Main-main Politik

Politik sudah seperti alat untuk bermain dan arena politik menjadi tempat bermainnya. Banyak yang sengaja bermain dan tak sedikit yang terjerumus masuk ke dalam permainannya. Baik kemudian menghasilkan kedudukan, nama besar, atau sekedar pendapatan yang tak sedikit atau menjadi bulan-bulanan dan korban permainan. Tentunya permainan ini tidak bisa dianggap main-main, semuanya pasti dilakukan dengan serius, apa pun tujuannya dan hasilnya.

Politik sering dianggap busuk dan menyebalkan. Memang begitulah fakta dan kenyataannya karena politik adalah cara untuk mencapai tujuan dan mendapatkan apayang diinginkan. Semua cara dapat dihalalkan dan digunakan walaupun ada aturan dan hukum yang berlaku. Kekuasaan sangat memegang peranan penting, oleh karena itu, puncak tertinggi kekuasaan selalu menjadi perebutan. Bagaimana cara bermainnya, itu hebatnya politik.

Politik juga sering dianggap sulit sehingga banyak yang merasa hebat bila terjun ke politik dan bermain serta menjadi pemain di dalamnya. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke sana, mereka yang kelihatannya mampu bicara politik atau seolah-olah seperti benar politikus, pasti dianggap hebat. Padahal, tahu dan benar mengerti tentang politik saja belum tentu. Yang penting “jago bicara” dan berani mengeluarkan pendapat serta berdebat. Wajar jika keumudian banyak omongan hanya sekedar bualan, pendapat juga hanya meng-“copy paste” sesuai kepentingan, dan berdebat juga seperti kusir yang tak pernah mampu melajukan keretanya. Berapa banyak masyarakat Indonesia yang betul-betul belajar politik dengan baik dan benar?!

Jika ada yang berpendapat bahwa politik itu adalah urusan uang, memang begitulah pada fakta kenyataannya di negeri ini. Politik juga tidak ada bedanya dengan bisnis. Sebisa mungkin keuntungan diraih dan jangan sampai ada kerugian. Kalau merugikan, itu lain lagi ceritanya. Yang penting sudah menguntungkan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya sementara jika sampai harus merugikan pihak lawan atau bahkan masyarakat, apa dipikirkan?! Jangankan dipikirkan, dipedulikan pun tidak barangkali. Bicaranya saja yang besar dan banyak seolah-olahnya. Penuh dengan trik permainan yang menjebak sehingga banyak yang yakin dan percaya tanpa berpikir jauh dan dalam. Itulah hebatnya permainan politik ini!

Melihat, menyaksikan, dan merasakan akibat dari main-main politik ini membuat saya sering sakit kepala sendiri. Rasanya menyesal sekali pernah susah payah sekolah dan belajar tentang politik. Apalagi urusan perubahan politik, di mana sejarah, budaya, ekonomi, hukum, dan banyak sekali faktor di dalam kehidupan harus dipelajari dengan baik. Presentasi pemikiran dan tulisan-tulisan yang harus dibuat juga sangatlah menguras isi kepala serta waktu. Belum lagi soal kesabaran dan ketekunannya. Bahasa, kata, dan kalimat yang digunakan harus benar dan tidak bisa “asal”, posisi, waktu, dan tempat sangat perlu diperhatikan. Jika saya tahu bahwa untuk menjadi serius main-main politik ini tidaklah sulit, maka saya tidak perlu capek-capeklah sekolah. Nyaring menggonggong meski tak ada isinya pun bisa memenangkan suara, kok!

Sepertinya, semakin bodoh dan tidak tahu, semakin mudah masuk ke dalam permainan politik ini. Semakin banyak bicara dan menempel sana-sini, mau “berkompromi” tanpa menghiraukan idealisme, semakin terbuka lebar jalan menuju kekuasaan. Semakin tak memiliki hati dan kejam, tapi memiliki banyak uang untuk “membeli”, semakin mudah juga memiliki kekuasaan dan berkuasa. Toh, yang dilakukan juga tidak sulit. Hanya membodohi dan menjaga agar rakyat yang dipimpin tetap menjadi bodoh namun yakin bahwa kebodohan itu adalah kebenaran. Jati diri dihilangkan, sejarah diremehkan, pahlawan sesungguhnya ditiadakan dan disingkirkan, lalu membuat bingung serta memiliki pandangan yang kabur. Gampang, kan, mainnya?!

