Melepas Impian

Mimpi itu begitu indah hingga takut untuk dilepaskan. Ketika terjaga, rasa sesak di dada itu pun memenuhi diri. Hampa terasa kian menjadi. Tak tahu lagi apa yang harus diperbuat selain diam dalam kesunyian. Kembali bermimpi dan menolak kenyataan adalah pilihan termudah. Tidak mudah bertahan terjaga, dibutuhkan keberanian dan jiwa yang besar.

Mendesah di malam hari ketika kebenaran itu diungkapkan. Ada marah dan penolakan serta penyangkalan sebelumnya yang membuat pahit semakin pahit. Sampai kemudian terdiam terpaku dan membisu dalam kehampaan dan kesunyian. Air mata penyesalan pun meleleh tiada henti.

Ibarat sedang jatuh cinta dan membara, namun kemudian dihempaskan pada kenyataan akan ketiadaan diri. Semua yang indah yang diberikan olehnya hanyalah mimpi-mimpi indah yang membuai dan menghanyutkan diri. Hingga yakin dan percaya bahwa semua itu adalah benar, dan keinginan untuk memiliki dan selalu bersama semakin tak bisa dikendalikan. Lalu suara keras dan petir membangunkan, mengungkap fakta dan kenyataan betapa rendahnya diri hingga tak pantas untuk memiliki mimpi dan bahkan kenyataan yang indah.

Nafas berhenti sejenak ketika air mata sudah mengering. Kembali bermimpi dan mengejar impian bisa dengan mudah dilakukan, melupakan semua fakta dan kenyataan itu, dan melanjutkan perjalanan. Menerima fakta dan kenyataan serta tetap terjaga sungguh sangatlah sulit. Melepaskan mimpi indah dan menghilangkan segala keinginan sangatlah berat. Diri yang sadar tidak boleh egois, jiwa yang besar pun harus bisa menerimanya. Membiarkannya pergi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, melakukan dan mendapatkan apa yang diinginkannya dan pantas untuknya, bersama dengan semua kebahagiaan dan keindahan miliknya, tetap membuat hati terluka. Cinta itu pun hanya bisa disimpan oleh diri sendiri Dan untuk diri sendiri, diberikan padanya untuk membuatnya bahagia tanpa bisa memiliki dan bersama. Walaupun begitu, perjalanan harus dilanjutkan dan waktu pasti akan menyembuhkan.

Keduanya menjadi pilihan yang bisa dipilih, tergantung kepada keberanian dan jiwa besar untuk menghadapi resikonya di kemudian hari agar tiada ada sesal. Hidup memang kosong dan hampa. Hidup dalam mimpi pun hanya akan membuat tenggelam. Masih ada banyak mimpi lain yang bisa dikejar untuk menjadi kenyataan, masih ada banyak kesempatan untuk membenahi dan menata diri menjadi lebih baik. Bintang tidak akan pernah bersinar terang bila tidak diukir dengan kesabaran dan ketekunan. Melakukan kesalahan itu sudah biasa, tak mengapa juga bila harus mengulangnya kembali dari semula. Meski tidak pernah selesai, masih ada penerus yang bisa dipersiapkan untuk melanjutkannya hingga selesai.

Kita semua bermimpi untuk memiliki sebuah negara yang aman, adil, makmur, dan sejahtera. Dibuat percaya dan yakin bahwa memang benar ada orang-orang yang mampu membawa mimpi itu menjadi kenyataan. Harapan besar pun digantungkan dan mimpi indah terus berlanjut. Namun kemudian kita tersadar oleh fakta dan kenyataan bahwa semua itu hanyalah kepalsuan yang membuai dan melenakan kita semua. Kita sudah bodoh dan dibodohi hingga tak lagi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Perih di dada mendidihkan kepala dan marah tidak lagi dapat dikendalikan. Tangis pun tumpah ruah membasahi ibu pertiwi.

Terus memaki dan mencerca tidak membuat kehidupan menjadi lebih baik. Pasrah dalam tangisan tanpa melakukan apa-apa pun hanya menghentikan perjalanan. Biar bagaimana pun juga, kehidupan ini terus berlanjut dan kita harus memilih jalan mana yang akan kita ambil agar bisa mencapai tujuan.

