Dusta Sepasang Nafsu

Selama ini semuanya berjalan seperti biasa, bahkan sangat romantis dan harmonis di depan mata semua orang. Sudah seperti pasangan paling ideal yang sangat mencintai satu sama lainnya. Namun ternyata, semua itu hanyalah kepalsuan dan kemunafikan belaka. Dengan berbagai macam alasan dan pembenarannya, dusta, palsu, dan kemunafikan itu tetap tidak bisa dipungkiri. Pada akhirnya, semua kebenaran itu akan terkuak dengan sendirinya bila masa dan waktunya tiba. Siapkah menghadapi dan mempertanggungjawabkannya?!

Sudah bukan cerita baru bila ada sepasang kekasih atau suami dan istri yang hidup dalam kepura-puraan. Mempertahankan perkawinan dengan segala macam alasan dan pembenarannya, sementara sesungguhnya mereka sudah tak lagi berdua dan bersama dalam cinta. Yang satu ke mana, yang satu lagi ke mana. Yang satu dengan siapa, yang satu lagi entahlah. Tetapi hebatnya, dua-duanya bisa sama-sama menutup mulut dan menyembunyikannya sedemikian rupa. Hidup dalam dusta, kepalsuan, dan kemunafikan dipilih meski sadar itu bukanlah perbuatan baik dan benar. Anehnya, justru kemudian agama digunakan sebagai “topeng” atau “pelarian” atas rasa bersalah yang terus menghantui. Suara hati mana bisa dipungkiri?!

Sebetulnya bisa saja memilih untuk memperbaiki hubungan kembali, tetapi banyak lagi alasan dan pembenarannya. Komitmen untuk memperbaiki hubungan memang tidak mudah apalagi bila “rasa” itu sudah datar. Perlu waktu dan usaha keras dari keduanya untuk sama-sama mau melakukannya. Jika hanya salah satu saja, maka akan teramat sangat sulit dilakukan. Butuh kesabaran dan perjuangan ekstra untuk bisa mewujudkannya.

Nah, paling seru kalau kemudian semua dusta ini terbongkar. Memang ada banyak cara untuk bersikap difensif tetapi tetap saja rasa malu, takut, dan bersalah itu ada. Mau menyalahkan salah satu juga tak bisa karena dua-duanya memiliki peranan, selalu ada sebab dan akibat atas apa yang terjadi. Sayangnya, untuk mau mengakui kesalahan diri sangatlah sulit. Lebih mudah tunjuk jari dan menyalahkan. Apalagi kalau pas ada ketahuan orang ketiga yang tertangkap basah. Wah, makin runyam, deh!!! Isak tangis pun dijual untuk mendapatkan simpati. Hedeh!!!

Banyak, kan, perempuan yang hanya mau dipenuhi haknya saja dan mewajibkan pasangannya untuk selalu memenuhi kewajiban? Kalau tak dipenuhi, marah-marah dan mengamuk. Sementara kewajibannya sendiri terhadap pasangan tidak mau dipenuhi kecuali ada embel-embel. Lagipula, tutup mata saja bila pasangannya “selingkuh” di luar. Yang penting “balik botol” dan kewajibannya dipenuhi. Begitu, kan?!

Begitu juga dengan pria, yang merasa sudah memiliki segalanya bila sudah memiliki uang dan jabatan. Menjadi tinggi hati dan cenderung “mengecilkan” pasangannya yang “hanya” di rumah. Asyik saja membuktikan diri dengan ke sana ke mari, berpikir bahwa kecukupan materi adalah yang “hanya” dibutuhkan di rumah. Giliran “ditinggal” oleh pasangannya, gengsinya melonjak. Tak mau terima. Mempertahankan dan memperebutkan pun bukan karena sesungguhnya masih ada cinta, tetapi hanya karena untuk memenuhi ego semata.

Anak yang paling sering dijadikan “tameng” untuk menjaga sebuah perkawinan itu tetap ada. Tanpa juga mau mengerti bahwa anak yang hidup dalam sebuah kehidupan keluarga yang penuh dengan dusta, kepalsuan, dan kemunafikannya maka dia akan belajar bahwa semua itu adalah benar, sehingga tidak merasa bersalah bila melakukannya. Sekarang belum tentu semua itu terasa, tetapi bila dia kelak memiliki pasangan, maka semuanya baru bisa dibuktikan. Mau diakui atau tidak, disadari atau tidak, tetap saja memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak. Tanggung jawab?! Kalau benar bertanggung jawab, kenapa berdusta dan munafik?!

Malu dengan keluarga, teman, dan sahabat juga “tameng” yang rajin digunakan. Herannya, justru lebih berani berdusta, penuh dengan kepalsuan, dan kemunafikan daripada jujur karena memiliki rasa malu, bukan karena bersikap difensif. Lebih suka hidup dalam “sembunyi” yang mengurung dan mengekang daripada “bebas” dan merdeka. Apa tak mau hidup bahagia? Pasti jawabannya mau, tetapi untuk berusaha pasti lagi-lagi banyak alasan dan pembenarannya. Jika saja mau melihat dari sisi keluarga, teman, dan sahabat yang sudah “dibohongi” apalagi kalau sudah sampai ketahuan, maka akan bisa merasa betapa sedihnya dibohongi oleh orang yang dikasihi, disayangi, dan dipercaya.

Agama?! Urusan yang satu ini memang sangat sensitif dan pribadi sekali. Namun soal dusta dan kemunafikan itu adalah hal yang paling mendasar diajarkan di dalam setiap agama mana pun. Tidak ada agama yang membenarkan perilaku dusta, palsu, dan munafik. Semua juga tentunya mengajarkan agar selalu jujur. Jika memang patuh pada agama, maka seharusnya kejujuran itu didahulukan dan tidak perlu ada alasan atau pembenaran untuk bisa melakukan semua duata, kepalsuan, ataupun kemunafikan itu. Jujur, ya, jujur saja. Paling tidak jujur pada diri sendiri dan pada-Nya. Kalau yakin tidak bisa “berpisah” karena agama, maka berusahalah agar kehidupan berpasangan itu kembali baik dan harmonis. Jangan hanya pura-pura saja, dong!!! Kasihan amat agama dan yang sudah membuat agama ada di dunia ini. Hormatilah!!!

Urusan dusta sepasang nafsu ini sungguh sangat rumit. Kalau dibilang nafsu pasti marah, kalau dibilang cinta, buktinya penuh dengan dusta, palsu, dan kemunafikan. Tak jelas maunya apa, pokoknya yang penting diri sendiri adalah yang paling benar. Yah, tak masalah kalau memang itu yang dipilih tetapi jangan sampai membuat yang lain jadi ikut susah dan sedih. Berapa banyak pria dan perempuan yang sudah dibohongi?! Bagaimana kalau mereka benar-benar serius dan cinta?! Apakah mereka yang harus berkorban dan dikorbankan oleh “nafsu”? Enak banget, ya!!! Egois dan jahat!!! Memang enak jadi yang dibohongi dan “disembunyikan”?

Mudah untuk bicara, “Bagaimana nanti!!!”. Pas saat dan waktunya tiba saja, hmmm….

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

25 September 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Jiwa Merdeka and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s