Ketika Sebentuk Bibir Merasakan Haus

Air mata yang menetes pun diteguk terus menerus. Meskipun tidak menghilangkan rasa haus, namun tetap saja diteguk dan diteguk lagi. Sampai akhirnya menjadi sebuah kenikmatan yang dibutuhkan dan membuat diri lupa bagaimana menghilangkan dahaga yang sesungguhnya. Air jernih tak lagi dihiraukan, kenikmatan sesaat yang walau tahu akan menyakitkan terus dinikmati.

Kesepian melanda dan membuat gelisah. Pasangan yang diharapkan dan pernah menjadi penghibur sekaligus pengisi segenap hati, tubuh, pikiran, dan jiwa seolah sudah tidak ada lagi. Tujuan yang pernah menjadi mimpi itu perlahan sirna dan menghilang. Kian jauh dan semakin jauh, apalagi bila keinginan untuk berani bersama-sama mencapai tujuan itu sudah tidak ada lagi.

Masalah demi masalah harus dihadapi sendirian tanpa ada keseimbangan. Pikiran pun menjadi lebih sempit karena tidak adanya komunikasi yang baik. Kebersaman semakin kian terasa hambar dan pasangan pun seperti ada tapi tiada. Sepi pun kian mendera. Kondisi ekonomi yang tak menentu semakin membuat semua rencana berantakan. Tuntutan kewajiban yang terus menerus diminta membuat semakin kian terjepit. Ego dan prioritas pribadi menjadi lebih penting dibandingkan kebersamaan di dalam memenuhi kebutuhan bersama.

Membiarkan semuanya mengalir begitu saja pun sulit. Menjaga dan merawat perasaan dan pikiran yang terus positif juga amatlah sulit dilakukan. Menghadapi diri sendiri adalah lawan tersulit. Alangkah indahnya bila ada seseorang yang bisa membantu dan menolong karena setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Menghibur diri dari segala susah dan menjadi tempat untuk melabuhkan hati serta pikiran yang resah. Seseorang yang “berbeda”.

Kesempatan itu menjadi terbuka lebar apalagi ketika dunia ini menjadi terasa lebih dekat dan mudah untuk digapai. Teknologi yang semakin canggih memudahkan siapa pun untuk berkenalan dan bertemu dengan berbagai macam orang, sekaligus menjadi tempat untuk bisa “berubah bentuk” dari fakta dan kenyataan yang ada. Tempat pelarian dari masalah sekaligus penghilang rasa kesepian itu tersedia. Hingga banyak yang kemudian terlena dan larut dalam “maya” dan tidak lagi bisa membedakannya dengan nyata, hidup dalam palsu dan dusta yang penuh mimpi indah dan banyak harapan.

Dunia nyata pun diisi dengan kesemuan dan kepalsuan. Satu demi satu bergantian bergilir menghampiri dan dihampiri, namun hanya untuk sejenak. Waktu pertemuan hanya diisi oleh kenikmatan sesaat yang pada akhirnya justru membuat rasa sepi semakin mendera. Semakin banyak yang meninggalkan dan ditinggalkan, semakin besar kehilangan akan diri sendiri. Otak dan “hati” yang telah ditipu dan menipu juga meninggalkan rasa ketakutan dan bersalah, baik diakui maupun tidak, disadari tak disadari. Yang kemudian tertinggal hanyalah bibir tergigit menggigit jari yang terus merasakan kehausan.

Pahit yang terus dirasakan meninggalkan memori berbekas dan tertoreh. Ketika ada cinta yang datang tiba-tiba tanpa pernah diharapkan, tidak lagi diyakini dan dipercayai. Logika terus berputar bertanya dan mencari jawaban akan kebenaran, tetapi terus saja ada pembenaran yang dirasionalisasi. Cinta yang sesungguhnya itu lupa untuk dijaga dan dirawat. Diri dipenuhi oleh diri sendiri dan keegoannya, kebersamaan itu benar-benar dilupakan. Meski mengaku cinta, namun tetap saja diri sendiri yang lebih utama. Untuk berubah pun berat karena sudah ada kenyamanan, ketinggian hati, dan ketakutan menghadapi kepahitan yang sama lagi. Yang terlihat hanyalah mimpi diri sendiri walaupun berpikir adalah tentang berdua dan bersama.

Menentukan pilihan menjadi sulit dan semakin rumit. Ada banyak pertimbangan yang menjadi alasan dan pembenaran untuk berkomitmen, baik untuk benar-benar berpisah begitu juga untuk berdua dan bersama lagi dengan yang lama atau yang baru. Dua-dua, tiga-tiga, atau lebih tidak juga berani dipilih salah satu dan berkomitmen serta menghadapi resikonya. Berpikir bahwa tidak memilih pun adalah sebuah pilihan, tanpa mempertimbangkan rasa yang dimiliki oleh yang benar-benar mencintai dan sungguh-sungguh ingin hanya berdua bersama tanpa ada yang lain. Rasa bersalah sudah hilang, bahkan melakukan kesalahan sudah menjadi kebiasaan yang dibenarkan. Keakuan itu sangatlah besar bila selalu ada yang harus dibuktikan dan rendahnya rasa percaya diri serta keyakinan. Keraguan memupuskan segalanya.

Ah! Mengapa penyesalan selalu datangnya belakangan?! Mengapa ketika sebentuk bibir merasakan haus, ada banyak kering dan panas yang membuat kerontang?! Apakah tidak ada kesempatan meneguk kembali air yang menyegarkan dan anggur yang membuat manis?! Takdir atau nasib?!

Tentunya semua tergantung pada diri sendiri. Pilihan itu begitu banyak dan kesempatan itu bukanlah sesuatu yang sempit bila berani membukanya lebar-lebar. Apa yang sudah terjadi bukanlah ujian tetapi pembelajaran yang merupakan anugerah agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Sebentuk bibir yang merasakan haus dapat memberikan manis dan keindahan bila mau memilih untuk menjadi lebih baik. Mengakui kesalahan dengan besar hati dan terus mencoba memperbaikinya, dan dengan penuh ketulusan serta keyakinan menghadapi masa depan yang lebih baik. Semua selalu ada masa dan waktunya, kesabaran, keteguhan hati, dan usaha akan mewujudkan semua mimpi pada masa dan waktunya. Apa yang nyata belum tentu benar nyata dan apa yang tak nampak belum tentu pasti tidak ada. Mimpi bukanlah mimpi meski ketika sebentuk bibir merasakan haus bila mata dan hati itu selalu dibuka dan didengarkan.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis

1 September 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s