Asyiknya Menjadi Bola

Ditendang dan dioper ke sana ke sini dan diperebutkan ramai-ramai. Diteriaki sorak sorai gegap gempita ketika berhasil ditendang masuk ke dalam gawang. Bahkan hingga dicium dan kemudian dijadikan seperti benda keramat yang sangat berharga. Padahal, tak ada yang dilakukan bola, hanya pasrah bergulir sesuai tendangan. Asyik yah menjadi bola! Tak perlu pakai otak pun bisa berjaya!!!

Kalau sudah ada pertandingan sepak bola, terutama bila ada club atau negara yang diidolakan, pasangan dan kerja pun bisa lupa. Sampai merelakan diri pergi malam-malam mencari tempat yang menyediakan layar lebar dan tidak peduli lagi dengan berapa uang yang harus keluar dari kocek. Pokoknya yang penting bisa nonton bola!!! Ya, nonton bola yang ditendang-tendang itu!!!

Sebetulnya tak perlu repot-repot kalau ingin melihat bola yang ditendang-tendang ke sana ke mari. Mampir saja ke toko cermin dan berkaca. Jangan-jangan diri sendiri sesungguhnya adalah bola. Bola yang terus dipermainkan meski mendapat semua kejayaan itu. Puas dengan apa yang didapat dan diperoleh serta tanpa pernah menyadari bahwa sesungguhnya sudah menjadi pihak yang paling dirugikan. Berapa, sih, yang didapat oleh bola?! Penjudi kelas teri barangkali bisa mendapatkan untung jauh lebih banyak!

Coba saja gulirkan sebuah isu, berapa banyak bola yang “siap” untuk ditendang untuk menjadi provokator yang membuat isu meledak. Tidak perlu sedahsyat bom atom, tapi bisa juga lewat bisik-bisik seperti saat arisan, yang penting siap dioper oleh isu lainnya lagi. Gawangnya di mana, mana bola tahu?! Siapa juga yang menjadi pemain sesungguhnya atau wasit dan pengamatnya, mana juga bola paham dan mengerti. Yang penting, bisa turut serta berpartisipasi memeriahkan permainan atau pertandingan dan membuat banyak pihak tersenyum serta tergelak. Nggak sadar juga, kok, sudah menjadi bahan tontonan yang sebetulnya sudah sangat dirugikan. Ya, kan?!

Serunya lagi kalau sudah ada “perang” antar kubu. Akal sehat bisa semakin menghilang, lenyap entah ke mana. Dengkul yang biasanya menampung “otak” saja sudah terlalu banyak kena sepak dan terjang hingga tak lagi ada isinya. Betul-betul sama seperti bola yang dipakai main di pertandingan sepak bola. Tidak tahu mana yang benar mana yang salah, solidaritas dan kebersamaan menjadi alasan. Tidak punya nyali untuk sendirian walau hingga babak belur tanpa hasil, sementara ada yang di balik layar sana yang sedang berhitung dan bagi-bagi keuntungan. Bersiap-siap untuk menggulirkan pertandingan baru dengan bola yang sama. Lebih parah malah, ya, dari bola sepak bola?!

Bisa dibayangkan rasanya bila sadar sudah dipermainkan. Sama seperti ketika hendak mengadukan sebuah masalah lewat telepon, yang “katanya” merupakan bentuk dari sebuah pelayanan. Berapa kali rekaman suara yang sama muncul untuk memberi petunjuk, disuruh ke sana, disuruh pencet tombol ini, disuruh tekan itu. Walaupun “gratis” tetapi tetap saja sesungguhnya sudah “dirugikan”. Marah-marah hingga putus urat di tenggorokan pun sudah tiada guna karena tanggapannya akan sama, dilempar lagi dan ditendang lagi. Hingga akhirnya kemudian capek sendiri dan malas untuk kembali mengeluh atau mengadukan. “Wait and see” saja judulnya. Duh!

Sayangnya, meski sadar sudah menjadi bola yang dipermainkan, tapi tetap saja bersikukuh dengan kerasnya. Mungkin karena “bulat” dan penuh oleh “angin” kosong, kalau diisi lagi bukan lagi menjadi keras tetapi pecah berantakan. Tidak memiliki jiwa yang kuat dan besar untuk menata diri dan memulai lagi dari awal menjadi sesuatu yang baru. Bisa jadi karena bingung entah mau jadi apa kemudian. Maklum, perlu kesabaran, ketekunan, dan nyali yang besar untuk bisa menjadi yang “berbeda”. Lebih mudah tetap menjadi pecahan atau kembali menjadi bola seperti yang lainnya. Kan, lebih banyak lebih asyik, ya?! Lebih banyak juga pasti lebih kuat dan bisa menjadi benar walau salah sekalipun. Belajar?! Sudah malas!!!

Bila memang suka dengan pertandingan sepak bola, maka sesungguhnya yang paling enak adalah menjadi komentator. Yang dibutuhkan hanyalah “mulut yang cerdik” agar bisa menikmati hasil tanpa harus menghadapi banyak resiko ataupun letih dan lelah berlatih. Bergaya yakin saja sudah cukup bisa meyakinkan banyak orang untuk percaya dan mengikuti komentarnya. Toh, yang dihadapi hanyalah bola-bola saja dan tinggal mengamati ke mana bola bergulir. Tak perlu juga rumit-rumit memikirkan isu apa yang dilempar, apa yang ada, itu yang ditangkap. Makanya, banyak bola yang akhirnya menjadi komentator saja. Untuk menjadi pemain, pelatih, pemilik club, nggak mungkin, kan?! Mana sanggup?!

Aaahhh! Bola, bola!!! Biar bagaimana pun juga, menjadi bola itu sungguh asyik! Kalau nggak asyik, mana mungkin banyak yang menjadi bola, selalu menjadi bola, dan tetap menjadi bola?! Keras di luar dan kosong di dalam juga tidak ada yang mengeluh. Sekalipun mengeluh, tetap saja “bulat” dan enak untuk ditendang dan dijadikan mainan. Kalau kempes, tinggal diisi angin lagi, nggak mahal. Begitu pula kalau bocor, tinggal ditambal sebentar juga bisa. Kecuali kalau bola murahan, ya! Begitu ditendang, langsung penyok. Tinggal digilas maka tamatlah riwayat. Apa susahnya?!

Kalau sudah begini, apa untungnya menjadi manusia yang memiliki akal dan budi, ya?! Untuk apa juga mengikuti ajaran-Nya yang selalu mengarahkan manusia untuk merendahkan dan melembutkan hati agar bisa terus belajar dan menjadi terisi?! Memiliki otak malah bikin susah, soalnya perut dan pundi-pundi lebih penting untuk diisi. Punya hati juga malah membuat susah, menolong diri sendiri saja belum mampu, masa ditambah susah dengan memikirkan yang lain?! Get real sajalah!!! Mendingan jadi bola, kan?! Lebih asyik, kok, jadi bola!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

27 Agustus 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Asyiknya Menjadi Bola

  1. Mas Nimo says:

    Tuhan maha adil, manusia diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya.. ada yg diciptakan menjadi creator, ada yg diciptakan menjadi plagiator, ada yg diciptakan menjadi inisiator, ada pula yang diciptakan menjadi pekerja yg taat sop. Salam kenal. Menjadi pengingat kita semua

  2. Fendi haris says:

    masih lebih ayikan jadi penikmat sepak bola,, karena bisa sambil ngmil dan update status,, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s