Apa Indonesia?

Mengungkap apa yang dimaksud dengan Indonesia memang bisa dari berbagai sudut pandang, mulai dari Gajah Mada hingga asal usul kata Indonesia dan lain-lain bisa diutarakan. Masing-masing memiliki sudut pandang yang berbeda bisa tidak sama antara yang satu dengan yang lain. Namun, Sumpah Pemuda jelas merupakan titik awal terbentuknya sebuah kesepakatan persatuan yang membuat Indonesia menjadi sebuah negara. Tanpa kesepakatan ini, belum tentu Indonesia bisa memproklamirkan diri sebagai negara merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Oleh karena itu, untuk menjelaskan apa Indonesia, ada baiknya bila dimulai dari kesepakatan ini dan dengan menggunakan ideologi dan dasar negara yang dibuat lewat dasar pemikiran kesepakatan Sumpah Pemuda.

Yang paling menyedihkannya justru bila rakyat Indonesia tidak bisa menjelaskan apa yang dimaksud dengan Indonesia bila ada yang bertanya atau dipertanyakan. Kebanyakan justru kebingungan sendiri dan tidak tahu, bahkan barangkali pemimpin-pemimpin pemerintahan Indonesia sendiri tidak mampu atau tidak tahu bagaimana menjawabnya. Entah apakah pertanyaan ini diajukan dalam Fit and Proper Test atau tidak, namun pertanyaan ini sangatlah penting untuk bisa dijawab oleh seluruh rakyat Indonesia terutama para pemimpin pemerintahan karena sangat menentukan landasan pola pikir, struktur kerangka berpikir, dan alur berpikir di dalam bekerja dan berkarya bagi Indonesia. Oleh sebab itu, para pendiri Indonesia yang sadar penuh dengan arti pentingnya bahasa sebagai alat berpikir dan sarana mengungkapkan pikiran, serta merupakan banteng pertahanan keamanan sebuah negara yang paling mendasar, menyepakati SATU BAHASA, agar ada kesatuan di dalam berpikir tentang Indonesia.

Kesatuan yang disepakati dalam Sumpah Pemuda tentunya tidak menghilangkan keragaman tetapi membuat sesuatu yang baru hasil dari pernyatuan keragaman. Sebab, tanpa keragaman maka tidak ada persatuan dan tidak ada Indonesia. Satu nusa bukanlah berarti menghilangkan nusa-nusa yang ada tetapi menyatukan semua nusa ke dalam sebuah “wadah” yang disebut dengan Indonesia, untuk menjadi sesuatu yang baru yang disebut dengan negara Indonesia. Satu bangsa pun tidak berarti bahwa Indonesia berasal dari satu suku bangsa yang sama, tidak juga kemudian menjadikan ada kekuasaan mayoritas dan minoritas berdasarkan suku bangsa, tetapi menyatukan seluruh suku bangsa menjadi sebuah bangsa baru yang disebut dengan Indonesia dan membentuk negara Indonesia. Begitu juga dengan satu bahasa, di mana keragaman bahasa yang ada kemudian sepakat untuk disatukan dalam satu bahasa yang disebut dengan Indonesia.

Apa yang membuat terjadinya kesepakatan kesatuan ini dan apa tujuannya kemudian diuraikan dalam Pancasila dan UUD’45. Sila pertama dalam Pancasila sudah membuktikannya. Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila, tidak menghilangkan keragaman keyakinan yang dianut oleh masyarakat Indonesia dan memaksakan memiliki satu agama, namun ada kesepahaman dan keyakinan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai manusia, mengamalkan semua anugerah yang sudah diberikan oleh Tuhan untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia dengan tata cara yang baik benar bagi seluruh manusia, karena kita semua tidak ada tanpa ke-Esaan Tuhan. Tercermin kemudian pada sila-sila berikutnya yang menyebutkan keadilan, persatuan, kesejahteraan, kemufakatan, perwakilan, yang bukan hanya bersifat nasional tetapi internasional (global). Begitu juga di dalam pembuatan UUD’45 berikut pasal-pasal yang ada, di mana memang keragaman itu memang ada tidak dihilangkan tetapi disatukan lewat kesepakatan karena ada kesepahaman.

Istilah Bhinneka Tunggal Ika yang diambil dari karyaSutasoma karya Mpu Tantular semasa Kerajaan Majapahit pada sekitar abad ke-14 merupakan sebuah simbol atau motto yang pas untuk menggambarkan bagaimana perbedaan atau keragaman itu ada dan tidak bisa dihilangkan begitu saja. Walaupun demikian, bukan berarti tidak bisa disatukan, sebab semua manusia juga sama yaitu ciptaan Tuhan yang juga akan kembali pada-Nya, yang meski berbeda tetapi juga memiliki kesamaan yaitu memiliki hak dan kewajiban sebagai pribadi dan makhluk sosial (Bhinneka tunggal Ika tan hana dharma mangrwa – terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran).

Dengan demikian, maka bila diuraikan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan Indonesia mengacu pada kesepakatan itu berikut ideologi dan dasar negaranya, Indonesia adalah:

“negara yang terbentuk dari keragaman masyarakat, suku bangsa, sejarah, dan budaya berbeda-beda, tersebar di antara pulau-pulau terbentang dari Sabang hingga Merauke, yang bersatu lewat kesepakatan dan kesepahaman bersama berdasarkan falsafah hati, tubuh, dan jiwa Pancasila untuk menegakkan keadilan dan menciptakan kemakmuran di muka bumi, di dalam rangka menunaikan kewajiban sebagai manusia yang ber-Ketuhanan dengan hak-haknya yang wajib dijunjung tinggi, yang bersatu dalam satu nusa, bangsa, dan bahasa Indonesia dalam negara Indonesia dan menjadi Indonesia”.

