Janji di Bulan Puasa

Ilustrasi: openmart.com

Kesalahan demi kesalahan terus dibuat meski telah diberi peringatan berkali-kali bahkan telah juga diberi hukuman lewat rasa malu yang tak akan mungkin bisa terhapuskan. Jiwa telah hilang dan kekebalan rasa malu menjadi kian menebal, membuat rasa percaya diri semakin hilang dan keyakinan itu tidak ada lagi. Orang lain pun dianggap sama untuk mencari persamaan dan kenyamanan, lupa bahwa tidak semua orang adalah sama. Perubahan yang menjadi janji di bulan puasa, apakah hanya akan menjadi sekedar janji?

Teringat dengan sebuah surat percakapan cinta antara sepasang perempuan dan pria di masa lalu yang isinya tidak berbeda jauh dengan surat cinta dan percakapan perempuan dan pria yang sebelumnya dan bahkan setelahnya. Pria yang sama, perempuan yang berbeda-beda. Pria yang sudah kehilangan diri dan jiwanya. Satu kesamaan antara pria dan perempuan tersebut, semuanya adalah mereka yang sama-sama kesepian dan sama-sama juga memburu gebu untuk cinta dan nafsu. Melarikan diri dari masalah, menutupinya, dan tidak memiliki nyali untuk berhadapan dengan diri sendiri.

Tidak berbeda dengan kisah kehidupan perempuan dengan banyak pria yang keluar masuk dalam kehidupannya sesuai dengan kebutuhan dan waktu. Sama-sama tidak mampu mengendalikan dirinya lagi walaupun tidak pernah merasa bermaksud untuk berbuat tidak baik. Dusta demi dusta menjadi keseharian dan kebiasaan, yang semakin lama semakin menjadi dan semakin pandai serta lihai. Lupa bahwa sepandai-pandainya tupai pun bisa jatuh dari pohon. Pada akhirnya, diri sendirilah yang tidak mendapatkan apa pun juga selain kehilangan demi kehilangan dan sepi yang semakin kesepian.

Janji dan janji, kapok dan maaf, sudah berulang kali diucapkan dan menjadi hanya sekedar kata. Kata yang begitu indah dan merupakan berkat serta anugerah itu pun hanya menjadi bulan-bulanan yang dimanfaatkan untuk sebuah kehausan dan nafsu yang tak terkendalikan. Tidak ada rasa hormat sama sekali terhadap yang telah memberikan anugerah tersebut, walau terus menggunakannya bagaikan malaikat yang turun dari surga. Kehidupan pun menjadi suram dan gelap, karena walau bagaimana pun juga, selalu ada imbalan dari setiap perilaku. Bagaimana mau dihormati bila diri sendiri saja tidak mampu menghormati diri sendiri, orang lain, dan bahkan Sang Pencipta?!

Tidak penting?  Pernah ada yang berkata bahwa orang yang paling banyak beralasan adalah orang yang tidak bahagia. Itu benar adanya, karena itu tidak penting mendapatkan kehormatan itu pun merupakan alasan yang sesungguhnya hanya untuk menutupi dan mengelabui diri sendiri. Siapa yang tak mau memiliki harkat, derajat, martabat yang terhormat di mata Tuhan? Jika memang tidak ingin, jangan pernahlah mencari kebahagiaan ataupun menggunakan Dia sebagai dalil. Tidakkah punya rasa malu?!

Yang paling menyedihkan adalah karena sudah begitu batunya, maka tidak lagi mampu melihat bahwa tidak semua orang sama. Memberikan nilai  disadari tidak disadari atas penilaian terhadap dirinya sendiri.  Mereka yang tidak sama, tidak mau berbuat sama, tidak mau menjadi sama malah dijadikan bulan-bulanan permainan. Terus saja direndahkan dan terus saja dihinakan sebagai bentuk kemarahan dan sesungguhnya itu hanya untuk menutupi rasa malu saja. Toh tidak tahu juga apa yang harus dilakukan lagi karena tidak mampu membuktikan dan mendapatkan bukti. Kecemburuan itu menjadi besar dan tidak heran bila semakin juga tidak memiliki keyakinan. Bagaimana bisa mempercayai orang lain bila sadar penuh bahwa diri sendirilah yang sebenarnya tidak bisa dipercaya?!

Seringkali ada keinginan untuk bisa menghentikan agar kesedihan itu tidak lagi terus berlanjut. Setiap orang berhak untuk menjadi lebih baik dan berubah. Mendapatkan kembali derajat, kehormatan, dan martabatnya baik di dunia maupun akhirat agar damai dan bahagia itu benar bisa dimiliki. Surga adalah milik semua, bila semua mau memberi dan tidak hanya selalu menuntut. Memberi yang bukan untuk kesenangan dan kepuasan diri, tetapi benar memberikan dengan tulus dan ikhlas penuh hormat dengan cara yang terhormat. Namun, apalah daya, tidak ada seorang manusia pun yang bisa menjadi malaikat.

Perubahan tidak akan pernah bisa dilakukan oleh orang lain, hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri dan dimulai oleh diri sendiri. Percuma menginginkan perubahan dan berusaha mengubah orang lain pun karena segala sesuatunya sangat tergantung pada setiap pribadi masing-masing. Belum tentu diri sendiri pun lebih baik dan bisa berubah menjadi lebih baik. Ketakutan atas diri sendiri dan bercermin pada diri sendiri, bukan hanya menuduh dan menilai yang lain, jauh lebih sulit untuk dilakukan. Melawan dan mengalahkan serta mengendalikan diri bukanlah hal yang mudah.

