Jagoan Ngomong, Mengerti Politik Pun Tidak!

Banyak cakap menjelek-jelekkan orang lain, bahkan menghina orang yang benar-benar turun berjuang mempertaruhkan jiwa dan raganya. Seolah benar berani berjuang, padahal hanya memperjuangkan nafsu dan kepentingannya belaka. Mana ada pejuang yang tak bernyali dan hanya banyak omongnya saja?! Mana ada pejuang yang tak berpikir panjang dan hanya memikirkan saat ini tanpa juga mau belajar lebih dalam?! Berlagak jagoan bak pejuang sejati, iya!!!

Saat ini seharusnya sudah tidak ada lagi yang berlagak seperti jagoan dalam film-film, kecuali bagi yang memang senang mendramatisir dan hiperbola ala sinetron. Sebaliknya, sekarang justru makin nampak jelas pecundang yang berlagak seperti jagoan seolah benar punya nyali untuk berjuang dan menegakkan kebenaran serta keadilan untuk kepentingan semua. Paham politik, pemerintahan, dan negara pun tidak, berkoarnya sudah lebih-lebih dari pejuang ’45 saat merebut kemerdekaan. Untuk mengakui perbuatan buruk dan ketidaktahuannya saja tidak bernyali, mengakui salah apalagi, tapi aduh, mak!!! Hebat, deh, pokoknya!


Beginilah nasib bangsa yang dikuasai oleh orang-orang yang penuh dengki dan dendam atas masa lalu terutama masa Orde Baru. Apa yang baik dan buruk di masa itu tidak bisa dilihat dengan kacamata objektif, pokoknya semua yang berhubungan dengan masa Orde Baru adalah buruk. Anehnya, apa yang baik di era Orba justru dibuang, giliran semua yang buruknya ditiru bahkan dibuat lebih buruk lagi. Lihat saja Pemilu di era reformasi! Apanya yang demokrasi?! Peraturan dan penyelenggaraannya saja kalau balau, teramat sangat!!!

Ini juga nasib bangsa yang rakyatnya memang masih bodoh dan senang banget dibodohi. Seperti yang sudah saya sering uraikan, bahwa Indonesia ini dikuasai oleh manusia penonton alias audience people yang merupakan bukti tingkat kebodohan. Manusia penonton bisa dengan begitu mudahnya yakin dengan apa yang ditontonnya, tanpa berpikir panjang dan belajar lebih mendalam. Itulah sebabnya, mudah sekali digiring oleh media massa. Diperparah lagi dengan kemampuan baca dan bahasa yang juga rendah, sehingga tulisan itu hanya dibaca aksaranya saja, itu pun banyak yang tidak paham arti dan maknanya. Paling kacaunya, manusia penonton ini juga senang banget jadi tontonan dan ditonton, berhubung jejaring sosial sekarang mendukung, maka hebohlah di sana.

Lucunya, tidak sedikit yang berdalih bahwa ini merupakan hak di era demokrasi, tapi giliran orang lain berbeda pendapat tidak terima dan dianggap tidak memiliki hak yang sama. Memangnya siapa, sih, sampai segitu beraninya mencabut hak orang lain? Malah perilaku seperti itu menunjukkan ketidakmampuan menjalankan kewajiban, yaitu memberikan hak yang sama kepada semua orang. Menjalankan kewajiban saja tak mampu, teriak-teriak pula soal hak dan kewajiban orang lain?! Duh!!!

Urusan penyelenggaraan Pemilu Presiden yang digugat saja hanya dipahami sebatas menang dan kalah, dan Pak Prabowo terus juga dijadikan bulan-bulanan. Mengertikah bahwa Indonesia ini punya masalah dengan penyelenggara Pemilu sejak lama?! Kalau tak bermasalah, tak mungkin ada banyak gugatan di Mahkamah Konstitusi. Jangankan pelaksanaan Pemilu yang krusial di tingkat nasional, seperti Pilpres, pemilu Legislatif April lalu pun sangat buruk dan bahkan merupakan Pemilu Legislatif terburuk dalam sejarah Indonesia. Konyolnya, kesalahan mereka bisa tertutup dengan mudahnya oleh para jagoan yang berkubu. Merasa pejuang dan pahlawan, ya, kalau sudah menjatuhkan kubu lawan? Esensi penting dari kenapa gugatan ini harus dilakukan pun tak paham. Yang dibahas hanya seputar tampilan saja, persis seperti sinteron dan acara gosip!!!

Malu sebetulnya menyaksikan semua ini, sedih dan miris. Marah sudah lebih dari marah hingga timbal rasa iba dan kasihan. Efek buruk dari rasa tidak percaya diri dan tidak memiliki keyakinan itu begitu terasa, sehingga sangat mudah sekali untuk menyerang. Semua kelakuan berlebihan yang muncul lewat perilaku dan kata-kata yang tidak sopan, tidak memiliki empati, asal ngomong saja, dan tidak tahu waktu tempat dan posisi, menjadi bukti yang kuat betapa lemah dan kosongnya pikiran dan hati. Benar-benar menjadi cermin kebodohan yang sudah di tingkat mencemaskan!

Banyak pula alasan dan pembenaran dengan segala rasionalisasinya, seperti benar saja rasional dan bisa membuktikan kepintaran. Padahal terbalik! Justru ketika semua itu makin terurai maka semakin menjadi bukti ketidakmampuan berpikir rasional. Menuduh semua alasan dan bukti yang diajukan tanpa mau mencermati lebih teliti, tanpa mau mempelajari sebab akibatnya, sejarahnya, juga menunjukkan ketidakrasionalan pemikiran. Memangnya salah jika menang pun melaporkan kecurangan dan kesalahan?! Memang umumnya orang kalau menang di satu daerah lebih banyak diam meski tahu Ada kesalahan dan kecurangan, namun bukan berarti itu adalah perilaku ksatria yang hebat! Seorang pejuang dan ksatria mana mau menang karena kecurangan dan kesalahan?! Kenapa sudut pandang ini dianggap tidak rasional sementara teriak-teriak ala preman tanpa bukti dielu-elukan dan diacungi jempol?!

Sudahlah! Tak usah menjadi jagoan bak pejuang sejati! Makin keras teriak makin nampak bualan kosongnya! Malu lihatnya!!! Tak usah terus tunjuk jari, ingat ada empat jari yang menunjuk pada diri sendiri! Daripada berjuang untuk diri sendiri dan kelompok, kenapa tak membantu berjuang untuk bisa mendapatkan kehidupan lebih baik di negeri ini? Meski menang, KPU bukan berarti lembaga yang tidak pernah salah dan tidak melakukan kesalahan! Semua kesalahan dan kekurangan mereka harus terungkap agar ada perbaikan ke depan. Kalau memang pejuang sejati, berjuanglah untuk kebenaran dan keadilan serta untuk semua, dong!!!

Nggak usah banyak teriak, deh! Diam dan berpikir akan lebih membantu! Lepaskan soal kubu-kubu dan jernihkan pikiran dan hati! Gugatan Prabowo di MK terhadap penyelenggaraan Pemilu ini penting banget bagi kita semua, kok!!! Mau terus-terusan Pemilu buruk dan amburadul?!

Semoga dipahami!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis
18 Agustus 2014

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Politik and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Jagoan Ngomong, Mengerti Politik Pun Tidak!

  1. Pingback: Dilema MA dan MK, Rakyat Taruhannya | Bilik ML

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s