Protes ke Mahkamah Konsititusi adalah Kebodohan?!

sumber: republika on line

sumber: republika on line

Banyak sekali lelucon dan sindiran, bahkan makian yang terus bergulir sejalan dengan protes kubu Prabowo ke Mahkamah Konstitusi pasca Pilpres 2014. Seolah-olah bahwa protes yang diajukan merupakan sebuah kebodohan karena tidak bisa menerima kekalahan. Sementara masyarakat lupa bahwa proses kekacauaan di KPU dan Bawaslu sebenarnya sudah berlangsung sejak sebelum Pilpres, dengan bukti tuntutan ke MK sebanyak lebih dari 900 ajuan protes pada hasil Pemilu Legislatif April lalu. Ini belum ditambah juga dengan ajuan banyak pihak soal aturan dan Undang-Undang tentang Pemilu yang bahkan sudah dianggap tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD’45 oleh MK sendiri pada bulan Januari 2014 lalu. Lantas, sebenarnya siapa yang sudah bersikap bodoh saat ini?!

Pemilihan Umum di Indonesia kali ini sungguh membuka bagaimana pola dan cara berpikir serta hati nurani bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Begitu juga dengan sifat-sifat dan perilaku yang selama ini ditutupi, semuanya menjadi terbongkar dengan sangat gamblangnya. Mungkin tidak untuk kebanyakan orang, dan tentunya juga pasti banyak yang menyangkal dan menyanggahnya, namun semua itu sangatlah jelas bila saja mau menyadari dan menerimanya. Bagi saya pribadi, proses Pemilu tahun ini benar-benar menunjukkan betapa rendahnya pengetahuan masyarakat soal politik, bukan hanya di tingkat masyarakat kelas bawah tetapi juga di masyarakat kelas atas, yang dianggap berpendidikan, bahkan yang terjun ke politik dan memiliki jabatan. Ironis!


Wajarlah jika protes ke MK yang dilakukan oleh kubu Prabowo dianggap sebagai kebodohan bila menggunakan semua logika-logika pembenaran yang diajukan oleh pandangan dan pengetahuan umum kebanyakan masyarakat tentang politik pada saat ini. Untuk melihat hubungannya dengan kekacauan Pileg di bulan April lalu dan juga keputusan MK pada bulan Januari lalu tentang Undang-Undang Pemilu saja tidak digubris, yang dipikirkan hanya soal penolakan karena kalah dalam pemilu dan segala kerepotannya. Padahal, sudah jelas sekali, diakui tak diakui bahwa Pileg April lalu sudah sangat buruk dan seharusnya pemerintah saat ini, Presiden, Mendagri, KPU, dan Bawaslu bertanggungjawab untuk mengubah sistem kerja pelaksanaan Pemilu dan berikut personal-personal di dalamnya dari tingkat pusat hingga ke daerah-daerah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Yang lebih konyolnya lagi bila ada Caleg gagal yang juga ikut-ikutan menganggap protes ke MK ini sebagai sebuah kebodohan, sementara dia sendiri mengajukan protes atas hasil Pemilu sebelumnya. Kenapa menjadi sangat egois? Ke mana tuduhan money politic dan kecurangan-kecurangan yang sebelumnya dengan berapi-api dikobarkan? Kenapa kalau diri sendiri boleh protes sementara seorang Prabowo tidak boleh protes?

Saya secara pribadi sangat bersyukur sekali kubu Prabowo mau mengambil langkah protes ini, karena sebelum-sebelumnya belum pernah ada yang mengajukan protes ke MK dalam sengketa Pilpres. Menjadi sesuatu yang baru dan merupakan sebuah proses pembelajaran yang bisa dipetik manfaatnya untuk Indonesia ke depan, terutama dalam Pemilu tahun-tahun selanjutnya. Dengan terbukanya kesalahan dan kekurangan maka ada kesempatan untuk memperbaiki di masa depan, terutama untuk Pemilu-pemilu selanjutnya. Jika KPU dan Bawaslu selalu dianggap pasti benar saat ini, maka semua kekurangan dan kesalahan bisa tertutup sehingga tidak akan ada perbaikan yang terjadi. Jika terus demikian, kapan Negara Indonesia ini menjadi lebih baik?!

Hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan keberpihakan terhadap salah satu kubu. Saya yakin bahwa bila kubu Jokowi kalah, maka akan melakukan hal yang sama, yaitu protes terhadap MK, apalagi pernyataan Pak Jusuf Kala sebelumnya yang sudah menyinggung soal kecurangan. Sehingga siapapun yang menang dan kalah, bagi saya yang terpenting adalah ada langkah menuju perbaikan Pemilu ke depan. Protes ke Mahkamah Konstitusi menjadi langkah baik untuk bisa melakukan banyak perbaikan.