Jika dipikirkan kembali, apa sebenarnya yang sudah diperoleh dari semua yang sudah dilakukan itu?! Kesenangan dan kepuasan? Benarkah dapat senantiasa abadi? Semua itu hanya sesaat saja karena semua ada masa dan waktunya. Tidak ada dusta dan kemunafikan baik terhadap diri sendiri maupun yang lain bisa bertahan walau terus disembunyikan. Bagaimana bila mereka yang sangat kita cintai, anak-anak, cucu-cucu dan keturunan yang selanjutnya, menjadi kecewa dan sedih atas apa yang sudah dilakukan? Mereka tak lagi mau mendekat, mendekap, dan bahkan tak mau lagi bertemu. Sanggupkah?! Benarkah senang dan puas?!

Bila merasa benar sanggup, cobalah dulu untuk uji nyali keberanian. Seberapa besar keberanian itu ada untuk membuka dusta dan kemunafikan yang ada dengan benar-benar menjadi terbuka dan jujur di hadapan mereka?! Bagaimana bila ada salah satu dari orang-orang yang pernah merasa sakit hati itu datang dan marah, lalu menghukum di depan anak-anak itu?! Bagaimana dengan rasa dosa dan bersalah terhadap mereka?

Apa yang sebetulnya diinginkan? Apa yang dituju? Tidak usah bicara soal masa lalu tetapi apa langkah yang mau diambil untuk mendapatkan keinginan dan tujuan itu?! Keseriusan dan kesungguhan akan komitmen dan janji bukanlah soal main-main dan bukan juga permainan. Beruntung jika menang, bagaimana bila menang pun sesungguhnya hanya kekalahan?!  Keberanian dan ketegasan di dalam menghadapi diri sendiri sangat dibutuhkan.

Inti dari semua perbuatan yang sudah dilakukan itu, dasarnya hanya  pada rendah dan tidak adanya rasa percaya diri. Bisa saja tampaknya dan tampilannya teramat sangat percaya diri bahkan kelihatan kuat, tegar, baik, dan sangat relijius. Semuanya begitu tampak tertutup rapi dengan dalil-dalil seolah benar dari surga. Semua topeng bisa digunakan untuk menutupi di hadapan manusia biasa, tapi tidak bagi Dia. Begitu juga bagi yang sudah tahu dan mengerti, karena sangat mudah sekali sebetulnya untuk dapat merasakannya. Manusia itu tidak pernah bisa lepas dari jiwanya, dan siapapun yang sudah kehilangan jiwanya maka tidak akan pernah bisa menjadi dirinya sendiri.

Oleh karena itu, yang paling utama adalah mengembalikan rasa percaya diri dan keyakinan pada diri sendiri sebagai salah satu bentuk iman dan hormat kepada-Nya. Tidak usah banyak bicara dan tidak perlu juga membuktikannya kepada siapa pun juga. Kembalikanlah jiwa itu kepada tempatnya dan satukanlah kembali dengan tubuh dan pikiran agar semuanya kembali seimbang.

Janji di bulan puasa sangatlah indah dan sakral sekali. Tiada maksud untuk menekan ataupun terus menyalahkan atau menilai dan menghukum. Hanya ingin mengingatkan saja, bagaimana berkah dan rahmat di bulan yang sangat suci ini tidak akan pernah berarti bila tidak terus dilanjutkan dan diberikan serta disebarkan pada setiap bulan-bulan yang lain, waktu-waktu yang lain, saat-saat yang lain, pada setiap detiknya.

Batu yang  paling keras sekalipun dapat berubah menjadi gumpalan hati yang sangat lembut. Tidak ada lagi duri yang menancap dan menusuk. Tidak ada juga rasa sepi dan kesepian. Semua dapat menjadi sangat indah bercahaya bila dipenuhi oleh cinta-Nya. Bahkan mampu menjadi terang yang luar biasa berkah dan manfaatnya bagi seluruh semesta dan seisi-Nya.

Lihatlah ke depan, susunlah setiap langkahnya dengan pasti dengan keseriusan, kesungguhan, ketulusan, dan penuh keyakinan. Tidak ada yang tidak mungkin bila Dia sudah memberikan restu dan ijin. Dia sungguh Maha Besar, Maha Pengampun, dan Maha Penyayang. Dia pasti memaafkan dan pasti juga membukakan pintu serta menuntun, bila kita pun meminta dengan  sungguh-sungguh dan dengan penuh hormat. Dia selalu ada bila kita memberikan Dia tempat terhormat di setiap yang ada pada kita. Dirikanlah, bukan dengan hanya tubuh atau sekedar kata tanpa arti dan makna, tetapi dengan segenap jiwa, hati, dan pikiran. Yakin!!!

Sungguh menjadi sebuah kebahagiaan yang tiada berperi dan akan menjadi selamanya, bila jiwa itu kembali ada dan keyakinan itu utuh. Kita semua bukanlah siapa-siapa tetapi kita bisa memberikan hormat dan kehormatan kepada semua. Belajar dan terus berubah menjadi lebih baik adalah hormat. Menghargai diri sendiri dan orang lain adalah kehormatan. Bila matahari pun selalu menepati janjinya, mengapa kita yang paling sempurna tidak bisa?!

“Janji di bulan puasa, cinta ini tidak akan pernah berubah. Hanya ada satu, tidak ingin dan  tidak ada yang lain. Suara hati begitu jelas dan yakin itu benar adanya. Cinta kita hanya satu dan untuk semua. Semoga menjadi berkat dan rahmat yang senantiasa.”

Salam hangat penuh cinta,

Mariska Lubis

14 Agustus 2012

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Janji di Bulan Puasa

  1. semoga kita selalu memegang janji kita.

    salam
    Omjay

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s