Uang Bukan Segalanya

Seekor kupu-kupu rama-rama terpesona pijar lampu yang nampak lebih benderang, melupakan rembulan dan membuatnya tersesat di tengah kegelapan malam. Kebingungan mencari jalan keluar dan menabrak dinding ke sana ke mari penuh kepanikan. Hingga akhirnya terkapar kelelahan dan pasrah dengan robekan di sekujur sayapnya. Siapa yang bisa dia salahkan?!

Langit sudah terlanjur memerah dan matahari segera menepati janjinya. Kupu-kupu rama-rama sudah kehilangan tenaga bahkan untuk merayap di lantai. Dia hanya bisa cemburu pada burung-burung yang berkicau dengan merdu di antara bunga dan dedaunan. Suara hati dan naluri yang diabaikan dan tak didengar membuat kehilangan segalanya. Pijar lampu memang nampak lebih benderang tetapi kepalsuannya telah menyesatkan.

Setiap insan pasti mendambakan cinta dan memiliki cinta yang menuntun dan menunjukkan arah. Namun, cinta itu bukanlah benda yang berwujud seperti rembulan sehingga sangat sulit untuk “dilihat” oleh mata. Sementara kilauan wujud duniawi lebih berkilau dan nampak indah hingga membuat mata menjadi silau. Hati dan pikiran pun terpesona dan jatuh dalam genggamannya. Cinta yang didambakan seolah sudah dimiliki dan dikuasai sehingga cinta yang sesungguhnya dilupakan serta terlupakan.

“Duit, duit, duit! Nggak ada duit, nggak ada cinta!”
“Duh, cinta bisa dibeli uang?!”
“Coba saja tunggu pas tengah bulan, yang katanya cinta tulus pun terbukti nggak ada!”
“Apakah dirimu pun membeli cinta dengan uang?!”
“Kalau nggak ada uang, mana ada cinta? Yang ada diomelin dan dimarahi. Pakai ejekan pula!”
“Harga diri, ya? Punya uang jadi dihargai dan punya harga diri.”
“Iyalah! Di jaman sekarang ini, miskin nggak ada harganya!”
“Apakah memang cinta itu sudah benar-benar nggak ada?!”
“Ada barangkali, tapi hanya untuk yang bodoh saja. Memang ada yang mau hidup susah? Semua butuh duit dan semua dibeli pakai duit! Sudahtak jaman beli pakai gombalan!”
“Kalau pun ada, apakah dirimu bisa percaya?”
“Memang ada?!”
“Loh!”

Terbayang wajah-wajah para insan yang tersenyum merekah di hadapan tumpukan harta. Berperilaku layaknya singa baru lepas kandang yang begitu kelaparannya hingga tak bisa memilih. Yang penting mahal dan bermerk terkenal agar bisa “unjuk gigi” walau sesungguhnya membuatnya tampak ompong. Yang bergigi adalah barang-barangnya, bukan dirinya sendiri. Yang berkilau juga tampilannya semata, bukan hati, jiwa, dan pikirannya. Logika yang mengaku diandalkan justru sudah membuktikan ketidaklogisan. Sungguh sangat kasihan!

Sibuk merengek, meminta, memaksa, memeras, menipu, menjajah, dan mau saja melakukan apa pun untuk mendapatkan harta. Bahkan harga diri mau saja direndahkan, tubuh diserahkan begitu saja, dan cinta dijual. Agama dan idealisme, Tuhan pun dijual dengan berbagai macam alasan dan pembenarannya. Gelap hingga tak peduli dengan kebenaran dan kesabaran, yang penting adalah keinginan dan kebutuhan diri serta kelompoknya sendiri. Congkak dengan ilmu dan kekuasaan yang dibeli. Korupsi yang sedemikian besarnya pun hanya ditahan berapa lama dipenjara? Jika sudah keluar nanti, masih banyak tumpukan harta tersimpan yang bisa dinikmati.

