Mengapa Saya Menulis Terus?!

Ada banyak alasan untuk tidak menulis, ada juga banyak alasan menulis. Jika diuraikan satu persatu tentunya akan sangat panjang dan rumit sekali. Namun, bila kita mau melihat lebih mendalam lagi, sesungguhnya menulis adalah salah satu cara mengikuti ajaran-Nya yang paling mendasar sekali. Memang tidak disebutkan langsung di dalam kitab, tetapi tersirat dari setiap kitab suci yang ada di dunia ini.

Membaca kitab-kitab suci dari berbagai ajaran agama di dunia ini, selalu membuat saya tertegun dan tidak mampu berkomentar apa-apa selain, “Maha Besar Allah”. Memang isinya tidak sama atau tidak persis sama satu sama lain, tetapi saya melihat satu persamaan penting, yaitu bahasa yang digunakan. Meski berbeda bahasa, terjemahan atau tidak, semua memiliki susunan kalimat dari kata-kata yang indah dan sempurna. Memiliki ritme teratur yang sulit sekali untuk ditiru manusia biasa, dan struktur serta alurnyanya pun sangatlah rapi sekali. Butuh keahlian tinggi dan nalar yang hebat untuk mampu menuliskan semua itu. Lantas, saya berpikir, mengapa dibuat demikian?!

Saya lalu teringat dengan kata “membaca dan belajar” yang disarankan untuk dilakukan oleh semua ajaran agama di dunia ini. Membaca kitab-kitab itu membuat saya menyadari bahwa membaca sangatlah tidak mudah. Untuk membaca tulisan manusia biasa saja, bisa jadi salah pengertian. Sangat tergantung pada persepsi, asumsi, daya baca, dan bahkan tujuan serta niat masing-masing pembacanya. Apalagi jika membaca kitab suci, tentunya sangat tidak mudah untuk dapat mengerti arti dan makna setiap katanya. Untuk membaca dan mengahafal barangkali lebih mudah untuk sebagian manusia, tetapi pasti sulit sekali untuk benar mengerti arti dan maknanya. Apa yang tersirat dan tersurat bisa berbeda, belum lagi bila dibaca sesuai teks atau konteksnya. Kan, aneh juga bila wahyu diturunkan kepada Nabi yang buta aksara, bagaimana Nabi-nabi itu bisa membaca-Nya? Apa cukup dengan dua matayang ada di wajah atau…. Apa, ya, maksud Allah memberikan contoh itu semua?!

Ambil contoh dari Ibnu Arabi yang banyak menulis menggunakan bahasa pujangga untuk menggambarkan bagaimana cintanya kepada Yang Maha Kuasa. Jika dibaca sekilas, hanya sekedar teks saja, dulu pada zamannya, banyak pembaca yang menuduhnya tidak sopan karena menggunakan penggambaran sosok perempuan sebagai keindahan dan kata-kata yang menjurus pada percintaan dan persetubuhan sebagai penggambaran betapa kuatnya desakan dan dorongan untuk bisa terus bercinta dan dekat dengan Allah. Baru kemudian ada “penerjemah” yang berpikiran bebas dan merdeka, yang bisa mengerti apa arti dan makna semua tulisannya. Biasalah, lebih banyak yang “telat” tapi nyaring gonggongannya daripada yang “maju” dan bicara benar.

Oleh karena itu, wajarlah bila juga diberitahu untuk “belajar”. Jika benar semudah itu untuk mengerti, maka untuk apa disarankan belajar?! Malah ada yang disebutkan bahwa belajar adalah bagian dari iman. Bagi saya sendiri, belajar merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap Yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia diberikan akal dan budi. Jadi, jika tidak digunakan sebaik-baiknya, untuk apa?!

Dari proses belajar tersebut, saya merasa mendapat pelajaran yang sangat penting ketika diminta untuk mengikuti ajaran-Nya. Wah,ini dia yang bikin pusing! Bukan hanya sulit tetapi sangat berat!!!

Saya kembali berpikir dan mengolah pikiran. Sebagai manusia, tentunya kita harus selalu kreatif dan berkarya. Jika tidak kreatif dan tidak berkarya, apa bedanya dengan hewan dan tumbuhan? Kasihan banget Allah yang sudah memberikan kemampuan manusia demikian kalau saya tidak kreatif dn berkarya. Nah, dari sinilah saya mendapatkan titik terangnya.

Saya ingin sekali bisa terus belajar, berkreasi, dan berkarya. Mampu membaca dengan baik, seminimal mungkin tidak membatasi diri oleh persepsi dan asumsi yang mengurung dan membatasi diri. Selain itu, saya juga ingin mengikuti ajaran-Nya semampu saya. Tidak perlu yang muluk-muluk, yang sederhana tetapi sangat mendasar saja dulu. Apa yang harus saya lakukan?! Jawabannya hanya satu, yaitu MENULIS!!!

Menulis membuat saya harus terus belajar dan belajar. Harus mampu terus berimajinasi dan untuk menghasilkan karya juga dibutuhkan kesabaran, ketekunan, serta kerja keras yang tiada berujung. Untuk bisa terus berkarya juga dibutuhkan kerendahan hati, karena kesombongan akan membuat kreatifitas itu hancur dengan sendirinya. Menulis juga penuh beban dan tanggung jawab, tidak bisa asal-asalan atau semaunya. Walaupun banyak yang berpikir soal kebebasan dan hak, tetapi ada juga yang namanya kewajiban yang membatasi. Jika hanya menuntut hak dan kebebasan saja, maka tidak akan pernah seimbang. Menulis juga bukan hanya mengasah pikiran tetapi juga mengasah dan mengolah rasa. Kepekaan dan naluri harus tetap dijaga dan dipelihara.

