Media Massa: Idealisme Vs Uang/Kepentingan

Kepala ini sudah terlalu malu menyaksikan dan membaca berita dan acara-acara di media massa. Kebebasan memang perlu tetapi ini seperti macan lepas kandang, sudah betul-betul kebablasan. Harga idealisme yang digembar-gemborkan saja sebatas uang dan kekuasaan. Sudah melewati batas perikemanusian, yang muncul adalah perkebinatangan manusiawi yang sangat dominan. Malu!

Seorang penulis dan wartawan berkata pada saya saat menjelang Pilpres kemarin, “Sudahlah, nggak usah ngomong soal idealisme. Anak-anakmu butuh hidup dan makan. Sekarang kita bicara soal uang saja, untuk apa susah karena mempertahankan idealisme?!”. Waduh!!!

Saya masih ingat sekali bagaimana seorang almarhum  Rosihan Anwar memberikan masukan penting bagaimana sulitnya menjadi wartawan yang berdedikasi dan berintegritas. Godaan dan tekanan itu selalu ada dan yang terpenting adalah kewajiban berupa tanggung jawab moral terhadap negara, bangsa, rakyat, dan seluruh isi dunia ini. Jika tidak sanggup menguasai diri dan lebih suka dengan uang dan kekuasaan, lebih baik tak usah jadi wartawan. Beliau bilang, “Jadi saja penjilat penguasa atau pedagang sekalian.”

Itu kata-kata sempat mematahkan semangat saya untuk belajar menjadi penulis, karena saya berpikir tentang segala resiko dan konsekuensinya. Apalagi untuk masuk ke dunia media massa, di mana beliau cerita bagaimana koran milik keluarga kami dibredel terus menerus oleh pemerintah dari jaman Jepang hingga era Soeharto. Namun, ini menjadi tantangan besar dan saya merasa harus sanggup menghadapinya.

Saya yakin beliau dan kakek-kakek saya yang dulu mendidik dan memperkerjakan orang-orang seperti Gunawan Muhamad bisa menangis menyaksikan media massa saat ini. Saya yang dulu sangat menghormati Gunawan Muhammad pun, sampai terheran-heran. Apakah salah bangsa, negara, dan rakyat Indonesia hingga tega menghancurkan semuanya?! Begitu besarnyakah benci dan dendam itu hingga tidak lagi mampu mengendalikan diri?!

Saya sudah lama sekali merasa sedih dengan kondisi media massa, bahkan saya pernah menulis Kebinatangan Media Massa beberapa tahun lalu. Mengapa?! Sebab idealisme itu sudah semakin hilang dan saat ini wujud kebinatangannya semakin nyata. Mau beralasan dan berdusta seperti apapun, kata-kata menunjukkan apa dan siapa diri yang sebenarnya. Semua kebenaran akan terkuak pada masa dan waktunya.

Barangkali memang semua proses ini harus dilalui untuk memberikan pelajaran penting di mana hak itu harus selalu diseimbangkan dengan kewajiban. Selama ini kita selalu bicara soal hak dan hak tetapi tidak memiliki nyali untuk memenuhi kewajiban. Padahal yang namanya adil dan keadilan itu selalu merupakan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Jika selalu beralasan soal kebebasan pers tetapi tidak diimbangi dengan memenuhi kewajiban pers, ya sama saja bohong dong teriak-teriak soal idealismenya. Iya, kan?!

Ada kesombongan besar yang sangat terasa, seperti rembulan yang melupakan matahari. Lupa bahwa rembulan bukanlah bintang meski nampak lebih besar dan terang, tanpa matahari maka rembulan tidak akan pernah bersinar. Begitu juga media massa, tanpa pembaca/penonton/pendengar maka tidak akan pernah bisa hidup. Sehingga seharusnya media massa tidak perlu congkak dan merasa begitu hebat karena mampu mempengaruhi, tanpa pembaca/penonton/pendengar maka semua akan semakin redup dan menghilang. Jangan dibolak-balik teruslah pemikirannya.

Betul bahwa di dalam menjalani kehidupan saat ini, uang sangatlah diperlukan. Namun ada baiknya kita berpikir bahwa uang bukanlah segalanya di dalam kehidupan ini. Uang hanyalah alat dan sarana yang seharusnya  tidak memperbudak diri kita untuk mau melakukan apapun. Bahkan di dalam keadaan terpaksa sekalipun selalu ada pilihan jalan yang lebih baik daripada merendahkan harga diri media massa. Termasuk juga terhadap kekuasaan, lebih baik pergi dengan terhormat daripada berkuasa karena menjual dan merendahkan harga diri. Seekor dubuk pun tahu, masa manusia tak juga paham?!

Lebih baik mengaku saja terus terang soal uang dan kepentingan yang dimaksud, daripada terus menerus menggunakan alasan rakyat, demokrasi, hak asasi, idealisme, dan lain sebagainya. Percuma saja ditutupi karena kebenaran pasti akan terungkap pada waktunya. Masih ada pilihan untuk mengubah menjadi lebih baik, tetapi semua sangat tergantung kepada pribadi masing-masing. Semua pasti ada resikonya sendiri-sendiri.

Idealisme versus uang/kepentingan?! Yang pasti kehormatan itu tidak bisa dinilai dengan uang, dan tidak ada kepentingan yang lebih prioritas di dalam kehidupan ini selain masa depan. Ya, masa depan! Silahkan berpikir!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

One Response to Media Massa: Idealisme Vs Uang/Kepentingan

  1. Ihsan Fauzi says:

    Tengkiyu tulisannya kakak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s