Sehingga, yang disebut dengan negara Indonesia adalah:

“sebuah kesatuan keragaman masyarakat, suku bangsa, sejarah, dan budaya berbeda-beda, tersebar di antara pulau-pulau terbentang dari Sabang hingga Merauke, memiliki kesepahaman falsafah hati, tubuh, dan jiwa Pancasila, dan memiliki pemerintahan yang dikuasai oleh rakyat, dipimpin oleh rakyat yang mengabdikan diri untuk kepentingan seluruh rakyat tanpa terkecuali, untuk menegakkan keadilan dan kemakmuran di muka bumi serta menunaikan kewajiban sebagai manusia yang ber-Ketuhanan dengan hak-haknya yang wajib dijunjung tinggi, hasil dari kesepakatan untuk bersatu dalam satu nusa, bangsa, dan bahasa Indonesia dalam negara Indonesia dan menjadi Indonesia”.

Sedangkan rakyat Indonesia sendiri adalah:

“manusia-manusia yang berasal dari beragam masyarakat, suku bangsa, sejarah, dan budaya berbeda-beda, tersebar di antara pulau-pulau terbentang dari Sabang hingga Merauke, yang memiliki kesepahaman ideologi hati, tubuh, dan jiwa Pancasila, sepakat untuk menjadi Indonesia dan warga negara Indonesia yang memiliki kekuasaan tertinggi di dalam negara, dan memiliki serta berkuasa penuh atas semua yang menjadi milik Indonesia untuk dipergunakan sebaiknya-baiknya bagi kepentingan kemakmuran bersama secara adil dalam rangka menunaikan kewajibannya sebagai makhluk ber-Tuhan yang menjunjung tinggi hak-hak setiap manusia di muka bumi, yang sepakat untuk bersatu dalam satu nusa, bangsa, dan bahasa Indonesia dalam sebuah Indonesia dan menjadi Indonesia.”

Bangsa Indonesia:

“kesatuan manusia-manusia yang berasal dari beragam masyarakat, suku bangsa, sejarah, dan budaya berbeda-beda, tersebar di antara pulau-pulau terbentang dari Sabang hingga Merauke, yang memiliiki kesamaan pemahaman ideologi hati, tubuh, dan jiwa Pancasila, yang sepakat untuk bersatu dalam satu nusa, bangsa, dan bahasa Indonesia dalam sebuah Indonesia dan menjadi Indonesia, serta menjalankan tatanan kehidupan bermasyarakat sebagai penguasa dan pemilik negara Indonesia dan semua yang menjadi milik Indonesia untuk dipergunakan sebaiknya-baiknya bagi kepentingan kemakmuran bersama secara adil dalam rangka menunaikan kewajiban sebagai makhluk ber-Tuhan yang menjunjung tinggi hak-hak setiap manusia di muka bumi. “

Bahasa Indonesia:

“kesatuan keragaman bahasa manusia-manusia yang berasal dari beragam masyarakat, suku bangsa, sejarah, dan budaya berbeda-beda, tersebar di antara pulau-pulau terbentang dari Sabang hingga Merauke, yang memiliiki kesamaan pemahaman ideologi hati, tubuh, dan jiwa Pancasila, yang sepakat untuk membentuk pola pikir dan berpikir bersatu dalam satu nusa dan bangsa Indonesia lewat bahasa yang dipahami dan disepakati bersama, yaitu bahasa Indonesia untuk dapat menjalankan tatanan kehidupan bermasyarakat sebagai penguasa dan pemilik negara Indonesia dan semua yang menjadi milik Indonesia agar benar dapat dipergunakan sebaiknya-baiknya bagi kepentingan kemakmuran bersama secara adil dalam rangka menunaikan kewajiban sebagai makhluk ber-Tuhan yang menjunjung tinggi hak-hak setiap manusia di muka bumi.”

Bahasa Indonesia ini menjadi faktor penentu terjadinya kesatuan dan meneruskan kesepahamannya, karena bahasa menjadi faktor yang disadari tidak disadari membentuk pola pikir, cara berpikir, dan menjadi sarana untuk berpikir serta menuangkan pemikiran. Bahasa juga menjadi penting untuk dapat berkomunikasi dengan baik dalam bahasa yang sama, dalam arti pemikiran yang mengacu pada dasar dan tujuan yang sama. Tanpa bahasa yang dibentuk dengan sebuah struktur bahasa yang baik, tidak dijaga dengan baik, maka sulit untuk mempertahankan kesatuan tetap memiliki kesepahaman. Bahasa merupakan benteng pertahanan keamanan pertama sebuah negara yang membentuk dan menjadikan sebuah negara, sekaligus merupakan kepribadian dan jati diri, yang bila diabaikan dan dihancurkan maka akan menghancurkan negara.

Di dalam perkembangannya, ada banyak hal yang perlu diuraikan lagi, mengingat ada banyak sekali yang dimiliki oleh Indonesia dan merupakan Indonesia, namun pada intinya semua mengacu kepada kesepakatan kesepahaman atas satu nusa, satu bangsa, Dan satu bahasa, yaitu Indonesia.

Ini hanyalah pemikiran saya semata, semoga menggugah semua rakyat Indonesia untuk memikirkan hal yang sama sehingga kita semua memiliki kesepakatan dan kesepahaman di dalam membangun Indonesia dan benar bisa menyelesaikan masalah.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s