Remaja Belia Pacaran, Duh!

Usia masih sangat belia, seragam pun masih biru putih dan bahkan merah putih. Tetapi, orang tua membiarkan dan mengijinkan mereka untuk berpacaran seperti yang sudah pantas, siap, dan layak saja. Tak sedikit malah yang membanggakannya apalagi kalau pacar anaknya itu, anak orang kaya atau terpandang. Ampun, deh!!!

Sewaktu masih seusia mereka, tentunya tidak bisa dipungkiri bila mulai ada ketertarikan terhadap lawan jenis. Apalagi bila banyak teman-teman lain yang sudah memiliki pacar, ada kecemburuan dan “persaingan” yang timbul. Ditambah dengan rasa ingin tahu dan penasaran, maka sulit sekali untuk bisa membendungnya. Meskipun dilarang oleh orang tua, tetap saja melawan dan akhirnya diam-diam serta sembunyi-sembunyi.

Semakin dewasa semakin berpikir, terutama lagi setelah memiliki anak. Ada betulnya orang tua melarang karena memang masih terlalu dini untuk pacaran. Ada banyak hal yang bisa difokuskan dan waktu yang bisa digunakan untuk mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang lebih berguna dan bermanfaat. Masih banyak kesempatan di kemudian hari juga untuk bisa mendapatkan pacar, pada saat mental sudah siap juga. Dilarang terlalu keras juga bisa fatal akibatnya, karena bisa membuat anak semakin berontak dan liar di luar kendali. Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan? Berpikir dan belajar tentunya!!!

Ketika pangeran naik kelas dua di sekolah lanjutan pertama, kecurigaan timbul lewat perubahan perilakunya. Dugaan tak salah, pangeran ternyata sedang tertarik dengan salah seorang gadis teman sekolahnya. Namun, dia tak berani untuk jujur dan berterus-terang. Rupanya lebih takut diledek daripada bercerita yang sebenarnya.

“Kenapa takut bercerita? Wajar bila anak seusiamu mulai tertarik dengan gadis-gadis. Malah saya heran bila dirimu tidak tertarik sama sekali. Tak masalah untuk saya, tetapi sebaiknya jangan pacaran dulu, ya! Nanti kamu akan bertemu lebih banyak lagi gadis-gadis cantik hingga kamu bingung sendiri memilihnya. Daripada rugi karena sudah pacaran dengan yang satu ini, lebih baik ditunda saja dulu hingga ada yang benar-benar “ter” dan “paling”. Lagipula, memangnya kamu sudah bisa bertanggungjawab atas dirinya? Untuk bertanggungjawab atas dirimu sendiri saja masih belum bisa, apalagi bertanggung jawab terhadap pacarmu? Bukan urusan uang loh, tanggung jawab itu bukan soal uang, tetapi kemampuan dan keberanian untuk menghadapi setiap resiko yang harus dihadapi. Siapa yang pernah tahu apa yang akan terjadi besok?! Apa kamu sudah pasti siap menghadapinya?! Diledekin saja masih takut, kesal, dan malu, kok!”

“Memangnya kapan saya bisa pacaran?!”

“Kalau tanya bisa nggak, ya sekarang juga sudah bisalah. Yang namanya bayi saja sudah bisa tertarik dengan lawan jenisnya. Bayi pria lebih senang melihat wajah perempuan cantik, begitu juga sebaliknya. Tapi, apa bayi sudah siap pacaran? Sekarang kamu sudah siap secara fisik karena sudah remaja, bukan anak-anak dan bayi lagi. Makanya, bisa saja kamu pacaran. Tetapi, sekali lagi, apa mentalmu sudah siap?! Jadi pertanyaannya bukan bisa pacaran, tetapi kapan kamu bisa secara mental mandiri? Pada saat itulah kamu sangat siap pacaran.”

“Tapi teman-teman saya sudah banyak yang pacaran….”

“Apa yang selalu saya minta darimu, Nak? Apa saya memintamu untuk selalu juara dan hebat?! Saya malah tak pernah juga menyuruhmu belajar, kan? Saya selalu mengajarimu untuk belajar sendiri karena apapun hasilnya, itu bukan untuk saya, tetapi untukmu sendiri. Percuma juara dan hebat bila semua itu bukan darimu sendiri atau hanya karena ingin membuat saya senang semata. Dirimu harus tahu apa untung dan ruginya sendiri, itu adalah bagian dari saya mendidikmu untuk bisa bertanggungjawab dan mandiri. Yang selalu saya minta pun adalah untuk selalu menjadi dirimu sendiri, bukan menjadi seperti yang saya, orang lain, teman-teman, atau siapapun inginkan. Jangan meniru, Nak! Jangan mudah terpengaruh, jadilah pribadi yang kuat! Jika kamu hanya menjadi “pengekor” yang sama dengan banyak orang, maka kamu bukanlah anak yang spesial.

Apa kerennya menjadi pengekor dan sama? Lebih hebat juga menjadi pencipta yang berani melakukan hal berbeda untuk sesuatu yang benar dan kamu yakini itu benar. Belum tentu yang banyak diyakini dan dilakukan banyak orang itu adalah benar. Bila dirimu ingin menjadi seseorang yang diperlakukan “khusus” maka jadilah pribadi yang “khusus”, berpikir, berperilaku, dan menciptakan hal-hal yang tidak selalu sama dengan orang lain. Meskipun dianggap aneh, berbeda, atau tidak benar, tetapi yakinlah bahwa yang benar itu haruslah benar. Berpikirlah dengan benar dan lakukan yang benar untuk kebenaran. Nanti kamu sendiri yang akan memetik hasilnya di kemudian hari.

