Merdeka, Dong!!!

Tak pernah berubah sejak mengerti arti kemerdekaan, doa dan harapan selalu sama di hari peringatan Proklamasi Republik Indonesia. Apalagi kalau bukan merdeka?! Waktu dan perubahan selama ini tetap saja tak mengubah primordial pemikiran, selalu senang dijajah dan menjajah.

Orang Indonesia ini memang unik dan ajaib sekali. Masa terus berganti dan banyak yang telah terjadi serta berubah, tetapi hati dan pikiran sebagian masyarakat Indonesia masih saja terkurung dan terbatas. Bukan soal tidak mampu tetapi sepertinya memang tidak mau. Buktinya, pendidikan tak membuat semakin berisi dan merunduk. Malah sepertinya semakin primitif, dibuktikan lewat tutur kata dan bahasa selama Pilpres hingga saat ini, yang sangat tidak menunjukkan struktur dan pola pikir manusia modern yang berhati penuh cinta. Terlalu pragmatis dan sempit, tak ubahnya kaum Neanderthal, yang hanya berpikir untuk sesaat sesuai kebutuhan kekinian. Sangat kasar dan jauh dari sopan santun, seperti tidak pernah belajar akhlak saja. Padahal, marah banget kalau dibilang tak bermoral, tak beradab, dan tak berperikemanusiaan. Iya, kan?!

Saya tak habis pikir mengapa Prabowo terus dijadikan bahan ejekan, hinaan, makian, dan tertawaan hanya karena beliau menggugat pelaksanaan dan penyelenggaraan Pemilu Presiden?! Kenapa kalau caleg, calon bupati, calon walikota, atau calon gubernur yang menggugat tidak masalah? Apa yang membuat beliau tidak boleh menggunakan hak konstitusinya?! Apa karena beliau adalah musuh pujaan hati?! Atau karena beliau pernah berkata akan menerima kekalahan dan berjiwa besar?!

Jika alasannya karena beliau adalah musuh pujaan hati, maka menjadi bukti bahwa kemerdekaan itu tak pernah bisa diberikan meski itu adalah hak seluruh manusia dan menjadi sangat subjektif. Padahal, terutama bagi pendukung demokrasi, memberikan hak kepada orang lain yang berhak adalah kewajiban. Oleh karena itu, menjadi sangat tidak masuk di akal bila beliau diperlakukan dengan tidak manusiawi. Memangnya kita ini apa dan siapa?! Allah saja membebaskan kita untuk menggugat-Nya, mengapa kita melarang Prabowo menggugat KPU yang isinya manusia-manusia berdosa dan bisa melakukan kesalahan juga?! Enak, ya, jadi penjajah?!

Nah, kalau alasannya adalah karena beliau dianggap tidak legowo menerima kekalahan, menurut saya ini juga perlu dipertimbangkan. Saya sangat tertarik dengan gugatan yang dilakukan, seperti soal aturan memilih di tempat berbeda dengan KTP, yang justru terjadi juga di daerah-daerah yang dimenangkan beliau. Ngapain digugat bila menang?! Kan, lumrah dan jamaknya diam saja kalau sudah menang meski tahu ada kecurangan sekalipun. Untuk apa bikin ribet, cari masalah, dan beresiko besar untuk kalah?!

Bukan sesuatu yang mudah melakukan gugatan seperti demikian, sebab jamak dan lumrah seringkali dianggap benar padahal belum tentu. Apa yang sudah dilakukan beliau adalah hal yang baru pertama kali terjadi di Indonesia ini, sehingga sangat menarik untuk dipelajari. Bukan soal menang atau kalahnya yang penting di sini, tetapi soal penyelenggaraan Pemilunya. Apalagi mengingat bahwa sebelumnya, penyelenggara yang sama sudah berhasil menyelenggarakan pemilu legislatif terburuk sepanjang sejarah di Indonesia, diakui tak diakui. Bukti-bukti banyaknya pengulangan, gugatan yang jumlahnya lebih dari 900, terjadinya money politic walau pada akhirnya bisa “tertutup rapat” karena keburu heboh Pilpres, itu sudah cukup membuktikan ketidakmampuan menyelenggarakan pemilu yang baik. Pertanyaan besar, kenapa tidak diganti?! Waktu dan dana tidak bisa dijadikan alasan sebab masa depan dan nasib Indonesia menjadi taruhannya. Lagipula, rakyat yang membayar, jadi sudah sepatutnya bekerja dengan baik bagi rakyat, bukan malah sebaliknya.

Tidak perlu Prabowo yang jelas capres untuk berpikir ada konspirasi yang sistematis, saya pun berpikir hal yang sama. Dapat dilihat dari waktu, di mana penghitungan hasil pileg sangat terburu- buru sehingga bisa menyebabkan banyak kelalaian, kesalahan, dan pengabaian. Lalu jarak waktu antara kehebohan yang dibuat menjelang kampanye dan masa kampanye juga seperti sengaja diatur waktunya sedemikian rupa sehingga kasus-kasus gugatan ke MK ini tertutup dan tidak di-blow up. Tentunya dengan memanfaatkan audience people aluas manusia penonton yang banyak banget di Indonesia. Cukup dengan melempar isu pengalihan yang membuat panas, seperti kampanye hitam, semuanya bisa terbebad dari kesalahan.

Soal kampanye hitam ini sendiri sampai sekarang tidak jelas siapa, kan, pelakunya?! Yang pasti, yang paling mendapat keuntungan dari adu domba dan terpecahnya rakyat Indonesia, bahkan kalau perlu chaos adalah orang yang paling bertanggungjawab atas banyaknya masalah di Indonesia. Satu-satunya jalan selamat, ya, apalagi kalau bukan dengan cara ini?! Mana pula dipikirkan nasib rakyat, bangsa, dan negara, selamatkan diri dan keluarga dululah yang diprioritaskan.

Yah, meski semua ini adalah teori-teori konspirasi politik yang ada dalam benak saya saja, namun bagi saya jelas bahwa bangsa ini sudah senang menjajah, senang banget pula dijajah. Terlalu malas dan tinggi hati untuk memerdekakan hati dan pikiran sendiri, senangnya menuduh dan menuding saja. Wajar jika sangat mudah dijadikan objek politik, sedikit tahu saja pun sudah merasa paling tahu segalanya. Diajak berpikir dan melihat dari sudut pandang lain pun menolak, bahkan siap menghunus dengan kejamnya. Asyik, ya, menuduh saya?! Hahaha….

Untunglah saya tak mau dijajah, sebab saya ingin merdeka dan bahagia. Membatasi dan mengurung pikiran hanya karena hal-hal yang tak penting sungguh membuat susah di kemudian hari. Memalukan saja jika dikuasai sifat kebinatangan walau mendominasi diri hingga 99 persen. Meski hanya 1 persen sifat kemanusiaan itu, tetapi sangat  patut diperjuangkan bagi yang memang ingin merdeka dan bahagia. Apa, sih, artinya menjadi manusia jika tak mampu memerdekakan diri sendiri?!

Indonesia, merdeka, dong!!! Pasti bisa jika mau!!! Memang tidak mudah, mengukir bintang di langit hingga bersinar terang bukan pekerjaan mudah yang instant jadi. Tapi, pasti tidak akan pernah menyesatkan ketimbang lampu pijar buatan yang meski lebih mudah didapat, nampak lebih jelas dan nyata, lebih terang dan dekat, namun bisa membinasakan.

Merdeka atau mati!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis
17 Agustus 2014

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

One Response to Merdeka, Dong!!!

  1. Pingback: Dilema MA dan MK, Rakyat Taruhannya | Bilik ML

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s