Kualitas Vs. Kuantitas Seks dan Cinta

Seks adalah kebutuhan, begitu juga dengan cinta. Namun, apakah bila banyak melakukan hubungan seks dan mengumbar cinta maka kebutuhan pasti dapat terpenuhi? Apakah sebegitu sulitnya menjadi yang berkualitas dan mendapatkan yang berkualitas sehingga kualitas itu diabaikan begitu saja?! Ini kebutuhan seks dan cinta atau kebutuhan nafsu, uang, dan pembuktian diri, sih?!

Di era yang “bebas” penuh komersialisasi dan industri seperti sekarang ini, rasanya semakin sulit saja untuk menemukan yang khusus dan spesial, yang benar-benar berkualitas dan mampu menjaga dirinya agar tetap berkualitas. Terlalu banyak yang “biasa”, sama, dan kebanyakan, sehingga sudah sangat membosankan. Mau perempuan atau pria, kaya miskin, tua muda, punya banyak gelar atau tidak sekolah, punya jabatan tinggi atau tidak, hampir rata-rata perilaku dan pemikirannya sama saja untuk urusan seks dan cinta ini. Pasaran banget!!!

“Saya sebetulnya sedang masalah dengan pasangan saya. Yah begitulah…. Kami bertahan hanya karena keluarga dan anak-anak saja…. Bla bla bla….”

“Saya suka heran, kenapa mereka mau, ya, sama saya padahal saya biasa-biasa saja. Kata mereka saya ini……. Preeettt!!!”

“Habis dia juga banyak pacarnya! Sudah berapa kali ketahuan….. Halah halah halah….!!!!”

“Kenapa mesti sok dan muna? Namanya juga seks, semua pasti butuh. Rugilah kalau tidak dinikmati? Memangnya mau sampai kapan memendamnya?….. Hedeh!!!!”

“Dirimu itu berbeda, ya!… Basi!!!”

……
……
……

Ditambah lagi dengan kemudahan-kemudahan di dunia maya dan dunia nyata serta pandainya berkata-kata untuk beralasan dan mencari pembenaran. “Modus”-nya sudah bisa ditebak dan hampir sama saja sebetulnya antara satu dengan lainnya. Tidak perlu pintar untuk dapat mengetahuinya, yang penting tidak “kegeeran” dan memang berani untuk menjadi diri sendiri yang penuh dengan rasa hormat terhadap diri sendiri dan yang lainnya. Kecuali memang punya maksud dan tujuan untuk kesenangan dan kepentingan pribadi juga, itu lainlah ceritanya. Resikonya yah, telan saja sendiri.

Herannya, jarang sekali yang mau mengakui soal kuantitas ini. Kebanyakan pasti merasa tetap mementingkan kualitas dan menjaga kualitas serta memilih yang berkualitas. Lah, kalau sudah umbar sana sini dan “murah” serta “mudah” lantas apanya yang berkualitas?! Belum tentu yang mengaku sudah “berpengalaman” dan “hebat” itu memang benar demikian. Kebanyakan hanya ngomongnya saja, seolah benar iya. Dari hasil penelitian pun terbukti justru yang “kurang, biasa-biasa saja, dan bermasalah”-lah yang paling banyak mengumbar. Kalau yang betul-betul berkualitas, pasti tidak akan sembarangan, dong! Ngapain juga merendahkan diri, lebih baik tetap menjaga kualitasnya. Barang yang berkualitas saja pasti mahal harganya walaupun barang yang mahal belum tentu juga berkualitas. Iya, kan?!

Jika dipikir-pikir, apa, sih yang didapat dari semua ini? Apa enaknya berhubungan seksual hanya semata berhubungan seksual. Kebutuhan fisik atas pemenuhan kebutuhan seksual ini memang tidak bisa dihindarkan, tetapi kalau hanya untuk sesaat dan begitu-begitu saja, untuk apa?! Berapa lama waktu yang bisa dinikmati atas perilaku demikian, bandingkan dengan resiko dan konsekuensinya. Belum lagi ditambah penyesalan dan rasa kesepian yang semakin menjadi dan merongrong, diakui tak diakui, disadari tak disadari.

Lain kalau benar cinta, tentunya akan terasa sekali keindahan dan kenikmatannya sepanjang waktu. Ada “rasa” di hati yang lebih dari sekedar urusan fisik, ada yang dipenuhi pada diri. Paling tidak, ada bahagia yang dahsyat karena dipenuhi oleh cinta. Nggak ada kemudian urusan merasa untung atau rugi, karena betul-betul dari dalam hati yang tulus dan tanpa pamrih.

Yang paling menggelikan adalah bila kemudian “ditendang” atau “dibuang” begitu saja. Tak sedikit yang merasa sakit hati, malu, dan marah karena tidak menerimanya. Lalu kemudian muncullah segala perjuangan yang difensif lewat penyerangan ke mana-mana ditujukan untuk “balas dendam” atau sekedar melepaskan semua rasa sakit hati dan malu. Dunia maya pun banyak dimanfaatkan tanpa juga sadar bahwa sesunggunya semua itu menunjukkan kebodohan, kerdilnya jiwa, dan rendahnya kualitas diri sendiri. Memangnya orang lain itu bodoh semua dan tak mengerti?! Salah sendiri, kok, mau?! Kenapa tidak berani mengakui kesalahan diri dan berjiwa besar untuk menerimanya sebagai kesalahan agar kemudian diperbaiki?!

Semua masalah ini bisa terjadi karena diri sendiri dan yang memilih untuk mengambil pilihan seperti ini adalah diri sendiri juga. Pasangan memang memiliki peranan tetapi hanya separuh saja, sehingga tidak bisa sepenuhnya dia yang dianggap bertanggung jawab dan disalahkan. Begitu juga dengan budaya atau lingkungan, harus dari diri sendiri yang mengambil keputusan walau ada “gangguan” dan “godaan” dari mana-mana. Jika setan pun mau disalahkan, seharusnya malu pada diri sendiri, mengapa sampai bisa terjebak dalam jebakannya. Terlalu “biasa” banget untuk menggunakan alasan-alasan dan pembenaran yang demikian. Sama sekali tidak berkualitas!!!

Tubuh kita ini memang hanya seonggok daging yang akan kembali menjadi debu dan tanah nantinya, tetapi ada roh dan jiwa yang membuat kita ini menjadi lebih berharga. Ada juga otak dan hati yang merupakan anugerah, yang menjadi sia-sia jika tidak digunakan dengan sebaik-baiknya. Jika kuantitas itu memang menjadi pilihan, silahkan saja, tapi jangan marah kalau memang hanya mendapat “nilai” yang sedemikian, ya! Salah sendiri, kok!!!

Salam hangat,

Mariska Lubis

27 September 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s