Nah, untuk urusan pacaran ini juga, jadilah yang spesial, ya! Kamu jangan sembarangan dan seenaknya memperlakukan orang lain termasuk pacarmu kelak. Dirimu harus mampu memperlakukannya sebagai yang spesial karena dia memang spesial untukmu. Begitu juga dirimu, pasti ingin diperlakukan spesial olehnya, kan?! Sama saya saja dirimu ingin selalu jadi yang paling spesial, apalagi sama kekasihmu kelak. Oleh karena itu, selalu dahulukan kualitas dibandingkan dengan kuantitas. Untuk apa punya banyak pacar atau pacaran sana sini tetapi yah, segitu saja?! Tidak akan memberikanmu apa-apa juga selain semakin membuatmu “rendah”, tak percaya diri, dan semakin tak mampu mengendalikan diri. Jika kamu ingin mendapatkan yang “berkualitas”, maka kamu pun harus berkualitas. Hormati mereka sebagai yang terhormat, biar kamu pun dihormati. Bahagiakan mereka jika kamu pun ingin bahagia. Lagipula, apa enaknya bikin orang marah, kesal, dan sakit hati? Yang rugi pasti kamu sendiri juga meski kamu tutupi dan bohong sekalipun.”

Setiap orang tua tentunya ingin semua yang terbaik bagi anak-anaknya. Setiap orang tua juga tentunya yang paling kenal apa yang dibutuhkan oleh anak-anaknya. Masing-masing memiliki cara sendiri-sendiri di dalam mengasuh, merawat, dan membesarkan anak-anaknya. Tetapi tentunya sebagai orang tua, kita pun harus menyadari bahwa kita ini memiliki banyak sekali kekurangan dan belum pasti selalu tahu dan benar. Makanya, tak mudah untuk menjadi orang tua karena harus selalu menjaga agar diri tetap dewasa, dalam arti, selalu rendah hati, berjiwa besar, dan mau terus belajar. Keegoisan dan “nafsu” meski atas nama cinta tetap tidak akan membantu anak menjadi bahagia kelak, malah bisa menjerumuskannya.

Kebebasan dan hak itu juga sebaiknya diimbangi dengan aturan dan kewajiban. Tidak seimbang bila kita selalu mengatasnamakan kebebasan dan hak tetapi tidak juga memenuhi kewajiban. Bagaimana bisa merasa dan bisa dianggap dewasa jika demikian? Masa mengaku dewasa tapi tak mampu juga memenuhi kewajiban terhadap anak-anaknya sendiri?! Masih mau selalu merasa benar, pintar, dan “paling”?! Jadi anak SMP lagi sajalah, ya!!!

Yang paling mudah saja. Sementara kita sendiri tak suka dengan dusta, kemunafikan, korupsi, dan segala perbuatan tak baik, namun mengapa kita mengajarkan mereka demikian?! Mereka belajar dan mencontoh dari perilaku kita juga, kan?! Mereka adalah hasil dari apa yang sudah kita ajarkan dan didik serta apa yang sudah mereka lihat, dengar, dan rasakan. Jangan salahkan anak bila mereka melawan dan tidak lagi mau mendengar meski dari kecil sudah diajarkan untuk jujur dan segala hal yang baik, karena semakin besar, mereka semakin mengerti juga, loh! Cobalah untuk introspeksi diri, apa yang selama ini sudah diajarkan dan dicontohkan pada mereka?!

Anak bukanlah milik kita sebagai orang tua tetapi milik-Nya. Kita diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk mengasuh, mendidik, dan merawat mereka sebagai pembelajaran penting bagi diri kita sendiri di dalam menempuh setiap perjalanan kehidupan ini hingga akhirnya. Mereka adalah manusia-manusia mandiri yang sudah sepatutnya dididik dan diajarkan untuk bisa menjadi manusia yang utuh dan seutuhnya. Segala kemanjaan tak akan membuat mereka mandiri, begitu juga bila sudah diajarkan pada hal-hal yang membuat mereka menjadi labil, tak memiliki jati diri, dan kepercayaan diri yang kuat. Mereka jadi akan mudah terpengaruh dan terjerumus ke dalam segala hal yang bisa menyusahkan diri mereka nantinya. Apalagi jika terus dijejali oleh uang, ketenaran, jabatan, dan kekuasaan. Aduh!!!

Silahkan saja bila berpikir bahwa remaja muda belia itu sudah pantas, siap, dan layak untuk berpacaran bahkan untuk menikah sekali pun. Silahkan juga membuat mereka terpikat oleh kilaunya dunia. Silahkan juga untuj menuntut segala balas budi dan jasa yang sudah diberikan untuk mereka. Semua ini adalah pilihan. Sama seperti yang saya katakan pada pangeran, sudah siapkah bertanggungjawab atas semua resiko dan konsekuensinya?! Jangan ngamuk bila semua mimpi dan harapan itu hilang dan semua usaha serta kerja keras menjadi sia-sia belaka, ya! Jangan juga ngomel dan mengeluh bila bangsa dan negara ini kian hancur. Siapa yang sudah menghancurkan masa depan?!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

15 September 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Pendidikan Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s