Kembali bermimpi dengan memiliki orang-orang yang seolah benar bisa mewujudkan mimpi tentunya jalan yang sangat mudah. Kita tidak perlu bersusah payah memikirkan segala sesuatunya, cukup bermimpi dan menggantungkan harapan kepada mereka semua. Jika pun salah, maka masih kesempatan untuk bermimpi lagi, kembali dengan orang-orang yang seolah-olah peduli dan memiliki cinta bagi rakyat, bangsa, dan negara. Namun, mau sampai kapan kita terus bermimpi dan mengingkari serta menolak fakta dan kenyataan? Sudah begitu takutnyakah kita hingga mau terus menjadi bodoh dan semakin bodoh, sementara ada banyak kesempatan untuk bisa menjadi lebih pintar bila memiliki nyali untuk selalu terjaga?!

Tidak ada yang namanya dewa yang patut untuk dipuja. Tidak ada satu pun manusia yang tidak memiliki keinginan dan kepentingan bagi dirinya sendiri dan kelompoknya. Tidak ada satu pun orang yang benar memang peduli dengan rakyat, bangsa, dan negara ini bila hanya memberikan impian-impian, sementara terus melakukan pembodohan dan membodohi.

Jika saja kita mau terjaga, maka kita harus bisa menerima kebodohan diri yang tak mampu melihat, tak mau mendengar, dan tertutup hatinya, agar kita bisa lagi belajar menjadi lebih baik dan pintar. Tidak lagi menggantungkan harapan pada siapapun kecuali pada diri sendiri. Kita bisa diam sejenak dalam kesunyian dan kehampaan agar bisa lebih jernih lagi melihat apa penyebab semua masalah yang ada tanpa harus memaki, berteriak, mengeluh, dan menangis. Biarlah dikatakan gila oleh orang banyak sekalipun, karena hanya kegilaan yang bisa mengubah dunia. Kewarasan yang ada saat ini hanyalah mimpi di siang bolong yang dilakukan oleh banyak orang. Bukankah lebih baik menjadi pribadi di kerumunan daripada menjadi kerumunan tanpa kepribadian?

Sejak kesepakatan Sumpah Pemuda yang menjadi titik awal terbentuknya Indonesia, hingga munculnya Pancasila sebagai ideologi dan UUD’45 sebagai dasar negara, lalu Proklamasi Kemerdekaan, hingga saat ini kita belum selesai menguraikan bentuk negara, sistem pemerintahan, dan tata negara yang paling tepat dan sesuai. Dalam perjalanannya sudah Keburu diisi kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan yang tidak lagi mengindahkan kekuasaan dan kedaulatan rakyat. Partai-partai dibentuk lalu kemudian mendominasi dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat, sementara sesungguhnya rakyat adalah penguasa yang tidak pernah memberikan mandat kepada partai untuk mewakili rakyat di pemerintahan, apalagi hingga sampai berkuasa. Bahkan rakyat pun tidak diberikan kesempatan untuk menentukan calon-calon wakilnya dan presidennya, semua dikuasai oleh partai. Fakta dan kenyataan yang jelas dan kebenaran yang sesungguhnya, partai tidak pernah posisi dan tempat di Indonesia.

Lantas, maukah kita memilih untuk tetap terjaga dan menerima semua kenyataan ini? Maukah kita memulainya kembali dari awal dengan menyelesaikan apa yang belum diselesaikan oleh para pendiri negara ini? Pahit memang pahit, tetapi pahit bisa berubah manis bila kita tidak terus menerus seolah memberikan gula namun ternyata hanya pahit melulu yang diberikan. Benang kusut bisa terurai bila dibenahi dari pangkalnya, bukan dari tengah ataupun digunting.

Mimpi indah yang dibangun lewat harapan-harapan yang digantungkan kepada orang lain, sebaik dan sehebat apapun nampaknya orang itu, tidak akan pernah menjadi kenyataan bila kita sendiri tidak pernah berani untuk terjaga dan berani untuk terus terjaga.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis
20 April 2014

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Cinta, Perubahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s