Politik Uang dan Seks

Mendapatkan penghasilan lewat seks bukanlah sesuatu yang sulit. Jumlah uang yang diterima dan dikeluarkan oleh “pemberi dan pembeli” sebanding dan seimbang, ada kebutuhan, kesenangan, dan kepuasan tersendiri yang terpenuhi yang bahkan seringkali tidak bisa dikalkulasikan dalam angka. Seiring dengan waktu yang berjalan, dorongan untuk mendapatkan penghasilan dari seks ini ternyata semakin besar, terutama karena ada banyak celah dan kesempatan untuk “membenarkannya”. Selain itu, ada kebutuhan lain yang menyeimbangkannya, yaitu untuk kebutuhan politik uang. Titip-titip uang hasil “jarahan” dan “beli-beli” pakai nama orang lain, kan, bisa saja. Seks memang penuh dengan politik.

Sudah banyak contoh kasus yang membuktikan politik uang dan seks ini. Tentunya tidak akan ada satu pun yang mau mengakuinya dan ada banyak alasan untuk menyanggahnya. Sama-sama tahu sajalah, tak perlu dibahas dan dikorek-korek juga kecuali ada niat yang sungguh-sungguh untuk memberantas korupsi. Selama yang dibongkar adalah pelaku korupsinya saja, bukan menutup celah yang membuat terjadi korupsi, maka tidak akan ada perubahan yang lebih baik. Lagipula, siapa yang bisa melarang mereka untuk melakukannya bila hal ini sifatnya sangat pribadi dan memiliki banyak sudut pandang berbeda.

Pendapat dan pemikiran sehari-hari yang umum dan sudah biasa juga menunjukkan betapa “biasanya” hal ini dilakukan. Orang tua yang konon katanya sayang anak pun mendorong anaknya untuk berpikir ke arah itu. “Nggak mau melihat anak susah!”, begitu alasannya tanpa mengindahkan kehormatan dan harga diri yang seharusnya diajarkan dan dicontohkan oleh orang tua. Ini malah orang tua sendiri yang menyerahkan kehormatan dan harga diri darah dagingnya kepada level murahan dan rendah walau tampaknya diberikan kepada orang “yang terhormat”. Jalan pintas yang mudah dijadikan solusi terbaik dan menjadi budaya yang dianggap benar. Mana peduli uang yang diberikan pada anaknya itu hasil korupsi atau bukan?! Yang penting “kewajiban” diberikan dan dipenuhi.

Trend mencari pasangan yang sudah beristri atau bersuami dan “mapan” untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar, ternyata memberikan peluang memaksimalkan azas manfaat bersama. Para “penjual seks” ini bisa dimanfaatkan untuk banyak kepentingan, bahkan untuk menjatuhkan “lawan” dan “pesaing”. Sungguh mudah saat ini menarik “melakukan pemerasan” lewat hal-hal yang berbau seks. Begitu juga untuk mendapatkan “bisnis” dengan menawarkan seks sebagai penggiur dan penggugah. Seks memang sangat menggiurkan dan mengundang selera siapapun, tergantung pada “kewarasan” dan kemampuan mengendalikan diri saja.

Jika diperhatikan, pemikiran dan budaya seperti ini bukanlah sesuatu yang baru dan ada sejak lama, bahkan dianggap lumrah dan biasa. Yang berubah adalah pada “strategi dan pemanfaatannya”. Apalagi kemungkinan untuk “meloloskan” diri sangatlah mudah. Bila ada pemeriksaan, tinggal mengembalikan saja apa yang “nampak” dan “ketahuan”, dan aliran dana yang dipersoalkan hanyalah yang terlacak lewat sistem perbankan. Biar pun “pintu depan” tertutup, tetapi “dapur” tetap dapat selalu terbuka dan menganga. Padahal sudah banyak terbukti bahwa perempuan tidaklah selemah dan sebodoh itu, malah bisa lebih kejam dan tak peduli dibandingkan dengan pria untuk urusan uang dan kekuasaan. Tangis dan sedu sedan masih menjadi topeng yang sangat ampuh mengelabui dan membual. Hal ini menjadi bukti bahwa meski jaman berubah dan teknologi makin canggih, manusia yang primordial tetap saja primitif.

Sementara cara penanganan masalah sosial yang berhubungan dengan seks ini pun dipenuhi dengan tujuan politik tanpa mengindahkan kemungkinan-kemungkinan besar yang dapat berpengaruh besar kepada masa depan masyarakat, bangsa, dan negara secara keseluruhan. Penutupan lokalisasi, pemusnahan video porno, tes keperawanan siswa, hingga pelarangan “mengangkang” bagi perempuan saat bersepeda motor pun jelas sekali tujuan politiknya meski menggunakan berbagai alasan dan pembenaran serta mengatasnamakan kebenaran. Banyak proyek bisa dibuat dari masalah ini tetapi tidak memberikan hasil yang jelas, malah masalah seks semakin mengkhawatirkam termasuk masalah penyebaran penyakit kelamin menular seperti HIV dan AIDS. Pola pikir yang menjadikan seks masih sebagai “objek” tidak akan membuat perubahan apa pun juga, tetapi malah akan semakin menjerumuskan.

Para filsuf dan pemikir sejak jaman dahulu sudah memikirkan masalah ini. Contohnya saja Freud, yang sadar penuh bahwa seks memiliki energi dan kekuatan yang sangat besar. Begitu juga dengan Foucalt, yang bisa melihat bagaimana manusia bisa menjadi kehilangan kewarasannya karena seks. Tidak usah para pemikir besar itu, para pendahulu kita pun sudah membuat seks menjadi sedemikian tabunya. Tabu bukan karena porno atau menjerumuskan tetapi adalah sesuatu yang sangat besar, rumit, dan tidak mudah untuk dipelajari karena menyangkut seluruh aspek dalam kehidupan. Salah-salah bisa membuat semua menjadi terjerumus dalam kesesatan dan membuat bangsa, negara, dan masyarakatnya hancur. Oleh karena itu, “hanya yang mampu” saja yang boleh mempelajarinya agar tidak salah kaprah oleh kekerdilan dan kekotoran hati serta pemikiran. Seks itu adalah anugerah besar yang diberikan oleh Allah kepada manusia, merupakan titik awal kehidupan dan kehidupan itu sendiri, sehingga seharusnya menjadi subjek yang dihormati, dijaga, dan dihargai bukan sebagai objek yang dimanfaatkan untuk kesenangan dan kepentingan semata.

Politik uang dan seks tidak bisa diabaikan begitu saja. Pendidikan tidak akan pernah cukup mendidik selama tidak ada perubahan pola pikir. Selama seks dijadikan objek dan uang menjadi Tuhan, maka tidak akan ada yang berubah menjadi lebih baik dan maju. Bagaimana nasib masa depan?!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis
16 September 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Sosial dan Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s