Merdekalah Indonesia!!!

Malam begitu dingin menusuk dan menyergap kalbu. Sepertinya tahu betapa hati sedang penuh dengan luapan marah dan emosi yang terus memanas setelah membaca berbagai berita yang ada di media massa. Betapa menyedihkannya negara ini, sepertinya percuma saja Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 silam. Hingga saat ini Indonesia masih dijajah, atau mungkin memang mentalnya masih mental jajahan, ya? Diajak untuk benar merdeka pun sulit sekali!!! Yang ada malah asyik saling menjajah juga! Duh!!!

Bosan rasanya membaca berita di media massa tentang Indonesia. Di mana-mana terjadi kekacauan, tidak lagi ada aturan, seenaknya sendiri saja. Mengaku cinta pada bangsa dan negara ini bahkan merasa pahlawan, tetapi malah membuat kekacauan semakin menjadi-jadi. Tidak hanya pemimpinnya, rakyatnya juga sama saja. Sama-sama menjajah satu sama lain meski mengaku tertindas.

Selalu menuntut hak tanpa mau menunaikan kewajiban. Angkuh dan keras kepala!!! Mengaku rendah hati dan tidak sombong, tetapi untuk belajar dan menjadi terdidik pun malas. Gelar dan jabatan diperbanyak, harta ditumpuk dan diburu, buku saja banyak dibaca, kritik dan memaki terus, tetapi untuk benar menjadi pintar, berpikiran modern, dan maju ke depan, tidak juga bisa dan mau. Banyak sekali alasan dan pembenarannya, diberitahu yang benar pun menolak dan melawan. Ujung-ujungnya pasti duit lagi, duit lagi. Capek!!!

Tidak perlu jauh-jauh untuk melihat buktinya betapa miskin hati dan pikiran. Kalau soal korupsi dan bualan janji para pembual itu memang sudah tidak aneh lagi. Lihat saja pada kaca di cermin dulu. Betapa diri selalu ingin diperlakukan “lebih”, “special”, dan “khusus”, tetapi untuk memberikan semua itu kepada yang lain saja sangat sulit. Tidak perlu kepada orang lain, bahkan kepada orang-orang yang mengaku dicintai saja sulit sekali. Bagaimana bisa menjadi yang “lebih”, “special”, dan “khusus” bila demikian?! Tidak juga mau berusaha menjadikan diri sendiri seperti itu, sih!

Terus saja berkutat pada kebiasaandan yang umum serta kebanyakan. Menjadi “pribadi” di antara “kerumunan” itu hanyalah keyakinan yang menjadikan diri semakin sombong dan keras kepala, tanpa juga mau berusaha untuk mendapatkannya. Sehingga kemudian menjadi asyik sendiri dan tanpa disadari sebenarnya sudah menghancurkan bangsa, rakyat, dan negaranya sendiri. Yang penting diri sendiri dan prioritas diri, kan?! Yang penting cepat, urusan nanti gimana nanti!!! Begitukah?!

Betul, setiap orang pasti punya alasan dan pembenarannya sendiri. Fakta dan kenyataan juga tak bisa dipungkiri bahwa uang adalah kebutuhan, namun sungguh menyedihkan bila uang itu dijadikan segalanya. Menjual diri, agama, kehormatan, dan bahkan bangsa, rakyat, dan negaranya sendiri demi uang?! Sebegitu teganyakah menghancurkan diri sendiri dan masa depan meski mengaku itu adalah perjuangan?! Apalagi bagi yang mengaku berkeyakinan dan beriman kepada-Nya, sebegitu sulitnyakah untuk “membuka mata”?! Memangnya enak dijajah oleh uang?! Menjadi budak dan buruh uang?! Kapan merdekanya?!

Lihat saja betapa hancurnya pendidikan di negeri kita ini. Sekolah-sekolah sudah seperti organisasi pengeruk uang yang berlomba menjual sistem pendidikan yang seolah hebat dan “janji” cepat mendapat kerja. Apakah benar sekolah itu untuk kerja?! Sekolah itu untuk menjadi yang terdidik, bukan untuk mencari kerja! Pantas yang dikejar hanya ijasahnya saja, bukan ilmunya.

Sistem pendidikan juga apanya yang hebat?! Mengambil sistem dari asing tetapi yang diterapkan adalah yang sudah ketinggalan jaman. Anak kecil dipaksa dan dijejali oleh banyak hal yang tidak pada tempatnya dan belum waktunya. Lebih cepat? Wow!!! Sekarang nampaknya lebih cepat, buktinya, tetap saja tidak ada hasilnya ke depan. Bagaimana mau berhasil karena sudah penuh duluan?! Kreatifitas dihancurkan, logika dikacaubalaukan oleh hafalan, dan anak dibuat seperti mesin saja. Bukan pencipta mesinnya, tapi mesinnya, loh!!! Masih juga mengaku sayang anak dan berani mengaku pendidik?! Ada yang berani mengaku egois dan budak serta buruh pendidikan?!

