Pelajaran Berharga Dari Era Love and Peace 60’s – 70’s

Tidak perlu diragukan bahwa generasi tahun ‘60 dan ‘70-an memang sangat berwarna-warni, menakjubkan, dan kontroversial. Memberikan perubahan yang dilakukan sedemikian drastisnya terhadap kondisi sosial politik, dan budaya baik di Amerika maupun seluruh dunia. Pertanyaannya, apakah benar itu adalah proses modernisasi yang membuahkan kehidupan menjadi lebih baik pada saat ini dan juga nanti?! Ataukah semua itu hanyalah sebuah “perburuan” untuk mendapatkan kesenangan semata?!

Saat ini saya tidak sedang membahas bentuk revolusi seni yang mereka lakukan, tetapi lebih kepada perihal pola pikir dan cara pandang mereka yang mempengaruhi kehidupan sosial, politik, dan budaya pada masa itu dan pengaruhnya hingga sekarang ini. Persamaan status sosial (ras, gender, dan pilihan perilaku seks), gaya hidup bebas (sex, drugs, and rock ‘n roll), peniadaan batas counterculture (lintas budaya), juga penyebaran aktivitas demokrasi.

Generasi ini memang telah berhasil meluruhkan perbedaan dalam status sosial yang pada masa sebelumnya sangat kental dan kuat. Feodalisme dan hirarki dalam status sosial memang seringkali membuat masalah sehingga kemudian menjadi peperangan dan juga bahan serta sarana untuk saling menjatuhkan dan menghabisi satu sama lainnya. Namun perubahan yang dilakukan ini terlalu radikal, menurut saya, karena tidak mengindahkan budaya yang ada sebelumnya juga kesiapan atas mental mereka yang harus menghadapinya.

Budaya yang sebelumnya ada itu dianggap tidak modern dan merusak serta primitif dan terbelakang sehingga kemudian pemikiran dan pola pikir atas masa sebelumnya menjadi tidak diindahkan dan dianggap tidak penting. Melupakan berbagai macam kondisi yang mungkin saja bisa terjadi, hanya terpaku pada keadaan pada masa dan saat itu saja, terutama pada masa Perang Vietnam terjadi.

Sebagai salah satu contohnya adalah masalah feminisme yang menjadi rancu. Saya seorang perempuan tetapi saya menentang bentuk feminisme yang ada sekarang ini. Saya seorang perempuan yang bangga menjadi seorang perempuan tetapi saya juga seorang perempuan yang mengakui segala kelemahan dan kekurangan saya sebagai seorang perempuan. Biar bagaimanapun juga saya tidak ingin mendapatkan hak esklusif atas keperempuannya saya lalu mendapatkan perlakuan istimewa yang berbeda hanya untuk diakui keperempuanan saya. Saya juga tidak ingin dikasihani seolah-olah sebagai makhluk yang tidak berdaya sehingga harus diberdayakan.

Bila memang ingin mendapatkan posisi yang sama, seharusnya disadari bahwa perempuan dan pria sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga bisa saling mengisi dengan cara saling menghormati dan saling menghargai. Persamaan itu ada lewat bagaimana kita bisa mengisi, menghormati, dan menghargai, bukan dengan cara menunjukkan kekuatan, mengemis pengakuan, atau berharap mendapatkan perlakuan istimewa dan ingin diistimewakan.

Masalah penyamarataan posisi ini juga menjadikan kita sering kali tidak tahu bagaimana beretika meski merasa sangat tahu dan mengerti tentang etika. Merasa sama lalu boleh menyamaratakan semuanya. Tentunya ini sangat berpengaruh pada pola pikir dan cara pandang. Jika semua disamaratakan begitu saja, meski itu merupakan sebuah bentuk pemberontakan terhadap feodalisme, namun tidak berarti “posisi” bisa diabaikan begitu saja hingga pada akhirnya menjerumuskan sendiri. Sekarang, pemimpin pun tak bisa membedakan posisinya, baik sebagai seorang pemimpin, negarawan, politisi, anggota masyarakat, ataupun sebagai seorang kepala keluarga. Malah banyak juga yang berlebihan dengan terlalu memanfaatkan posisinya. Jika demikian, siapa yang kemudian dirugikan?!

Masyarakat pun tidak tahu dan sadar akan “posisi”-nya. Kedaulatan berada di tangan rakyat itu hanya menjadi sebuah slogan untuk permainan saja. Buktinya, semua masih saja menjual kepedihan dan kesengsaraan untuk diberi belas kasihan. Apa mengemis itu baik?! Kenapa tidak berusaha keras untuk menjadi pribadi yang mandiri?!

Ada waktunya seseorang itu memang patut untuk diberikan bantuan, tetapi tidak berarti kemudian menjadi manja oleh belas kasihan dan rasa iba dari yang lainnya. Berapa banyak pengemis yang memiliki tanah dan sawah juga rumah yang mewah di kampungnya?! Berapa banyak korban bencana yang memiliki banyak rumah hasil sumbangan dan donasi yang seharusnya dimiliki oleh korban yang lainnya?! Berapa banyak yang merasa pahlawan dan lalu membeli “pahala” dengan memberikan sumbangan dan bantuan kepada yang lainnya?! Uangnya dari mana tak dipertanyakan juga, kan?!

