Setia? Nanti Dulu!!!

Sekarang sudah bukan lagi jamannya setia, untuk setia pada idealisme politik saja tidak mampu apalagi setia pada pasangan. Pindah-pindah partai sudah seperti ganti baju dan memiliki banyak “cadangan” tempat pelampiasan seks sudah seperti makan kerupuk. Begitu mudah karena banyak sekali alasan dan pembenarannya. Agama dan Tuhan saja bisa digadaikan, rakyat dan kebenaran bisa dijual untuk mengatasnamakan kepentingan dan keuntungan diri sendiri dan kelompoknya. Lagipula, hak asasi dan privacy yang dijunjung tinggi tidak diseimbangkan dengan mendahulukan kewajiban asasi dan batas-batas norma, etika, dan hukum. Tak heran bila banyak sekali masalah seks dan politik yang menjadi sensasi dan sensasional.

Masa boleh terus berganti, tetapi sepertinya perilaku manusia-manusia tidak juga pernah berubah. Teknologi yang semakin canggih bahkan tidak mampu membuat manusia berpikir lebih modern dan maju ke depan. Malah sepertinya semakin primitif dan primordial. Yang dipikirkan hanya urusan “sekarang” dan saat ini, tidak mampu atau tidak mau berpikir selangkah dua langkah maju dan untuk ke depan. Sekolah semakin tinggi dengan gerat berderet juga tak menjamin seseorang benar terdidik. Apalagi jabatan dan harta yang berlimpah, malah semakin menunjukkan betapa “terbelakangnya” manusia-manusia saat ini.

Benar barangkali apa yang dikatakan oleh banyak orang bahwa Indonesia ini belum siap untuk menjadi negara yang merdeka. Perilakunya saja masih menunjukkan sikap masyarakat terjajah yang senang dijajah, menjajah, dan dibodohi serta membodohi. Yang berubah hanya siapa yang melakukannya. Jika dulu adalah bangsa asing, sekarang adalah bangsa sendiri dan diri sendiri. Yang disebut elit saja sama sekali tidak elit, perilakunya sudah seperti orang kaya baru alias OKB. Terlalu bodoh atau entah terlalu sombong sehingga tidak tahu bagaimana menempatkan diri sesuai posisi, tempat, dan waktunya. Jangankan untuk menunaikan kewajiban, apa dan siapa dirinya sendiri yang benar-benar dirinya saja tidak tahu dan tidak mengerti. Apalagi urusan masalah bangsa dan negara ini, memang benar mengerti apa duduk persoalannya?! Kerjanya hanya tuding menuding dan tunjuk jari saja dan membuat sensasi keributan, berlagak seperti pahlawan tetapi tidak bisa menyelesaikan masalah dari akar dan intinya.

Kemunafikan begitu merajalela. Negara yang mengaku ber-Tuhan dan memiliki agama yang kuat, terbukti malah sama sekali tidak menghormati Tuhan dan ajarannya. Sibuk memakai topeng kebaikan dan kebajikan tetapi pengecut untuk mengakui kesalahan, bertanggung jawab, dan berkata benar dan jujur. Untuk berani jujur dan terang-terangan melakukan pernikahan yang sah secara agama dan hukum negara saja takut. Beraninya sembunyi-sembunyi atau melakukan nikah siri agar dianggap sah. Nah, uang yang diperoleh untuk membiayai pernikahan resmi dan apalagi yang “sembunyi” itu dari mana? Berani mengakuinya?!

Gagal mendapat posisi di partai yang satu lalu loncat ke partai yang lain tanpa mengindahkan idealisme meski mengaku idealis. Sejuta alasan dan pembenaran dilakukan dan diutarakan kepada publik, tanpa juga berani mengakui kebenaran apa yang sebenarnya dituju dan yang ingin diraih. Apa ada yang berani bilang, “Ya, saya ingin jabatan dan ingin punya banyak uang”?! Kan, semua juga bilangnya tak menginginkan semua itu tetapi “hanya” ingin berbakti pada bangsa dan negara. Niatnya mungkin benar sedemikian mulianya, tetapi bagaimana dengan jalan yang ditempuhnya?! Berbakti atau merampok?!

