Kepala Pentul Korek Api

Otak ada di kepala, bahkan udang pun masih berotak di kepala. Jika kepala tak berotak, maka sama seperti batang korek api. Pentulnya saja yang besar tetapi tak berisi otak sehingga digesek sedikit saja bisa mudah terbakar. Akhirnya, hanya jadi arang dan abu yang terbuang dan tak memiliki arti.

Kita semua boleh tertawa dengan bahasa yang digunakan oleh Vicky, tetapi hendaknya kita juga ikut prihatin. Orang yang memiliki kemampuan “bahasa” kacau balau sudah mampu menjadi hebat karena bisa membuat fenomena. Berapa banyak yang meniru-niru bahasa yang digunakannya?! Malah seperti menjadi tren sekarang ini.

Jika Vicky dianggap bodoh oleh sebagian orang, bagaimana dengan yang berhasil ditipunya?! Begitu juga dengan yang ikut-ikut meniru menggunakan bahasanya?! Jika sudah tahu itu adalah hasil dari sebuah kebodohan, mengapa malah digunakan?! Meskipun untuk lelucon semata, tetapi bahasa bukanlah sembarangan. Bahasa adalah alat untuk berpikir dan bahasa juga menunjukkan kualitas, pola pikir, dan kepribadian seseorang. Jadi, jangan heran bila negara ini semakin bodoh dan mudah dibodohi, masyarakatnya pun senang sekali menjadi bodoh dan dibodohi bahkan oleh diri sendiri.

Kita sering menyebut otak udang bagi orang bodoh. Tetapi itu mungkin lebih baik karena meski otak udang itu nyaria tak ada tapi masih ada di kepala. Sementara yang mengaku memiliki otak di kepala, besar pula, justru berpikir dan berperilaku seperti tak memiliki otak. Sudah seperti korek api, mudah tersulut oleh gesekan. Apa yang sedang heboh, trend, dan “massal” itulah yang diikuti dan bahkan dianggap benar. Bukannya berpikir panjang ke depan dan mempelajarinya agar bisa menjadi oribadi yang lebih berkualitas, ini malah menerimanya begitu saja tanpa “diolah dan dipikirkan” dulu. Jika dipikirkan pun paling hanya menjadi hinaan, cercaan, dan makian. Kalau diberitahu yang benar, tak terima dan langsung kebakaran. Banyak betul alasan dan pembenarannya. Susah, deh!!!

Dari kasus Vicky ini seharusnya kita malu hati, betapa kita ini sudah menjadi masyarakat yang bodoh. Matrealisme sudah menutup mata hati kita dan membuat kita lupa dengan arti pentingnya pendidikan yang benar. Sekolah pun untuk mengejar gelar, jabatan, dan harta bukan untuk menjadi yang terdidik dan berisi ilmu. Makanya, meski gelar berderet, uang banyak, dan punya jabatan tinggi sekalipun tidak menjamin seseorang benar pasti terdidik. Buktinya, untuk menempatkan diri kapan sebagai orang tua, anggota partai, profesional, dan sebagai pemangku jabatan di pemerintah pun tak bisa membedakan. Semuanya dijadikan satu dan tidak mampu memisahkannya sesuai waktu, tempat, dan kondisi serta situasi. Itu baru pemerintahnya, masyarakatnya pun sama saja. Asyik saja mencari eksistensi lewat koar-koar, teriakan, demonstrasi anarkis, menuntut hak melulu tetapi kalau sudah disumpel “duit” atau “jabatan” langsung diam, deh! Anak masih di bawah umur saja bisa diberikan kepada para petinggi itu tanpa mengindahkan masa depan mereka kelak. Anak umur 13 tahun pun bisa dibebaskan pacaran, diantar hingga larut malam, dan bahkan diajak makan malam bersama orang tua. Apa hanya karena anak itu anak seorang selebriti?! Kalau sudah terjadi apa-apa, menyesal pun tidak lagi ada guna, kan?!

Udang itu besar kepala tapi otaknya kecil banget, pantas untuk dijadikan simbol orang yang sombong. Tapi itu jauh lebih baik dibandingkan dengan pentul korek api, karena sudah tak berotak, keras pula. Tak lagi bisa diisi oleh apa-apa saking kerasnya. Rasanya sudah sehebat batu karang di tengah samudra saja, tetapi sebetulnya sangat rapuh. Mudah sekali dihancurkan dan dibuang begitu saja. Sangat malas untuk belajar sehingga selalu bersikap difensif dan menyerang, karena memang tak memiliki dasar yang kuat. Pemahaman dan keyakinan hanya sebatas apa yang dibaca, didengar, dan ditonton saja, bukan hasil dari pemikiran. Padahal, untuk menjadi orang yang kaya akan ilmu dan memiliki keyakinan penuh atas apa yang diyakininha, perlu kerendahan hati dan jiwa besar. Tidak perlu sampai selalu menyerang dan membawa-bawa segala atas nama dan “kata-kata” yang lain. Cukup dengan kata-katanya sendiri saja sudah bisa membuktikan apa dan siapa dirinya termasuk kekayaan ilmu dan keyakinannya.

Yang gampang sajalah, soal tulisan-tulisan di jejaring sosial. Betul, setiap orang berhak suka-suka dan mendapatkan haknya, tetapi orang yang pintar tentu juga tahu aturan dan kewajibannya. Asal menulis dan menggunakan bahasa yang seenaknya, itu adalah hak pribadi setiap orang tetapi sadarkah bahwa setiap orang juga wajib untuk mengikuti aturan dan memenuhi kewajibannya?! Tulisan mempengaruhi banyak orang karena setiap kata dan kalimat adalah sarana untuk berpikir dan sekaligus menuangkan pemikiran. Kalau asal, maka pikiran pembaca pun dibuat menjadi asal, sehingga akan membuat dia pun menjadi asal-asalan. Lambat laun semuanya menjadi berantakan, tidak ada lagi aturan dan tidak tahu lagi aturan. Jangankan soal kewajiban, aturan pun bablas, kok!!!

Alasan kreatifitas tetap tidak bisa kemudian juga mengabaikan semuanya. Selalu ada batas di dalam kehidupan ini karena kita adalah makhluk sosial yang memiliki pengaruh dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Pembentukan kata dan bahasa bukanlah sesuatu yang bisa dianggap mudah, karena sangat berpengaruh dan dipengaruhi oleh pola pikir dan seluruh aspek dalam kehidupan ini. Rentetannya sangat panjang. Vicky dengan bahasanya berhasil menipu para gadis, lalu para gadis itu sedih dan marah, menjadi bahan di media massa yang mempengaruhi penonton, pembaca, dan pendengarnya, dijadikan status dan disebarkan ke mana-mana lagi baik di rumah, kantor, dan semua tempat sehingga kemudian meluas ke mana-mana. Sementara kita sadar bahwa bahasa yang digunakan oleh Vicky itu salah dan kacau balau, tapi karena pentul korek ya, jadinya begitulah! Yang paling untung siapa? Tentunya yang paling mendapatkan banyak uang dan keuntungan dari semua kebodohan dan pembodohan ini!!!

Apa mau dikata, pentul korek api yang disatukan di dalam kotak korek api akan selalu merasa lebih kuat. Mana mungkin setitik air bisa menghentikan kobaran api yang sudah dibuat, pasti hanya akan menjadi asap dan menghilang begitu saja. Sementara air bila sudah berkumpul sebetulnya bisa menjadi banjir, sayangnya air pun tak mau juga menyatu. Jadilah semuanya serba salah dan pasti dianggap salah bila hanya sendirian dan berbeda.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

16 September 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s