Begitu juga di dalam penerapan gaya hidup bebas serta peniadaan batas counterculture yang dilakukan mereka. Menurut saya, sudah sangat merusak budaya dan juga integritas pribadi, bangsa, dan negara. Lihat saja apa yang kemudian terjadi di Amerika Serikat?! Masalah gaya hidup bebas dan budaya yang tidak jelas menjadi masalah tersendiri yang sampai sekarang sulit sekali untuk diatasi dan dibenahi. Mereka menjadi kebingungan sendiri dengan budaya yang ada, karena cenderung sangat pop alias sangat tergantung kepada masa dan jamannya saja, alias trend yang terjadi. Begitu juga dengan di Indonesia bukan?! Lebih bangga berpenampilan dan berbahasa asing karena merasa lebih modern, kan?! Jika tidak ikutan gaya hidup seks bebas, mabuk, dan mengkonsumsi narkoba, nggak keren, ya?! Kalaupun berpakaian, bila tidak mengikuti trend, sepertinya ketinggalan jaman. Bukankah begitu?!

Pencampuradukkan budaya ada baik dan buruknya, Memang semuanya menjadi sama dan bisa bersatu tetapi di sisi lain juga bisa membuat pribadi kehilangan jati diri yang sesungguhnya. Sekarang contohnya, kita saja. Mengaku sebagai seorang Indonesia, tetapi kita lebih paham dengan budaya yang lain dan tidak juga mau mempelajari apa yang ada sebelumnya dan yang sebenarnya. Merasa lebih modern bila mengikuti trend dan menganggap yang lalu itu tidak berarti dan sama sekali tidak penting. Padahal, masa lalu itu adalah sangat penting, karena biar bagaimanapun juga, masa lalu adalah pijakan kita untuk melangkah dengan lebih pasti.

Sejak generasi ini tumbuh, manusia menjadi sangat berubah sekali. Patriotisme dan nasionalisme atas bangsa dan negara sepertinya menjadi sangat berkurang dan seringkali disalahartikan dan disamaratakan dengan narcistsm dan racistm. Bandingkan dengan mereka di masa yang lalu, di mana seorang pejuang adalah benar-benar berjuang untuk semua bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok saja. Mereka juga tidak kemudian melupakan yang lalu ataupun memanfaatkannya dengan menjadikan yang lalu itu hanya sebagai simbol untuk mendapatkan kekuasaan. Bagaimana dengan sekarang ini?! Kalau sudah berkuasa, lupa dengan pengorbanan dan perjuangan mereka yang sebelumnya, bahkan tak sedikit yang kemudian menginjak , menghina, dan menyingkirkannya tanpa ada rasa hormat ataupun penghargaan.

Untuk urusan demokrasi, bagi saya, ini juga sungguh sangat aneh sekali. Demokrasi kemudian disamaratakan dengan kebebasan yang sebenar-benarnya tanpa ada batasan ataupun tanpa harus ada aturan dan peraturan yang berlaku. Menjadikan semuanya menjadi tidak memiliki aturan dan peraturan, dan kepentingan diri sendiri serta pandangan pribadi menjadi lebih didahulukan. Bagaimana kemudian semua ini bisa memberikan perdamaian yang abadi bagi semua?! Semua bisa saja menjadi “raja” dan “penguasa” atas diri sendiri tetapi apakah bisa untuk tidak memiliki keinginan untuk menjadi “raja” dan “penguasa” atas yang lainnya?! Kebebasan itu sendiri pun menjadi terbungkus oleh derita dan penderitaan.

Tahun-tahun itu memang sudah lewat lebih dari 30 tahun silam, tetapi anak dan cucu dari generasi yang mengagungkan cinta dan kedamaian itu, apakah benar-benar sudah mengerti tentang cinta dan damai itu sendiri?! Berapa banyak dari kita, sebagai generasi penerus mereka yang masih juga dituntut untuk mengabdi dan berbakti kepada mereka dengan mengikuti apa yang mereka inginkan dan menjadi apa yang mereka inginkan juga. Apakah benar itu cinta?! Cinta untuk siapa?! Cinta untuk diri sendiri atau cinta untuk anak dan cucunya?! Apakah benar itu memberikan kedamaian?! Kedamaian untuk siapa yang sebenarnya?!

Seks adalah titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri. Hanya dengan cinta yang sesungguhnya maka kehidupan ini menjadi sangat berarti dan bermakna bagi kehidupan kini dan juga nanti. Damai itu sendiri hanya ada di dalam diri dan juga di dalam jiwa yang merdeka dan bahagia serta penuh dengan cinta. Damai dan kebebasan yang semu tidak akan memberikan kebahagiaan yang senantiasa abadi. Cinta yang diungkapkan itu pun sesungguhnya hanya cinta untuk diri sendiri saja dan hanya untuk memberikan kesenangan pribadi semata. Sebuah egoisme yang tidak memberikan arti dan manfaat bagi perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Sebab cinta itu justru seharusnya menjadi aspirasi untuk menjadikan kehidupan ini menjadi lebih baik lagi.

Marilah kita semua sama-sama belajar bahwa bila ingin melakukan sebuah perubahan ada baiknya bila kita meninjau segala sesuatunya dari berbagai aspek dan dari berbagai sisi pandang. Jangan pernah lupa juga untuk belajar dari masa sebelumnya dan jangan sampai mengabaikan apa yang pernah terjadi sebelumnya juga. Kita semua harus berpikir baik-baik dan matang juga menjadi sangat siap dengan perubahan itu sendiri.

Semoga bermanfaat!!!

Salam

Mariska Lubis

13 september 2010

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Politik, Sosial dan Politik and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s