Bingkisan Terindah Dari Para Malaikat

Air turun dari langit membersihkan bumi. Tiada henti dan terus menerus turun bersama petir yang seolah gemas dengan kotornya bumi ini. Seorang anak tanpa ayah dan ibu meringkuk merintih kesakitan. Batuk yang tak kunjung berhenti di udara yang dingin membuatnya semakin kesakitan. Apalagi, ketika dilihatnya air mulai menggenangi lantai rumah tempatnya berteduh.

Virus-virus yang dapat menyebar ke sepuluh orang dalam waktu seminggu dan tersimpan di dalam tubuh dalam jangka waktu lama itu telah membuatnya lelah. Sekujur tubuhnya sakit seperti tertusuk. Makanan sulit untuk diterima dan dicerna. Obat sudah diberikan namun membutuhkan waktu untuk dapat membuatnya sembuh kembali. Setelah sekian lama dia harus menahan sakit itu, dia pun mulai kehilangan keinginan untuk sembuh.

Di tempat yang lain, seorang anak tersisih dari lingkungan dan keluarga besar. Bersama dengan kedua orang tuanya dia harus menghadapi hari-hari yang kian lama kian mencekam. Waktu itu akan segera datang namun entah kapan tiba. Tanpa tahu apa dosa yang telah diperbuatnya, dia harus menderita penyakit menular yang paling ditakuti di muka bumi ini. Kedua orang tuanya pun sama dengan dirinya, walau mereka barangkali tahu apa yang telah mereka perbuat sebelumnya.

Ketika air itu datang menghampiri rumah mereka, ketakutan kian bertambah. Ke mana mereka harus pindah? Tempat penampungan untuk yang sama seperti mereka pun sudah penuh. Mereka pun sudah terlalu takut untuk bertanya, takut membayangkan wajah-wajah dan suara yang penuh hinaan dan ketakutan tertular oleh mereka. Sudah terlalu sering hujatan itu diterima walaupun sudah banyak yang memberikan cerita dan kebenaran.

Setiap kali membayangkan semua ini, pedih pilu hati terasa. Tidak ada banyak yang bisa dilakukan dan tidak banyak yang bisa diperbuat. Berteriak meminta tolong dan bantuan pun seringkali sudah menjadi tiada guna dan bahkan acapkali menjadi sebuah duri yang menusuk perlahan. Pertolongan yang sudah diberikan mereka yang berhati mulia pun mungkin larut bersama banjir yang datang. Pemotongan demi pemotongan untuk kepentingan dan nafsu membuat semakin banyak yang tak berdaya.

Melawan semua itu?! Terkadang berpikir, untuk apa melawan?! Hanya menghabiskan waktu sementara pikiran tidak bisa tenang dan terfokus. Mereka yang membutuhkan pertolongan justru menjadi terabaikan. Prioritas adalah yang utama karena kaki dan tangan masih tetap dua meskipun kemudian bertambah terus dan semakin banyak lagi.

Daftar penderita penyakit seperti mereka yang tercatat kian hari kian bertambah dan tidak pernah berkurang meski banyak yang telah kembali pada-Nya. Berlimpah dana diberikan, beragam cara penanganan dilakukan dan diterapkan, namun tetap tak berubah. Bahkan penambahannya semakin meningkat seiring semakin banyaknya dana dan program. Bertanya?! Tak perlu juga. Untuk apa ditanyakan lagi?!

Keterbatasan bukanlah halangan untuk melakukan sesuatu. Biarlah dianggap kecil dan tak besar, tak perlu juga harus diketahui oleh banyak orang, namun pasti selalu ada jalan untuk melakukan sesuatu. Melakukan sesuatu yang kecil pun belum tentu tidak berarti besar, terutama untuk diri sendiri. Lagipula, sesuatu yang baik belum tentu menjadi benar bila tidak dilakukan dengan benar. Uang bukanlah yang mereka selalu butuhkan, namun perhatian, pelukan, dan penerimaan.