Apakah dipikirkan juga oleh para “penerima” uang itu?! Mana juga dipedulikan. Lihat saja tayangan di televisi yang mengungkap perilaku para perempuan simpanan atau bahkan para istri “sah” pejabat-pejabat di negeri ini. Yang dipikirkan hanyalah kenyamanan pribadi dan keluarganya sendiri saja. Memang tidak ada yang salah dengan itu semua, tetapi apakah tidak memiliki hati bagi bangsa dan negara ini?! Uang hasil korupsi juga tetap saja “diembat” dan diterima serta dinikmati tanpa ada “rasa” sedikit pun. Berlagak tak tahu, pura-pura bodoh, atau memang tak mau tahu sudah menjadi alasan yang biasa. Semakin menunjukkan kualitas dan kehormatan yang sesungguhnya dianut dan diyakininya sendiri.

Banyak sekali kemudahan untuk bisa melakukan semua ini. Hukum yang tidak diterapkan dengan baik, ditambah dengan uang yang dapat membeli apa saja termasuk hukum, memberikan banyak kemudahan dan kesempatan. Pendidikan yang dibuat sedemikian rendah kualitasnya, hanya mengejar gelar, kerja, dan uang, bukan untuk mendidik jadi yang terdidik, juga membuat semua semakin bodoh. Masalah kesehatan kejiwaan juga tidak diperhatikan secara serius, terbukti banyak pejabat yang jelas memiliki kelainan dan masalah kejiwaan seksual, tetap saja menjabat. Komersialisasi dan industri yang berorientasi matrealis juga terus diterapkan dengan berbagai alasannya meski mengaku anti kapitalis. Teknologi yang memudahkan untuk mendapatkan informasi juga asyik saja dipakai untuk mendapatkan “kencan” mudah di mana-mana.

Media massa dengan mengatasnamakan kebebasan pun memberikan kesempatan untuk hal ini secara tidak langsung. Lihat saja bagaimana eksistensi itu begitu diburu dan dikejar, sehingga membuat orang semakin malas untuk belajar dan berusaha secara lebih serius dan maksimal. Maunya instant dan cepat saja. Kan, kalau sudah “top” dan sering tampil di media massa, maka bisa mendapatkan kemudahan banyak. Kualitas sudah tidak lagi diprioritaskan dan dipentingkan, tetapi menjadi “top” dan “terkenal”. Mau terkenal karena kasus seks yang jelas membuat malu siapa pun yang masih memiliki rasa malu, tidak jadi masalah. Mungkin karena sudah tak “berkemaluan”, ya?!

Yang paling mengerikannya justru ketika semua ini dianggap “biasa” dan “lumrah” sehingga siapapun nyaman-nyaman saja melakukannya tanpa memiliki rasa bersalah lagi. Tinggal tunjuk jari kepada banyak contoh yang lain, maka selesailah sudah. Idealisme itu hanya sekedar omong kosong belaka dan omongan itu adalah bualan saja. Perilaku seks dan politik sama-sama sudah seperti binatang yang tidak manusiawi, sama-sama dijadikan “objek” untuk memuaskan hasrat dan nafsu semata. Sementara seks dan politik merupakan anugerah dan kemampuan di dalam berpikir yang besar peranannya dalam kehidupan ini, sehingga bila dijadikan sekedar “objek”, maka akan semakin hancurlah semua kehidupan ini.

Setiap orang memang memiliki hak asasi tetapi setiap orang juga memiliki kewajiban asasi, di mana harus memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan semua yang sudah diberikan oleh-Nya. Tidak ada satu manusia pun yang benar-benar bisa bebas sebebas-bebasnya karena selalu ada batas dan keterbatasannya. Jika semua mendahulukan hak asasi tetapi tidak juga mau menunaikan kewajiban asasinya, maka tidak akan ada lagi aturan. Percuma saja bicara moral, etika, agama, dan hukum. Betul-betul bar-bar seperti binatang saja.

Kesetiaan yang merupakan salah satu bentuk dari rasa hormat yang bisa membuat seseorang betul terhormat menjadi langka saat ini. Soalnya, ketika semua maunya “sama” dan menjadi sama atau disama-samakan, maka tidak akan ada lagi yang elit, khusus, atau berbeda. Semakin banyak yang tak setia, maka semakin banyak juga yang tidak terhormat. Oleh karena itu, bagaimana menjadi sebuah bangsa dan negara yang terhormat dan dihormati?! Kerjanya sibuk chat seks dan berpolitik untuk kenikmatan seksual yang sensasional, kok!!! Kompromi pun hanya untuk uang dan jabatan, kan?!

