Ketidakpastian dan Yang Pasti

Seseorang yang penuh dengan pesona cinta pernah berkata bahwa satu-satunya kepastian di dunia ini adalah kesendirian. Sementara manusia paling takut dengan sendiri dan kesendiriannya sehingga selalu mencari pasangan dan kesepasangannya. Tidak mengherankan bila kemudian banyak duka, sakit, dan penyesalan, apalagi manusia susah menjadi puas. Lantas, untuk apa memilih menjalani kehidupan bersama tanpa ada kepastian?! Bukankah yang pasti itu ada?!

Seorang pria dan perempuan mendesah dalam dan panjang tentang cinta dan hubungan mereka yang masih berumur jagung. Mempertanyakan tentang cinta, ketertarikan, dan kebutuhan. Tentang bagaimana sepasang bisa bersama yang belum tentu dapat dipastikan karena cinta. Nafsu dan cinta pun seringkali salah.

“Saya yakin kalau saya mencintaimu. Bagaimana denganmu?”
“Jika definisi cinta adalah seperti yang dirimu uraikan, maka saya bisa bilang bahwa saya mencintaimu. Namun, sesungguhnya saya tidak mengerti dan masih mencari-cari. Kita berdua juga orang yang lebih mencintai diri kita masing-masing, kan?!”

“Saya ingin sekali bisa bersama dengan orang yang saya cintai dan yakin mencintai saya. Jika dirimu tidak yakin, mungkin saya seharusnya tidak menutup hati dan pikiran saya untuk yang lain. Saya masih memiliki dan berhak untuk mendapatkan itu semua, kan?!”
“Saya sedih. Sama seperti perempuan sebelum dirimu, saya pun gagal meyakinkanmu bahwa dirimulah orangnya.”
“Saya sedih karena saya tidak menjadi yang dicintaimu.”
“Dirimu pernah bilang bahwa dirimu tidak perlu dicintai, dirimu memiliki cinta untuk diberikan. Menjalani semuanya dengan mengalir agar dapat menikmatinya.”
“Benar, namun pada saat ini, saya sudah pada tahap ingin selalu bersamamu selalu dan selamanya. Mana mungkin semua itu dapat terjadi bila hanya saya yang mencintaimu?! Saya pun membutuhkan keyakinan akan cintamu. Bila saya tidak juga mampu meyakinkan diri saya, maka berarti kita memiliki masalah dalam hubungan ini.”

Pria penuh pesona cinta pernah juga berkata bahwa bila tersangkut maka nikmati, bila lepas maka jalani. Ketika hati terpaut, tidak ada yang lebih menyenangkan dan membahagiakan selain menikmatinya. Begitu terlepas, tidak ada yang bisa dilakukan selain menghadapi dan menjalaninya. Bagaimana bila tersangkut namun ada yang terlepas?!

Ada yang mudah berucap cinta tapi ada juga yang sulit untuk mengungkapkannya. Ada yang siap menghadapi kegagalan, ada juga yang tidak mau menatapnya. Kepengecutan baik di dalam mempertanggungjawabkan apa yang sudah diucapkan dan yang tidak diucapkan sering menjadi masalah. Kesombongan di dalam menerima kegagalan dan ketidakmampuan menerima segala kemungkinan resiko dan konsekuensinya juga sering menjadi masalah. Apapun yang dipilih semua ada resiko dan konsekuensinya masing-masing. Masa dan waktu yang akan bicara, baik kini maupun nanti, pasti akan bicara soal kebenaran yang ada.

Sulit menjalani kehidupan berpasangan dan menjadi sepasang bila tidak ada keyakinan atas cinta itu sendiri. Terlebih lagi bila ditambah ada ketidakyakinan pada diri sendiri untuk mampu menjadi dan memberikan yang terbaik. Apalagi bila ada banyak celah dan kemungkinan yang bisa memisahkan. Meski kemauan itu ada, tetapi di dalam kebersamaan selalu harus ada perjuangan. Perjuangan yang terberat adalah justru mengalahkan diri sendiri. Mencintai diri sendiri secara rasional adalah yang terbaik, sebab bagaimana seseorang mampu mencintai yang lain bila tidak mencintai dirinya sendiri. Namun bila kemudian memilih untuk selalu memberikan cinta pada diri sendiri tanpa mau memberikannya kepada yang lain, untuk apa memiliki pasangan?!

Menganggap semua ini sebagai tantangan yang menarik tentunya bisa membangkitkan gairah. Sayangnya, tidak semua juga melihatnya sebagai sesuatu yang menarik. Ada masa di dalam kehidupan ketika seseorang ingin menikmati perwujudan mimpi dan keindahannya tanpa harus ada kekhawatiran apapun. Bosan dengan segala tantangan itu dan lebih memilih untuk menjalani apa yang pasti. Ketidakpastian membuat bingung dan labil.

Kekuasaan terbesar ada pada rindu. Siapapun mau melakukan apa saja untuk bisa melepaskan semua kerinduan dan menggapai apa yang dirindukan. Rindu yang disimpan dan bertumpuk mampu berkuasa dan menguasai diri. Bertahan, bersabar, dan terus maju meraih apa yang dirindukan itu dengan menjalani serta menikmati setiap perjalanannya. Begitu juga dengan kerinduan pada cinta. Ditumpuk, disimpan, dan dipendam dalam sebuah kotak tanpa batas yang kian lama kian bertumpuk dan membesar. Menguasai diri dan menjadi kekuasaan terbesar dalam diri yang mendorong diraihnya perwujudan rindu itu sendiri. Ketidakpastian ada pada siapa dan apa, yang pasti, cinta itu ada dan tidak akan pernah hilang. Cinta pasti mampu mengalahkan segalanya, termasuk ketakutan atas yang pasti. Toh, semua juga terlahir sendiri dan akan pulang sendiri, kenapa takut?!

Prinsip lebih baik ada daripada tidak ada pasangan? Hmmm….

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis
26 April 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s