Pria, Politik, dan Seks

Pria tanpa politik dan seks ibarat manusia tanpa otak dan jantung. Jangankan untuk bergerak, bernafas pun tidak mampu. Pria adalah politik dan pria adalah seks, pria adalah politik dan seks.

Ketika kasus Bupati Aceng muncul dan membuat heboh, seorang teman membuat pernyataan, “Tak usah heran, namanya juga politikus. Korupsi pun nggak jauh urusannya dari urusan seks”. Saya tergelak mendengarnya dan menambahkan, “Namanya juga pria, meski politisi tetap otaknya otak selangkangan”. Kami berdua pun terbahak-bahak.

Habis mau bagaimana lagi?! Fakta dan kenyataannya, dengan jumlah testoterone yang sedemikian banyak di dalam tubuh pria, lima kali lebih banyak daripada perempuan, pria berpikir tentang seks minimum tujuh kali dalam sehari. Dan itu sangat normal, jika tidak memikirkannya justru bisa dianggap tidak wajar. Ini belum ditambah dengan pemicu yang berasal dari libido akibat berpikir dan menghadapi tantangan serta bahaya. Kehidupan di dunia politik mampu membuat lidido terus menerus berada di angka yang tinggi. Jangan kaget bila “desakan adik kecil” kian merongrong.

Seringkali saya pun tertawa geli sendiri membayangkannya, “Bagaimana pria-pria itu bisa berpikir bila yang penuh justru “kepala ” si adik? Jangan-jangan otak di kepala mereka sudah kosong! Atau memang pria otaknya benar di selangkangan? Tanpa otak di selangkangan, pria tak bisa berpikir. Otak di kepala mereka pun dikuasai sepenuhnya oleh otak selangkangan. Hanya sperma mereka saja yang kepalanya sama dengan kepala mereka, wajahnya pun serupa.” Ha ha ha….

Maaf, meskipun demikian fakta dan kenyataannya, diakui tidak diakui, disadari tidak disadari, namun yang akan saya bicarakan di sini bukan soal itu. Pria adalah pria, sementara politik adalah cara untuk mencapai tujuan. Siapapun pasti akan berpolitik untuk mencapai tujuannya, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan sebagainya. Tidak ada yang mampu bertahan hidup bila tidak memiliki kepandaian di dalam berpolitik. Seks?! Siapa yang tak suka dan tak butuh?! Memang enak berpikir tentang seks! Bohong saja bila ada yang mengaku tak suka dan tak butuh!

Sebagai manusia yang diberikan kelebihan untuk berpikir secara lebih rasional plus tuntutan dan “gengsi”, kehidupan pria tak pernah jauh-jauh dari ketertarikan terhadap dunia politik. Mulai dari warung kopi di pinggir jalan hingga tempat makan paling mahal di dunia ini, pembicaraan pria tidak pernah lepas dari dunia politik. Walaupun yang dibicarakan sifatnya hanya sekedarnya saja dan dengan pengetahuan yang terbatas, namun tetap saja membuktikan bahwa pada dasarnya pria memang suka dengan dunia politik.

Berbeda dengan kebanyakan perempuan, meski sebetulnya perempuan pun memiliki ketertarikan terhadap dunia ini dan bahkan banyak yang menjadi “think thank” para politisi besar di dunia ini, namun terlalu banyak kegiatan lain yang membuat pikiran perempuan “teralihkan”. Berkat sebagai makhluk multi talenta membuat pikiran perempuan memiliki banyak kesibukan yang lain yang harus dikerjakan dan dilakukan.

Nah yang lucunya, persepsi politik itu identik dengan “pintar”, membuat pria banyak memanfaatkannya sebagai “daya pikat”. Perempuan bisa sampai bengong-bengong mendengarkan pria bercerita dan berceramah politik. Benar atau salah, itu soal belakangan, yang penting mampu membuat perempuan terpesona. “Dia itu aktifis loh, keren banget! Dia jago banget politik, pasti pintar, deh!”

Ini masih belum apa-apa. Modernisasi yang mengandalkan logika dan rasio sudah membuat kebutuhan dan kepentingan menjadi prioritas. Industri dan komersialisasi memicu tingkat matrealisme semakin menjadi. Apalagi jaman sedang susah seperti sekarang ini, politik yang juga identik dengan “uang banyak” membuat banyak perempuan yang tergila-gila. Memanfaatkan ketidakberdayaan pria berpikir saat kepala di selangkangannya penuh, sangatlah mudah bagi perempuan membuat pria untuk jatuh, terbuai, dan tenggelam.