Pertanyaannya, mau sampai kapan?! Semua manusia pasti ada ujung dan akhirnya, loh!!!

Salam hangat,

Mariska Lubis
22 Oktober 2013

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Sosial dan Politik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Setia? Nanti Dulu!!!

  1. Derrick says:

    If some one wants expert view regarding blogging afterward i propose him/her to
    pay a quick visit this blog, Keep up the nice work.

  2. Herry Herdian Koeswayo says:

    Miss Mariska Lubis, negara kita memang sudah centang perenang, Nilai-nilai kebaikan sudah terkikis habis, indonesia kembali masuk ke jaman jahiliah, Jika orang-orang tua kita yang berjuang berdarah-darah dengan berkorban harta dan nyawa bisa hidup kembali barangkali mereka akan menyesal, tapi kita harus tetap optimis, saya yakin masih ada orang-orang yang baik dan eling di negara kita ini. Jika mau kita benahi negara ini orang-orang yang baik harus segera “bangun” harus segera “bergerak”, jangan dibiarkan orang-orang jahat berkuasa dinegara kita ini, kerusakan ini terjadi karena manusia sudah “hubud dunya,” sudah sangat mencintai dunia, harta benda sudah menjadi tujuan utama manusia, tiap hari manusia bekerja semata-mata hanya untuk mengumpulkan harta, Karena harta menjanjikan begitu banyak kenikmatan, dengan memiliki uang segala bisa dibeli, bahkan manusiapun bisa dibeli oleh uang….

    Miris sekali…..baru-baru ini terjadi pencurian bayi dirumah sakit Hasan Sadikin, Apa motif yang menyebabkan salah satu anak bangsa kita melakukan perbuatan biadab ini? Mudah sekali ditebak …UANG, lagi lagi uang.

    Apa yang menyebabkan para pejabat kita melakukan korupsi? …Uang, jadi sebenarnya yang menyebabkan bangsa ini hancur lebur adalah uang, begitu tingginya kebutuhan manusia terhadap uang, sehingga untuk mendapatkannya manusia rela maling, mencuri, menculik, membunuh, segala cara dilakukan untuk mendapatkan Uang. Untuk apa kita mengumpulkan uang?? akhirnya ternyata uang itu dipakai untuk memenuhi keinginan hawa nafsu yang tersembunyi dalam alam bawah sadar mereka, Dengan uang bisa membeli rumah mewah, bisa membeli mobil mewah, bisa membeli perempuan cantik molek, bisa bersenang-senang.

    Inilah akar masalah yang sebenarnya, inilah yang menyebabkan moral bangsa kita hancur lebur, ternyata bangsa kita ini sedang sakit, karena terjangkit penyakit “Hawa nafsu yang rendahan”, Hawa nafsu telah menguasai kita, kita telah dijajah oleh hawa nafsu. Para pakar membuat aturan hukum, ada KPK, ada Tipikor segala macam, tapi tidak ada satu manusiapun yang bisa mengobati penyakit “Hawa nafsu”, Bahkan penyakit hawa nafsu ini juga menjangkiti para ustad, para kiai, Mereka berdakwah tujuannya tiada bukan dan tiada lain untuk mencari uang juga, Semua lapisan sudah terjangkiti penyakit ‘Hawa nafsu’. Astagfirullah.

    Pada saat ini kita sangat membutuhkan seseorang yang bisa mengobati “hati dan pikiran” kita yang sedang sakit ini, berdasarkan catatan sejarah yang mampu mengobati penyakit seperti ini hanyalah para Nabi. Hanya sayangnya tidak akan ada lagi Nabi yang akan diturunkan Allah kedunia ini. Jadi tinggal kita-kita ini orang yang seperti Mbak Mariska Lubis yang bisa melihat kenyataan dimasyarakat ini atau mungkin ada orang-orang baik dinegara ini yang mau berjuang mengobati kerusakan bangsa ini….???

    Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s