Di sisi lain, ada wajah-wajah kusut dan layu berdompet lebih tipis dari sehelai daun. Merintih lirih di tengah kesempitan dan hanya bisa mengigit jari penuh rasa cemburu. Meratapi nasib yang tak kunjung jua berubah walau niat baik dan kerja keras sudah dimaksimalkan. Lupa bahwa ada banyak kebahagiaan yang sesungguhnya dimiliki. Meski direndahkan tetapi memiliki banyak kesempatan untuk memperkaya diri, hati, dan jiwa oleh rasa lapar akan kebenaran dan cinta yang sesungguhnya. Agar kelak bila masa dan waktunya tiba, tidak menjadi “ompong”. Pada saat kenyang dan kekenyangan, kantuk pun tiba, bukan?! Oksigen saja kurang, bagaimana mampu merunduk dan bisa lebih terisi?

Sendirian dan sepi pun bukanlah sesuatu yang menakutkan. Jika saja mau membuka diri dan menerima kebersamaan, maka tak akan pernah ada yang sendirian ataupun merasa sepi. Menyatukan kekuatan sayap-sayap yang ada dan mengepakkannya dalam sebuah harmoni keseimbangan bukanlah hal yang mustahil bila ada ketenangan, kesabaran, dan kemauan. Setiap benturan menjadi pelajaran berarti yang sangat berharga dan tak perlu ditakuti atau dijadikan bahan unjuk jari. Keyakinan menjadi keteguhan yang terus mendorong dan memicu diri untuk lebih baik lagi setiap waktunya. Kreatifitas saat lapar jauh lebih banyak menghasilkan keindahan bila dipenuhi dengan cinta dan ketulusan dibandingkan saat kenyang dan kekenyangan.

Hidup ini selalu berputar dan semua ada masa serta waktunya. Andai saja tidak ada lampu yang berpijar terang, kupu-kupu rama-rama tidak akan pernah tersesat. Tidak perlu juga menjadi linglung dan panik sehingga terburu-buru dan mengambil jalan pintas. Putus asa karena harus menghadapi masalah dan kegagalan yang berkali-kali juga tidak akan membuat kehidupan menjadi lebih baik. Kesempatan bukanlah keberuntungan, tetapi adalah kreatifitas di dalam mencari dan membuatnya.

Uang memang dibutuhkan tetapi bukan segalanya. Di dalam hidup ini yang sebetulnya menjadi masalah adalah soal dicintai dan mencintai, bagaimana kita menjalani hidup, dan bagaimana juga bisa terus menjalani kehidupan yang singkat tanpa kehilangan banyak waktu agar tak ada penyesalan di kemudian hari. Apalah artinya uang jika kita kaya oleh hati serta ilmu dan memiliki jiwa yang penuh serta utuh. Kaya atau miskin sama saja, ada enak dan tak enaknya, sama-sama memiliki dan menghadapi masalah. Lagipula, semua kemewahan dunia itu pasti akan kita tinggalkan dan tak akan pernah bisa dibawa ke mana-mana. Apa yang membuat kita bisa meninggalakan “nama” baik sepanjang masa bukan uang, kan?!

Kupu-kupu rama-rama pada akhirnya kembali terbang setelah tergeletak sesaat. Ada tangan yang membantunya kembali pada bunga-bunga tempatnya berayun dan bermain. Tidak perlu malu atau takut untuk dibantu dan memohon bantuan pada-Nya, karena dia pasti selalu memberikan apa yang kita butuhkan untuk menjadi lebih baik.

Salam hangat penuh cinta selalu,

Mariska Lubis
5 September 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Uang Bukan Segalanya

  1. kumbang emas says:

    I loveee this story…

  2. Wah, bisa simpel ngasih koment di sini.
    Ngasih koment dulu ah.
    Betul Mbak Mariska, Uang bukan segalanya.
    Hanya saya pernah dengar begini.
    Orang yang punya banyak uang itu belum tentu bahagia,
    apalagi yang tidak punya uang.
    Gimana itu?🙂

  3. Herry Herdian Koeswayo says:

    aku tidak sependapat nih, tidak punya uang juga bisa bahagia, karena bahagia atau nyaman itu hanyalah permainan pikiran…. bahagia itu bisa diciptakan oleh pikiran kita, tidak ada hubungan dengan jumlah uang, begitu pula tidak bahagia bisa diciptakan oleh pikiran kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s