Jika protes ke MK ini dianggap sebagai sebuah kebodohan, lelucon, dan bahan makian, membuat saya juga semakin bisa melihat dengan jelas betapa pragmatisnya pemikiran politik masyarakat Indonesia. Hal ini juga menjadi bahan masukan sekaligus introspeksi atas pendidikan yang selama ini diterapkan di Indonesia. Kualitas pendidikan terutama soal struktur dan cara berpikir, perilaku, dan bertutur kata patut dipertanyakan. Tentunya tidak ada yang mau dibilang bodoh dan hanya sebagian kecil saja yang berani benar-benar menerima dan mengakui kebodohan dirinya, tetapi dari kata-kata yang diuraikan di mana-mana, apalagi di jejaring sosial sudah sangat jelas menunjukkannya. Kata-kata bisa dianggap tidak penting tetapi kata-kata adalah uraikan cara berpikir dan hati, yang meski berdusta tetap menujukkan apa dan siapa diri. Kata-kata juga merupakan sarana untuk berpikir sehingga pengaruh kata-kata terhadap diri sendiri juga akan terurai lewat kata-kata yang diuraikan.

Ada baiknya bila masyarakat Indonesia mau melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang berbeda agar bisa lebih objektif. Jangan langsung dengan mudah melakukan vonis, penilaian, dan hukuman, seorang hakim pun memerlukan proses untuk bisa menentukan benar dan salah serta hukuman, padahal hakim sudah sekolah lama dan bekerja dalam bidang hukum. Oleh karena itu, bagi yang tidak belajar dan mengerti tentang hukum, mengapa sampai begitu hebatnya bisa lebih cepat dari seorang hakim di dalam menghukum dan memberikan vonis? Apa tidak ada rasa malu atas hal ini?! Lagipula sebelum Pilpres berlangsung, semua juga pada teriak-teriak dan protes soal politik dan pemerintahan yang memang sudah sangat tidak sehat. Kenapa tidak bisa melihat hikmah untuk perbaikan ke depan dari protes ke MK ini? Hmmm….

Yah, silahkan saja jika memang mau melanjutkan apa yang buruk dan membuat kesempatan semakin buruk itu menjadi lebih besar. Tak usah protes dan berteriak-teriak kemudian nanti di depan bila tidak ada perubahan yang lebih baik. Terima dan telan saja semua kesombongan diri yang tidak berani belajar melihat hikmah baik dari semua yang sudah terjadi, ya!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis
15 Agustus 2014

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Politik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Protes ke Mahkamah Konsititusi adalah Kebodohan?!

  1. irman syah says:

    Ok ((y)ˆ ⌣ˆ)(y) sipp.

    Tulisan yg bermanfaat

  2. anonim says:

    mungkin bukan protesnya yg dianggap sebagai kebodohan dsb, pertanyaanya knp masyarakat tidak menganggap spt itu (kebodohan dsb) di gugatan pileg april ke MK kemarin dan gugatan pilres ke MK sebelumya.

  3. budy says:

    Menurut saya kondisi ini memang harus terjadi dan dialami oleh bangsa ini untuk memberi pengalaman hidup baik secara fisik, psikis, intelektual dan spiritual terhadap perbedaan. Hasil yang akan terjadi adalah sebuah konsekuensi atau dampak atas pilihan yang telah diambil oleh bangsa ini apakah makin maju atau sebaliknya dan hanya wasit atau hakim yang Maha Adil yang akan menentukan.

  4. the-dew says:

    Tulisan yang bagus.
    Tapi maaf mau nanya, mbak, bukannya sengketa ke MK utk pilpres sudah pernah ada tahun 2009 ya? Ato saya yang salah paham maksud tulisannya?

    Sebenarnya sih ya, yang bikin langkah ke MK ini banyak diketawain karena waktu wawancara di BBC, pak prabowo dengan gagah bilang akan menerima keputusan KPU. Bukan cuma pak Prabowo lho yg bilang gitu. Coba liat lagi berita2 sebelum tanggal 22 yg berhubungan dgn KPU dan kelompok Prabowo. Ada pula dari mereka yang bilang presiden pilihan KPU adalah pilihan Tuhan.

    Maka ketika mereka menuntut ke MK ya terlihat lucu.
    Sementara untuk Jokowi, dari awal semua juga sudah tahu kalo mereka akan menuntut ke MK kalo kalah. Pak jokowi gak pernah bilang akan menerima keputusan KPU kan walau sudah “dipancing” sama pak Prabowo? Jokowi cuma bilang akan mengikuti konstitusi.
    Jadi kalo Jokowi menuntut ke MK, maka itu bukan hal yang baru.

    -dari pendukung Prabowo yang pada akhirnya cuma bisa ketawa baca proses persidangan MK-

    • bilikml says:

      Buat saya bukan soal menang kalahnya ya di sini karena dia juga protes soal kecurangan2 di daerah dia menang. Saya melihatnya justru baik karena membuktikan bukan menang lalu diam saja atas kesalahan/kelalaian/kecurangan, tetapi yang salah ya salah saja. Ini mungkin yang sebaiknya dicermati.

      Terima kasih dan salam hangat.

  5. ismail says:

    Belakangan inikan citra MK sangat jelek dikarenakan MK selalu memenangkan gugatan dengan cara diberikan imbalan…nah sekarang kesempatan MK memberikan bukti bahwa MK adalah lembaga hukum yg benar-benar lembaga independen…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s