Mereka memang membutuhkan pertolongan tetapi mereka tetap harus terhormat dan merasa memiliki harga diri. Semangat hidup itu bukan karena iba namun karena kasih sayang yang tulus. Mereka harus tetap tegar dan kuat menghadapi segala sesuatu yang terjadi, pertolongan terbesar justru harus datang dari diri mereka sendiri. Pertolongan sebesar apapun yang diberikan manusia, hanya akan sementara dan sesaat. Mereka harus mampu melawan diri mereka sendiri dan tetap hanya berkeyakinan pada-Nya. Semua yang mereka terima merupakan yang terindah dan terbaik, meskipun menyedihkan dan menyakitkan. Dia sangat sayang mereka, dan mereka adalah yang tersayang. Dia senantiasa selalu ada bersama mereka.

Teringat dengan perempuan belia yang berasal dari daerah dengan predikat “bermoral”. Tidak ada yang mau mengakui penyakit yang dideritanya karena malu terhadap nilai. Dia memang telah melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa dianggap tak bermoral di daerah “bermoral”, namun dusta dan kemunafikan merupakan bukti atas nilai dan predikat moral yang berlaku. Hingga kemudian seorang berhati mulia membawanya pergi jauh, menempatkannya di rumah yang nyaman walau hanya sekedarnya. Semua itu dilakukan hanya agar perempuan belia itu dapat menerima “kelayakan” dunia. Salah?! Tiada manusia yang tidak pernah bersalah. Kesalahan terbesar akan semakin mendera diri ketika menunjuk jari dan mencuci tangan.

Waktu yang tak bisa dihindari itu pun tiba. Perempuan itu menghembuskan nafas terakhirnya, di tempat yang jauh bahkan dari ibu yang telah melahirkannya. Ketika dikabarkan berita, mereka pun seperti menolak dan malu untuk menerimanya. Berita itu pun disampaikan ke banyak pihak agar dapat membantu memberikan pemakaman dengan cara yang benar dan layak. Pada saat itu, sang malaikat penolong pun sedang kesulitan uang. Namun, mereka yang besar itu pun tidak lagi mau melihat yang kecil dengan berbagai alasannya. Administrasilah, prosedurlah, dan lain sebagainya. Entahlah, apa yang ada dalam benak mereka. Biarlah mereka hidup dengan pikiran dan hati mereka sendiri. Dia Maha Tahu atas segalanya.

Beruntung masih ada banyak jiwa-jiwa mulia yang berbaik hati untuk membantu. Tanpa harus banyak bertanya dan curiga, memberikan adalah benar memberi. Yang dibantu dan ditolong pun tidak meminta lebih, hanya secukupnya untuk biaya pemakaman yang benar dan layak bagi perempuan itu. Selebihnya, dia masih memiliki harga diri untuk mencari biaya sendiri. Dengan bekerja bukan dengan mengemis dan meminta seperti yang selama ini dilakukannya.

Tak mampu berkata banyak dan tak ada lagi kata untuk diuraikan. Tulisan ini dipersembahkan bagi para malaikat berhati mulia di bumi yang telah banyak membantu mereka yang membutuhkan dengan segala ketulusan. Tanpa pamrih, tanpa banyak bicara, tanpa banyak mengeluh. Semoga hadiah dan bingkisan di penguhujung tahun yang diberikan oleh para malaikat itu menjadi berkat dan rahmat bagi semua. Meskipun kecil, tetapi semua adalah keindahan. Damai itu pun menjadi kian terasa. Terima kasih untuk semua keindahan, kebahagiaan, dan kedamaian itu.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

27 Desember 2012

NB:

Teruntuk kalian wahai tangan-tangan kecil, yakinlah! Bahagia senantiasa itu pasti akan kalian terima. Dia tidak pernah meninggalkan kalian bahkan untuk sedetik. Peluk cium. Semangat, ya!

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s