Mengikuti ajaran-Nya?! Wah, jika Allah membuat kitab suci untuk menyampaikan pesan-pesannya lewat tulisan, mengapa saya tidak mengikuti saja jejak-Nya?! Dia sedari awal sudah memberi contoh untuk menulis, itu yang paling awal dan mendasar sebelum menyarankan membaca dan belajar. Memang tidak mungkin untuk bisa menulis seperti Dia, tetapi belajar menulis dari-Nya, kan, boleh. Apa yang mau ditulis dan bagaimana menuliskannya kemudian, itu adalah bagian dari proses belajar itu sendiri.

Pantaslah jika banyak pengikut dan murid-murid-Nya memilih untuk menulis. Merangkaikan kalimat untuk disampaikan sebagai persembahan dan penghormatan kepada-Nya. Walaupun jenis kata dan kalimatnya, juga tema dan caranya tidak sama, sesuai dengan kemampuan, jati diri, dan kreasi ekspresi masing-masing, tetapi menulis merupakan bagian dari kehidupan mereka yang terus dilakoni hingga akhir hayat. Hingga sekarang, karya-karya mereka senantiasa menjadi abadi dan karya mereka memberi banyak sekali manfaat bagi semua di dunia ini.

Maka dari itu, saya tidak mau menulis asal-asalan. Saya juga ingin bisa berbagi dan karya saya bisa bermanfaat bagi semua. Saya bukan manusia yang pandai berhitung dosa dan pahala, tetapi tidak ada salahnya, toh, mencari pahala lewat menulis dan mengajarkan lewat menulis?!

Jika dipikirkan jauh lagi, ternyata semua pemimpin, penemu, dan orang-orang hebat di dunia ini, memiliki kemampuan menulis dan merangkai kata dengan hebat. Eistein dengan rumusnya, itu sendiri merupakan sebuah kalimat yang menggunakan simbol-simbol kesepakatan agar mudah dimengerti. Angka di dalam matematika pun merupakan bahasa simbol, bukan asal menuliskannya saja. Perlu waktu, pemikiran, dan imajinasi yang kuat untuk mampu membuat rumus-rumus tersebut. Oleh karena itu, saya juga heran bila pelajaran menulis, bahasa, dan seni dianggap tidak penting saat ini. Padahal, itulah kunci pembuka untuk mampu mempelajari banyak hal dan membuat yang baru dan terus maju. Pandai berhitung cepat belum tentu mampu berlogika, kan lebih hebat jadi penemu kalkulator tercanggih daripada menjadi kalkulatornya sendiri.

Saya mungkin tidak bisa sehebat mereka-mereka semua itu, tetapi belajar juga untuk bisa seperti mereka, bolehlah. Masa tidak boleh?! Saya ingin bisa menjadi manusia yang bebas dari kotak dan belajar semua yang bisa saya pelajari. Percuma merasa hebat pun, karena ternyata juga, semakin banyak tahu semakin banyak pula tidak tahunya. Benar apa kata pepatah, semakin berisi maka padi semakin merunduk. Bukan karena keberatan, tetapi semakin sadar betapa “kecil dan tidak ada apa-apanya” karena selalu ada yang lebih dan lebih lagi, ada juga Sang Maha yang lebih dan di atas segalanya. Menulis, benar-benar membuka “mata” saya dan membuat saya lebih sadar diri, kenal apa dan siapa diri saya, dan menjadi lebih ingin lagi memberikan yang terbaik dan terus terbaik bagi-Nya.

Dengan menulis, saya juga jadi diasah kemampuan membacanya. Tidak bisa asal baca teks lalu langsung berani klaim paham dan mengerti. Tak berani sesombong itu!!! Apalagi langsung menghujat dan memaki-maki, memberikan penilaian dan menuding, malu ah!!!

Kesimpulannya, jika ditanya sekarang, mengapa saya menulis terus?! Maka jawabannya hanya satu, yaitu saya ingin mengikuti jejak-Nya dan mencoba mengikuti ajaran-Nya. Ini saya, loh! Entah kalau penulis yang lain, yah! Monggo ditanya sendiri!!!

Semoga bermanfaat!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis
14 Agustus 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Dari Hati, Jiwa Merdeka and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Mengapa Saya Menulis Terus?!

  1. Nurul Amin says:

    Mantap kak..terus menulis dan membaca. Karena untuk bisa mengerti ajaranNya, harus bisa membaca. Untuk menyebarkan ajaran Nya, harus bisa pula menulis…sepakat sama kakak deh

  2. chairil sani says:

    Awal al quran diturunkan, kalimat utama yg disuruh adlh “iqra” bacalah, artinya untuk bisa membaca tentunya kita musti belajar bgmn membaca, dan tenunya yg dibaca adlh tulisan, ada sebagian yg mempertanyakan,apa membaca dulu atau menulis dulu ” kok spt “telur atau ayam ya hehhhe, ML dari dulu mmg sll konsisten, mulai dr kompasiana, ttg sex, dll dll, menjadikan menulis sbg olah rasa olah pikiran,bahkan olah raga, saya blm bisa mengikuti cara ML menulis,krn saya menulis,klo istilah orang batak “suka hati” hehhhhe, tapi klo ML mmg sll terstruktur, ada yg dituju, lain klo suka hati, menulis spt orang kentut hehhhhe, tetaplah sll menulis ML, salam hangat sll,

  3. bilikml says:

    Terima kasih banyak Bapak yang baik hati dan selalu membuat saya tersenyum…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s