Yah, sebetulnya it takes two to tango. Simbiosis mutualisme juga, di mana ada duit di sana ada banyak semut. Di mana ada daging, di sanalah harimau menerkam. Jadi, tidak ada yang perlu disalahkan satu sama lain. Tidak ada yang kurang dan tidak ada yang lebih. Sama saja.

Sayangnya, kemampuan politik ini seringkali tidak dimanfaatkan oleh pria secara maksimal justru ketika melakukan kegiatan seksual. Tujuan memang bisa tercapai, yaitu berenangnya sperma di udara terbuka, tetapi tujuan membuat perempuan “puas” itu hanya ada dalam mimpi di siang bolong saja. Begitu ingin, langsung tancap gas saja. Padahal sadar kalau perempuan membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa mencapai orgasme (Rata-rata pria 5 menit, rata-rata perempuan 15 menit). Butuh banyak sekali prosedur yang harus dilalui untuk dapat membuat perempuan benar-benar mencapai puncak langit ketujuh.

Bisa-bisanya perempuan saja mengaku puas, buktinya, hanya 10 persen dari perempuan di dunia ini yang mampu merasakan orgasme ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Fake orgasm merupakan “part of the service” bagi perempuan selain supaya tidak terlalu lama-lama. Biar cepat selesai karena tidak lagi mampu menikmati, terutama bila seks itu sudah menjadi kewajiban dan rutinitas.

Kuantitas pasangan dan seringnya melakukan kegiatan seksual tidak menjamin seseorang memang benar berkualitas di dalam kegiatan seksualnya. Kalau perlu ada jalur cepat untuk mengatasi masalah. Obat dan jamu pun ditegak tanpa mempertimbangkan faktor-faktor kesehatan dan masa depan. Namanya juga based on result oriented management bukan based on process oriented management, begitu kan, ya?! Jika impoten di kemudian hari, itu sih, bagaimana nanti! Kalau sampai terkena priapismus (penis yang tegang terus dan tidak turun-turun), lalu penis membusuk dan diamputasi?! Duh, apa enaknya hidup tanpa bisa menikmati seks?!

Hebatnya, menurut hasil penelitian oleh banyak ahli di dunia ini, pria yang rajin berselingkuh dan “jajan”, lebih dari 90 persennya adalah pria yang justru memiliki masalah dengan rasa percaya diri, stabilitas emosional dan kejiwaan, dan kemampuan seksual. Nah, lho!!! Tentunya ini menjadi kontradiksi dengan minat, ketertarikan, dan kemampuan pria di dalam dunia politik. Siapapun yang masuk dan terjun ke dunia politik membutuhkan rasa percaya diri yang tinggi, stabilitas emosional dan tidak sakit jiwa. Kemampuan seksual juga tidak boleh lemah karena di sanalah “kebanggaan tertinggi” setiap pria.

Anyway, jika Anda pria dan memang benar memiliki kemampuan politik dan seks yang hebat, maka ada baiknya mempertimbangkan kembali apa yang sudah saya bicarakan di atas. Kemampuan politik amat sangat berperan di dalam kehidupan seksual Anda sendiri dan pasangan, sedangkan seks itu sendiri?! Sekali lagi, jika hidup tanpa seks, apa mampu bertahan “hidup”?! Tentunya semua itu tidak bisa dicapai bila masih result oriented karena butuh proses untuk bisa menjadi yang berkualitas. Selain itu juga dibutuhkan kedisiplinan, komitmen, dan keberanian untuk disiplin dan berkomitmen.

Pria, politik, dan seks. Pria yang paling seksi dan menggairahkan adalah pria yang mampu menjadi pria sejati. Pria sejati yang mampu memuaskan dan membahagiakan kehausan perempuan lewat kemahirannya di dalam politik dan seks. Dan itu adalah pasti! Hmmm….

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik, Sosial dan Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pria, Politik, dan Seks

  1. herbalwarung says:

    Begitu ingin, langsung tancap gas saja – ha ha ha pastinya kalau ketemu yang baru terus. yang jelas fakta pria lebih sering memikirkan sex

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s