Tentunya menjadi sangat mudah bila permainan ini dilakukan di arena yang terisi oleh kebodohan dan manusia penonton. Manusia yang mudah sekali diseret arus, malas berpikir, dan sok tahu. Hanya meyakini apa yang ditontonnya tanpa mau “membedah”-nya lebih lanjut, mudah puas dengan “permukaan”, tanpa memiliki keberanian dan nyali untuk tenggelam. Maunya menjadi tontonan yang ditertawakan oleh para pemain politik dan asyik menjadi bulan-bulanannya dengan penuh kebanggaan. Sibuk dengan diri sendiri dan rasionalisasi pembenaran untuk diri sendiri dengan berbagai alasannya, tanpa memiliki rasa malu ataupun bersalah. Beraninya hanya menjadi “umum”, “biasa”, dan “kebanyakan”, soalnya sudah pintar, baik, dan benar dengan pemobodohan yang sudah dilakukan.

Lebih seru lagi karena banyak sekali pesorak di dalam permainan ini. Sibuk bersorak untuk membuat suasana menjadi panas dan semakin tak karuan. Kalau sudah dikasih “uang” pasti diam dan tutup mulut, deh! Menjadi bagian dari strategi para pemain politik yang sedang bermain-main. Manusia-manusia diadu domba dengan segala benturan dan masalah, bahkan membawa-bawa dan mengatasnamakan Tuhan segala. Semakin terpecah belah, semakin mudah untuk dikuasai, itu adalah strategi politik yang sangat ampuh dalam permainan politik. Semakin banyak yang merasa “paling”, semakin gencar strategi itu diterapkan dan semakin mudah juga melumpuhkan serta membuat tak berdaya.

Pada akhirnya, keluarlah banyak sekali omongan, “Pusing, ah! Bagaimana nanti! Jalani saja sekarang yang ada dan hadapi. Yang penting diri sendiri dan keluarga dulu, cari duit saja susah! Bangsa dan negara ini terlalu repot dan menyusahkan untuk dipikirkan. Para pemimpin juga hanya memikirkan diri sendiri, mana mereka memikirkan kita?! Politik hanya buat susah saja!!”. Nah, kan, mudah sekali untuk memenangkan permainan politik ini!!! Omongan seperti itu sudah menjadi bukti betapa mudahnya mempermainkan permainan politik di negeri ini.

Kritik tak didengar?! Hush! Jangan salah!!! Banyak tukang kritik itu adalah pemain politik juga, kok!!! Yang tak didengar adalah kritik yang benar-benar merupakan fakta serta kenyataan yang sebenarnya, dan kritik yang memiliki solusi tanpa memiliki harapan untuk mengisi pundi-pundi pribadi dan kelompok. Kritik seperti itu hanya akan membuat pelakunya tersingkir dan “ditenggelamkan”. Tak ada manfaatnya bagi para pemain politik yang main-main politik ini.

Demonstrasi yang benar juga bukan yang dikoordinir untuk kepentingan pribadi atau kelompok, atau juga untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Apalagi yang sifatnya anarkis dan menghancurkan banyak fasilitas umum serta merugikan masyarakat, itu sih paling hanya menjadi bahan tontonan di televisi dan berita di koran. Demonstrasi seperti ini hanya akan membuat senang para pemain politik karena permainan politiknya akan semakin meriah dan gaungnya akan semakin menggema. Coba demonstrasi yang penuh dengan idealisme dan dilakukan dengan ketulusan hati sert keberanian, pasti akan berbeda cara mereka menanganinya.

Yah, main-main politik ini memang sangat mengasyikkan dan amat seru. Penuh dengan tantangan yang membuat adrenalin serta libido terpicu. Bisa membuat siapapun merasa di atas angin dan berada di surga. Namun, bila saja kita semua mau benar-benar belajar politik dengan benar, bukan hanya serius bermain dan dijadikan permainan, tentunya bukan para pemain politik seperti itulah yang berkuasa dan bisa seenak udelnya sendiri. Kecuali bila memang sudah menjadi kemauan, yaitu terus menjadi permainan para pemain politik main-main. Hmmm….

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis
25 Agustus 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Main-main Politik

  1. agus gunawan says:

    Politik sdh abu2 saat ini,,,tdk ada yg peduli dgn urusan kecil ,urusan rakyat jelata,tetapi rakyat kecil pun harus terlibat dlm permainan politik krn sdh wajib yg ditentukan oleh negara,,rakyat kecil hrs berbuat apa,,politik yg didasari dengan alasan kekuatan demokrasi namun kenyataannya otoriter,monoppoliisme,,maka kami ingin kembalikan tujuan politik kaum ber-uang kepada hirarki rakyat kecil,,yaitu suara2 dan sifat kelakuan itikad baik yang pro rakyat,,hidupkan suasana kegotong royongan,bukan suasana berlomba2 kekuasaan semata,,rakyat tidak buta-rakyat tahu siapa yg salah dan benar. Camkan para wakil rakyat,para pejabat negara,,,suatu saat karma dari rakyat kecil akan nyata.

  2. dicky says:

    Bener bgt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s