Ya, tiap orang memang berbeda-beda dan tidak semua orang sama. Tidak boleh menilai, kan, ya?! Kalau dinilai harus terima, ya?! Semua orang juga memiliki persamaan yaitu diberikan akal dan budi untuk memilih. Bukan hanya akal!!! Apa yang dianggap logis belum tentu pasti benar logis, begitu juga sebaliknya. Dulu, ketika orang bicara tentang televisi dianggap gila, sekarang televisi itu ada dan malah orang yang tidak meninton televisi dianggap aneh. Yang dianggap benar juga belum tentu pasti benar, karena semua ada sudut pandang yang sebaiknya juga dilihat dan diperhatikan.

Alangkah baiknya jika kita mau menggunakan akal dan budi ini sebagaimana layaknya manusia yang beradab untuk bisa memperbanyak pilihan. Lantas ketika menentukan pilihan pun, mampu melihat ke depan, bukan hanya untuk sesaat dan saat ini saja. Mau menjadi manusia yang terus “terbelakang” dan “ketinggalan” pemikiran dan hatinya?!

Jika memang mau, tidak masalah tetapi sebaiknya jangan omong kosong soal ingin memberikan yang terbaik dan merasa sudah menjadi yang terbaik atau menuntut mendapatkan yang terbaik. Untuk diri sendiri saja tidak mau, apalagi untuk yang lain? Untuk rakyat, bangsa, dan negara ini?!

Enak, kan, menjajah dan terjajah oleh kebodohan?! Menjadikan diri terus bodoh dan tak mau juga cerdas serta terdidik dengan berbagai alasannya. Meneruskan kebodohan dan tidak ada keinginan untuk lebih memajukan diri dengan berbagai alasan dan pembenarannya juga. Tidak mau mengaku pula malah terus saja menuding dan menunjuk jari, ya?! Hebat betul, yah!!! Lantas, apa gunanya mengaku beriman dan berkeyakinan pada-Nya jika hal yang paling mendasar saja tidak dikerjakan?! Bukankah belajar itu adalah perintah dan petunjuk dari-Nya?! Bukankah belajar pun merupakan bentuk penghormatan kepada-Nya yang sudah memberikan akal dan budi?!

Sepertinya angin yang kian mendingin berhembus malam ini, membuat hati dan pikiran menjadi beku. Sungguh sangat tidak menyenangkan membuat tulisan ini, penuh dengan marah yang seharusnya mampu dikendalikan. Apa boleh buat, tulisan ini sudah dibuat dan membuang tulisan ini sama saja dengan membuang diri sendiri. Meskipun bukan tulisan yang bisa dianggap baik, tetapi tetap inilah diri yang sebenarnya. Kalau berdusta, munafik, “menyembunyikan”, dan maunya dapat nilai baik dengan banyak alasan, kapan bahagia dan merdekanya?! Tidak boleh terus-terusan dan selamanya begini juga, dong?! Harus tahu dan sadar diri!!!

Sama juga seperti Indonesia. Apakah karena terus penuh dengan penjajahan oleh rakyatnya sendiri, maka harus dibuang begitu saja?! Tentunya tidak!!! Membuang Indonesia sama saja juga dengan membuang diri saya sendiri. Saya adalah Indonesia!!! Saya tidak mau menjadi bangsa lain, tidak mau mengubah diri seperti bangsa lain, dan tidak mau dijajah oleh semua yang lain.

Indonesia mungkin tidak semuanya baik, tetapi pasti bisa menjadi lebih baik bila kita mau mengakui keburukannya dan tidak membuangnya begitu saja. Belajar dari keburukan yang ada untuk kemudian diperbaiki agar menjadi baik. Kesempatan dan pilihan itu ada, tergantung dari diri sendiri, mau apa tidak?! Jangan hanya bicara, terapi tunjukkanlah dengan segenap jiwa dan raga lewat perbuatan, pikiran, hasil karya, dan kata.

Kita semua pasti ingin Indonesia merdeka, kan?! Maka merdekakanlah diri sendiri dulu, yah! Merdekalah Indonesia!!!

Salam hangat penuh cinta,

Mariska Lubis

16 Agustus 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka, Perubahan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s