan buang energi. Yang repot, kan, yang terkena duri. Mana ada duri yang teriak-teriak meminta perhatian?! Mana ada juga duri sibuk sana sini untuk mencari mangsa. Cukup diam saja dengan manis dan tersenyum, kok!

Bagus kalau yang tertusuk duri kemudian sadar dan berusaha keras untuk mengeluarkan dan mencabutnya. Itu pun perlu pengorbanan lebih besar lagi karena prosesnya juga tak mudah. Dipermalukan dan disakiti, itu sudah biasa, tapi mau sembuh nggak?! Lebih baik malu dan sakit atau memilih mati saja?!

Kalau sudah berhasil mengeluarkan duri, kapok nggak?! Pastinya akan jadi jauh lebih berhati-hati, dong! Mana ada yang mau tertusuk duri hingga dua kali?

Jika sampai ada yang terkena dua kali, itu memang sudah keterlaluan. Entah mau disebut apa, bodoh pun tak bisa. Ceroboh?! Bisa ya bisa tidak. Paling-paling, sekali lagi, hanya bisa diberikan senyuman sarkastik saja. Memangnya enak?! Yah, tahu rasa sendiri sajalah, ya! Memang hanya sampai segitu saja, kok!!!

Ribut-ributlah! Lakukan apa yang memang mampu dilakukan. Jika mampunya menjadi hiu yang menguasai lautan, silakan saja. Makanlah semua yang di depan dan di atas. Yang di bawah, toh tak mungkin. Terlalu repot dan sulit bagi hiu untuk menukik dan manuver langsung ke bawah. Namanya juga besar dan berkuasa.

Bagi yang tak suka dengan ribut-ribut dan kekerasan, tak perlu kesal dan ikut ribut untuk memancing kekerasan lagi. Diam sajalah. Jadilah seperti bulu babi di lautan. Meskipun tenang dan diam, tetap saja mampu membuat karang-karang di laut habis dan hancur hingga tak ada lagi ikan di sana. Hiu pun pasti malas datang biarpun berkuasa. Mana mau dia makan bulu babi?! Mana mungkin dia mau tertusuk kecuali dia memang punya sok tahu, ingin tahu, atau rakus dan kelaparan banget. Iya, nggak?!

Yuk, senyum sarkastik saja. Mari kita melawan kekerasan dengan hanya tersenyum. Silahkan!

Mariska Lubis

dipublikasikan di kompas.com 11 Juli 2012 

http://oase.kompas.com/read/2012/07/11/19441499/Memilih.Menjadi.Bulu.Babi

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s