Dilema MA dan MK, Rakyat Taruhannya

Barangkali banyak yang tak perhatikan bahwa sebenarnya saat ini bukan hanya Mahkamah Konstitusi yang menghadapi dilema, tetapi  juga Mahkamah Agung. Apapun keputusan yang diambil memiliki resiko yang sama-sama besar dalam masa depan kehidupan berpolitik, berbangsa, dan  bernegara di Indonesia. Bisa  dikatakan, MK dan MA ini akan menjadi penentu terkuaknya kebenaran, tegaknya keadilan dan hukum, atau sebaliknya.

MA dengan sidang kasus dugaan korupsi terhadap Anas Urbaningrum menarik perhatian saya. Sidang yang digelar memang dipenuhi dengan unsur politis, yang bagi saya merupakan sebuah pelajaran penting bagi hukum politik dan politik hukum di Indonesia. Sejak Anas membuat surat keberatannya sendiri sebanyak 30 lembar dan ditulis sendiri, saya jadi tertarik untuk memperhatikannya. Apalagi ketika kemudian pada sidang pemeriksaan para saksi, semua saksi yang diajukan jaksa tidak ada yang memberatkan terdakwa. Bahkan hakim pun sempat menegur jaksa karena hal ini. Sungguh aneh, kan?

Jika kemudian semua bukti dan saksi-saksi tidak ada yang bisa membuat Anas terbukti melakukan tindak pidana korupsi, lantas mengapa KPK sedemikian gegabahnya melakukan penangkapan terhadap beliau?! Media massa yang juga sudah membuat penggiringan massa sehingga beliau seperti benar seorang koruptor sebenarnya juga mau apa?! Ini bisa membuat dilema bagi para hakim di dalam mengambil keputusan. Jika Anas dibebaskan dari semua tuduhan, maka citra KPK yang selama ini diperlakukan seperti Tuhan bisa “goyang”. Tigkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, hukum, dan penegak hukum juga bisa semakin hilang. Jika Anas tetap dihukum, maka bisa menjadi bukti dalam sejarah atas ketidakadilan di negeri ini. Mungkin sekarang tidak disadari, tetapi di tahun-tahun mendatang ketika saat dan waktunya tiba.

Sementara itu, MK juga menghadapi dilema yang besar di dalam mengambil keputusan gugatan sengketa Pilpres yang diajukan kubu Prabowo. Ini menjadi menarik karena baru pertama kali terjadi di Indonesia dan menjadi sebuah pelajaran penting bahwa penyelengaraan Pemilu itu bukan hal main-main yang bisa seenaknya saja dilakukan. KPU yang sudah gagal sebelumnya melakukan Pemilu Legialatif namun lolos dan berhasil cuci tangan, sudah sepatutnya memiliki nyali untuk mengakui salah dan tidak arogan. MK  pun seharusnya tidak membiarkan semua kesalahan dan kekacauan ini dengan mengambil keputusan yang salah. Walaupun semua keputusan memiliki resiko yang besar, namun hendaknya MK berpihak pada kebenaran dan keadilan. Jika kesalahan selalu ditutupi maka rakyat yang sudah muak dan jenuh dengan semua permainan politik ini, bisa semakin hancur berantakan.

Dilema yang dihadapi oleh MA dan MK saat ini sebenarnya menunjukkan dengan jelas siapa sebenarnya yang sedang “bermain-main” di sini. Siapa yang sedang berusaha cuci tangan, lempar batu sembunyi tangan, dan melarikan diri dari tanggungjawab atas masalah-masalah yang sudah dibuat. Sebodoh-bodohnya rakyat Indonesia, namun tidak semua mau dibodohi terus menerus. Oleh karena itu, rakyat seharusnya juga mendukung terkuaknya semua kebenaran dan tegaknya keadilan agar mereka-mereka ini mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka.

Bisa saja sebagian berpikir bahwa apa yang saya uraikan di atas adalah merupakan konspirasi politik pemikiran saya sendiri yang tidak berpikir positif. Tidak mengapa dan dapat dimengerti, sebab politik memang penuh dengan konspirasi dan kesepakatan termasuk pemanfaatan atas ketidaktahuan dan ketidakpahaman atas politik itu sendiri. Sehingga wajar jika ada pengerahan dan pengarahan untuk tetap berpikir pragmatis dan simple agar pencapaian tujuan itu lebih mudah dilakukan dan dipermulus jalannya. Apalagi lewat “gonggongan” orang-orang yang tak mengerti tetapi merasa sangat paham dan paling tahu, itu menjadi sarana dan alat politik paling ampuh, deh!

Kita semua tentunya ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, tetapi cobalah untuk melakukannya dengan cara yang baik dan benar. Jaman memang sedang edan tetapi apa perlu ikut-ikutan edan?! Apa nggak lagi punya rasa malu?!

Cermati, pelajari, dan pikirkan baik-baik korelasi antara kasus-kasus yang saat ini sedang digelar di MA dan MK. Dilema yang dihadapi para hakim di dalam mengambil keputusan adalah masalah besar bagi Indonesia, terutama seluruh rakyat Indonesia. Kita tidak bisa melihat segala sesuatunya hanya dari satu sisi saja, sebab itulah yang diinginkan “Dalang Utama” dari masalah-masalah yang terjadi. KPK dan KPU akan terus menjadi alat mereka berkuasa, bila selalu diposisikan selalu pasti benar dan tidak pernah salah. MA dan MK juga hanya akan menjadi peradilan permainan untuk memperkuat permainan dan menutup semua kesalahan-kesalahan yang dibuat dengan mudahnya jika MA dan MK tidak memiliki nyali yang besar untuk mengambil keputusan yang benar.

Saya berharap MA dan MK kali ini benar-benar memiliki nyali! Jangan bicara hukum dan keadilan bila tidak bernyali menegakkan kebenaran dan keadilan itu sendiri!!!

Salam hangat,

Mariska Lubis

20 Agustus 2014

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

One Response to Dilema MA dan MK, Rakyat Taruhannya

  1. Pingback: Masturbasi Otak Penguasa Otoriter | Bilik ML

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s