Kemerdekaan Perempuan Indonesia

Seperti syair lagu, perempuan Indonesia selalu dijajah oleh pria sejak dulu. Apakah benar demikian adanya atau benarkah sekarang masih seperti itu?! Ada apa dengan kemerdekaan perempuan Indonesia?!

Setiap tanggal 17 Agustus, kita semua merayakan hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, bila diperhatikan lebih seksama, apakah benar kita sudah merdeka?! Jika memang benar sudah merdeka, maka tidak akan ada perempuan Indonesia yang mengamuk, meraung, dan mengemis untuk mendapatkan kemerdekaannya. Mengeluarkan segala jurus “kelemahan” dan “ketidakberdayaan” ditambah dengan isak tangis dan cerita mengharukan lewat bualan yang membuai hingga membuat semua percaya bahwa benar perempuan Indonesia tidak setara dengan pria dan masih terjajah. Kasihan amat!!!

Lihat saja kuota kursi calon legislatif yang “diberikan” kepada perempuan Indonesia, hasil dari banyak alasan dan pembenaran yang dipolitisasi. Diperjuangkan seolah bisa membuat perempuan Indonesia setara, tetapi justru malah sebaliknya. Menjadi bukti yang kuat bahwa perempuan Indonesia memang senang sekali dijajah. Sampai mau saja diberikan fasilitas berlebihan yang diperbolik untuk kepentingan, tanpa mengindahkan kualitas dan kemampuan yang sesungguhnya dibutuhkan dan diperlukan untuk membangun bangsa dan negara ini. Bangga pula!!!

Begitu juga dengan gerbong khusus dan tempat parkir yang disediakan khusus untuk perempuan. Semua itu semakin meyakinkan bahwa perempuan Indonesia memang senang dianggap lemah dan tak berdaya. Membutuhkan perlindungan pria sehingga harus mendapatkan hak ekslusif yang meski mengatasnamakan kesetaraan, sesungguhnya sudah sangat diskriminatif. Lantas, apakah kemudian dengan cara ini perempuan Indonesia merasa mendapatkan kemerdekaannya?! Menggunakan segala tipu daya agar bisa berbalik “menjajah” pria?!

Tidak usah jauh-jauh melanglang ke sana ke mari untuk mendapatkan contoh bagaimana perempuan Indonesia sudah menjajah. Di dalam kehidupan berpasangan sajalah. Perempuan menuntut pasangannya untuk memberikan uang sebagai bukti menunaikan kewajiban. Bahkan bila perempuan bekerja pun, uangnya untuk kepentingan sendiri dulu. “Dompetmu, dompetku. Dompetku bukan dompetmu”, begitulah istilah awam yang sering diungkapkan.

Sementara itu, perempuan masih juga banyak alasan di dalam menunaikan kewajibannya sebagai istri. Kebutuhan seksual pasangan baru diberikan bila diberikan “uang” atau ada kepentingan lainnya yang ingin dimiliki dan dipenuhi. Lantas, bila pasangannya tahu lalu kesal dan mencari pasangan yang lain, mengamuk pula dan menunjuk jari. Tidak juga mau bercermin pada apa yang sebenarnya sudah dilakukan. Cari pasangan lain untuk balas dendam?! Hebat banget!!!

Untuk urusan anak pun, perempuan Indonesia masih belum juga sadar bahwa surga berada di telapak kaki ibu. Ibulah yang seharusnya mengantarkan kebahagiaan untuk anaknya sebagai manusia yang mandiri dan berkerpibadian. Bukannya terus-terusan merasa anak itu adalah “hak milik” yang penuh dengan kewajiban, bukan juga sebagai anak yang terus menerus dimanja dan ditaruh di “kepit ketiak”. Anak dibuat menjadi manusia yang “tergantung” agar bisa selalu merasa dibutuhkan, dihargai, dan dihormati.

Lantas apa artinya cinta danketulusan itu?! Cinta dan kasih sayang yang katanya diberikan itu pun hanya untuk menyenangkan diri sendiri, kok!!! Jika anak berontak, tidak menurut, tidak mengikuti kemauan, lantas dikutuk, deh!!! Yah, wajarlah jika anak-anak Indonesia sulit mendapatkan kemerdekaannya. Ibunya mereka pun tidak merdeka dan terus menjajah anak dan pasangannya.

