Ketika Waktu Berhenti

Seekor ulat bulu tengah merayap ketika waktu berhenti berputar. Daun-daun yang seyogyanya menari bersama hembusan angin menjadi senyap dan kaku seketika. Tidak ada lagi gairah dan pandangan yang menggoda. Hanya ketakutan yang tersisa.

Menangis dan berharap akan ada kupu-kupu besar datang menolong dan membawa pergi. Memberikannya cinta dan kasih sayang. Melepaskannya dari tikaman duri mawar merah yang kian lama kian merongga. Bertanya, “Apakah tidak ada cinta walau setitik untukku, ayah? Apakah tidak ada sehelai kasih sayang meski sebenang untukku, ibu?”.

Petir menyambar di antara awan gelap menambah dera dalam ketakutan. Suara-suara terus menggelegar memekakkan telinga. “Pejantan mana yang mau mendampingimu betina jalang? Orang tuamu pun bahkan tak ingin menyentuhmu! Dirimu memang cantik dan menggeliat, tetapi dirimu membuat sekujur tubuh gatal dan panas oleh sengatan. Lihatlah kehancuran yang sudah dirimu perbuat pada daun-daun itu! Memalukan!!!”

Air mata sepertinya sudah terlalu penuh membanjiri. Ulat bulu kecil melingkarkan tubuhnya untuk melindungi diri. Tak ada yang mampu diperbuatnya selain diam dan membisu. Membiarkan semua itu berlalu dan pergi hingga waktu berjalan kembali. Semoga luka yang merongga itu pun bisa sembuh seiring perjalanannya.

Ketika waktu berjalan kembali, dia mulai merasakan angin kembali bertiup. Daun-daun tampak bergoyang dan menari lagi. Matahari pun memberikan senyum menawan menghapus petir dan awan gelap. Perlahan-lahan dia mencoba mengangkat tubuhnya dari duri yang menancap. Memberanikan diri untuk meninggalkan bunga mawar merah yang ingin dicumbunya. Merah itu bukanlah cinta dan kasih sayang rupanya, merah itu adalah marah dan kebencian.

Ulat bulu bermimpi, pada masanya tiba dia mampu memiliki sayap yang indah, terbang ke sana ke mari memberikan kehidupan. Menjadi induk yang tidak hanya sekedar bertelur tetapi memberikan keindahan bagi semua. Melawan arus takdir yang diyakini baik oleh kebanyakan induk dan anak. Menenggelamkan diri ke pusara bumi untuk bisa lebih meresapi arti dan makna.

Tidak perlu mengemis, menangis, dan berharap lagi. Meski hanya sekejap waktu, ada yang pasti dapat dilakukan dan diperbuat. Dia tidak ingin ada ulat-ulat bulu kecil yang dibuang, terbuang, diremehkan, dan dilecehkan. Untuk apa berburu cinta dan kasih sayang bila memberikan cinta dan kasih sayanglah yang sesungguhnya membuat dia hidup dan memiliki kehidupan? Toh, mimpi bukanlah mimpi karena mimpi adalah nyata bagi yang yakin dan berani mewujudkannya menjadi nyata.

Barangkali mengukir bintang adalah sebuah kemustahilan bagi sebagian dan kebanyakan. Sedikit demi sedikit ukiran diulir oleh pahat yang terpilih dan dipilih. Sedikit saja salah menjadi kefatalan. Mengulang dan melakukan kesalahan bukanlah sesuatu yang patut untuk ditakuti untuk mencapai kesempurnaan. Dedikasi dan kesabaran serta konsistensi merupakan buah dari cinta yang dimiliki dan itulah yang akan menghasilkan keindahan.

Butuh proses dan waktu untuk membuktikan dan merasakan keindahan sinar binar dan terang bintang yang dihasilkan kemudian. Berapa banyak juga yang akan menyadari betapa sulitnya mengukir bintang itu hingga sedemikian indahnya? Untuk apa juga dipikirkan?! Sampah dan remah akan selalu menjadi sampah dan remah bagi yang congkak dan tahu. Butuh nyali untuk menjadi remah dan pengumpul remah yang tercecer.

Ulat bulu harus mampu membangun kepompongnya sendiri. Daun-daun terkoyak itu tidak akan pernah menderita. Meski mereka hanya daun tetapi mereka lebih memiliki hati. Memberikan cinta baginya agar dia dapat terus berjalan dan menempuh setiap perjalanan. Ada matahari juga yang selalu memberikan terang dalam gelap dan menjadikan gelap itu terang. Melati di tepian pun selalu memberikan aroma keharumannya untuk memberikan semangat. Kenapa tidak mampu? Duri itu memberikan bekas luka, tetapi tidak ada artinya bila tujuan itu terus terjaga. Bunga mawar merah tak perlu dihampiri dan dikejar, mengukir bintang sudah melebihi segalanya.

Ulat bulu tidak perlu gentar melawan burung-burung lapar yang terus ingin melahapnya. Kepala harus tetap tegak dan berdiri. Tubuh harus terus menggeliat dan menggoda. Sengatan bulu-bulu itu tidak akan permah bisa hilang dari ingatan. Sakitnya lebih dari sekedar duri bunga mawar merah. Selalu ada jalan untuk bisa bertahan dan meneruskan perjalanan. Meski sendiri namun sesungguhnya tidak pernah ada yang sendiri.

Beruntung masih ada senja yang membuatnya bisa merebahkan diri. Menikmati selimut kehangatan setelah terbakar dan sebelum terlelap. Uluran tangannya menyelinap dan menyentuh setiap kujur dan memenuhi dirinya dengan cinta dan kasih sayang yang selalu didamba. Membuatnya merasa nyaman dan tenang, beristirahat sejenak mengumpulkan kembali tenaga menjelang nanti. Meronakan mimpi hingga bintang itu benar bisa menjadi terang bagi semua.

Sungguh mahal arti cinta dan kasih sayang. Cinta dan kasih sayang bukan hanya sekedar kata terucap, bukan juga merupakan kewajiban dan hak. Mempertanyakan dan menginginkannya justru membuat cinta dan kasih sayang itu semakin menghilang dan jauh. Alasan dan rasionalisasi tidak akan pernah memerdekakan diri dan menjadikan bahagia. Mampu merasakan dan menikmatinya jauh lebih berarti. Memberikan dan menerimanya dengan penuh ketulusan dan kejujuran akan jauh lagi lebih bermanfaat.

Ulat bulu akan menjadi kupu-kupu terindah bersahapkan malam dan senja, memastikan waktu tidak akan pernah lagi berhenti.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

24 Maret 2013

NB: Teruntuk senja, selalu ada cinta dan rindu untukmu.

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Mariska Lubis and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s