Tidak semua memang perempuan Indonesia demikian adanya. Pengabdian perempuan Indonesia di masa lalu sudah membuktikan betapa merdekanya mereka. Jika “menurut” pasangannya diartikan sebagai terjajah, maka sebenarnya ada sudut pandang lain yang bisa membuat mereka justru sangat merdeka. Yaitu ketukusan di dalam mengabdi dan memberikan cinta. Hati dan jiwa yang besar, tidak pernah mengeluh atau menuntut, dan selalu berusaha memberikan kebahagiaan kepada pasangan, anak, dan keluarganya merupakan kebahagiaan yang luar biasa bagi mereka. Di sanalah kemerdekaan jiwa itu benar ada dan menjadi sangat luar biasa.

Sadar penuh akan tempat dan posisinya masing-masing, eksistensi itu bahkan hampir tidak pernah diinginkan. Sadar dan amat sangat yakin bahwa sekecil apa pun peranannya, kehebatan pria tetap tergantung pada perempuan yang mendampinginya. Pria boleh hebat dan lebih di satu sisi, perempuan juga memiliki kelebihan dan kehebatannya sendiri. Membantu dan bekerjasama dengan pasangan mendirikan rumah tangga yang utuh dan kokoh bukanlah berarti lemah, walaupun berperan “hanya” sebagai ibu rumah tangga dan ibu dari anak-anak. Oleh karena itu, mengapa harus takut?! Masing-masing memiliki peranan dan saling membutuhkan.

Hal ini ditunjukkan dan dibuktikan oleh betapa kuatnya budaya masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan. Kekuatan dan kehebatan perempuan telah dibuktikan oleh kerja dan karya yang dilakukannya. Lihat saja proklamator kemerdekaan Indonesia, betapa mereka membutuhkan peranan perempuan di dalam kehidupan mereka dan di dalam pencapaian tujuan serta mimpi mereka. Perempuan-perempuan hebat yang mendampingi mereka tahu persis apa yang harus dilakukan. Tahu benar bagaimana menempatkan posisi dan tempat mereka. Itulah yang membuat mereka merdeka dan bisa memberikan serta menghantarkan kemerdekaan bagi semua. Apa perlu menuntut dan menjual segala bualan isak tangis?!

Perempuan Indonesia dengan segala perjuangan emansipasi yang ada sekarang ini juga telah membuktikan betapa pikiran dan nurani sudah terjajah oleh asing. Tidak lagi yakin dan percaya akan dirinya sendiri sehingga membutuhkan alasan dan pembenaran yang mendukung. Malas untuk belajar dan bercermin dari sejarah, apalagi untuk belajar rendah hati untuk mengenal apa dan siapa diri yang sebenarnya. Terus menerus menempatkan diri sebagi objek, sehingga selalu menjadi bahan pelecehan subjek-subjek yang murahan. Jangankan mau memberikan kemerdekaan, menjadi merdeka saja tidak mau. Hati dan pikiran sudah menjajah diri sendiri dan bahagia itu pun lenyap. Padahal, negeri ini sangat membutuhkan perempuan Ibu Pertiwi yang merdeka, loh! Jika masih dalam “kotak”, bagaimana bisa membantu bangsa dan negara ini?!

Saya ingin sekali perempuan Indonesia menjadi benar merdeka. Meraih kemerdekaan oleh keyakinan atas kemampuan dan kekuatannya sendiri, yang hanya bisa diraih bila “sadar” atas apa dan siapa diri serta tahu bagaimana menempatkan diri sesuai waktu dan tempatnya sebagai seorang perempuan Indonesia sejati. Bila perempuan tidak juga mau merdeka dan juga terus menjajah, maka bagaimana dengan masa depan bangsa dan negara yang kita cintai ini?! Mampukah menghadapi diri sendiri yang kelak harus mempertanggungjawabkan semuanya?!

Merdekalah perempuan Indonesia!!!

Salam hangat penuh cinta,

Mariska Lubis

17 Agustus 2013

About bilikml

I am just who I am who like to see the world fulfilled with love. The love that I have is the love that you all really have. The love is all indeed. Email: 4Lmariska@gmail.com Twitter: mariskaLbs Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Freedom, Passionate Revolution, Politics and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s