Tragedi Penipuan Lewat Jilbab

Sudah tidak terkejut lagi sekarang jika melihat perempuan berjilbab namun sangat ketat dan tipis pakaiannya. Tidak aneh juga menemukan pekerja seks komersial yang menggunakan jilbab bahkam saat menjajakan diri dan transaksi dengan pembelinya. Begitu juga yang tertangkap dan diadili, jilbab seperti jimat saja yang mungkin bisa mengurangi rasa bersalah dan hukuman. Nah, yang paling parah adalah jilbab yang dipasang hanya ketika sedang berusaha mendapatkan kekuasaan. Keterlaluan!!!

Sungguh saya tak mengerti mengapa seseorang harus sampai sebegitunya menggunakan jilbab tanpa menghargai apa sebenarnya arti dan makna penggunaan jilbab itu sendiri. Rasanya malu hati sendiri melihat perempuan-perempuan berpakaian super ketat meski berjilbab. Tipis pula! Sampai pakaian dalamnya pun nampak jelas bentuk dan warnanya. Untuk apa, sih, pakai jilbab jika demikian?!


Saya sendiri tidak mau memakai jilbab karena untuk mengerudungi hati dan pikiran saya sendiri saja belum mampu. Jika pun ada yang memberikan penilaian negatif atau terangsang dengan penampilan saya, ya, itu masalah dia bukan saya, dong! Nggak perlu lihat wajah dan tubuh, suara pun bisa membuat seseorang bergairah. Bahkan tak sedikit pria yang juga bergairah melihat perempuan berjilbab. Kalau tidak, mana mugkin perempuan berjilbab ada yang naksir?! Semua sangat tergantung pikiran dan hati masing-masing, kok!

Lain ceritanya jika kemudian jilbab ini dipakai untuk memberikan efek “tak berdosa” seperti yang banyak dilakukan para koruptor ketika ditangkap dan diadili. Memangnya kalau berjilbab maka sudah pasti baik dan tak bersalah?! Belum tentu! Jilbab hanya pakaian sementara pikiran dan hatilah yang menentukan perilaku dan perbuatan seseorang. Pakaian sungguh bisa menipu!

Persis dilakukan juga oleh istri-istri dan pejabat-pejabat yang sedang berebut kekuasaan dan posisi. Sampai bingung sendiri melihat mereka tiba-tiba saja menggunakan jilbab. Syukur bila memang jilbab itu digunakan untuk hal yang positif tetapi jika untuk menipu rakyat, harus bilang apa?! Kenapa sebegitu pentingnya menunjukkan keagamaan lewat simbol-simbol yang menipu?! Jika memang benar kuat dalam beragama dan beriman, tidak perlulah sampai harus sedemikian hiperbolanya.

Menurut saya pribadi, ini justru merupakan sebuah bentuk pelecehan terhadap budaya jilbab itu sendiri dan juga dalam hal keagamaan. Pembenaran oleh karena kebutuhan penampilan untuk mendapatkan image di masyarakat sama sekali tidak bisa diterima. Betul, masyarakat Indonesia masih banyak yang mudah tertipu oleh penampilan, namun jahat sekali bila memanfaatkan hal ini untuk memperdayai. Bagaimana kalau terpilih bila sebelumnya saja sudah berani menipu rakyat?!

Sayangnya hal ini sudah terjadi dan entah bagaimana harus mengungkapkannya. Nanti malah dituduh kubu-kubuan lagi, payah deh!!! Hingga saat ini saya tidak habis pikir, kenapa semua harus dihubungkan dengan kubu, sampai-sampai hal yang baik jadi salah dan salah dibenarkan hanya karena perkubuan. Diberitahu salah, orang yang lebih tahu dituduh sok tahu oleh yang nggak tahu. Kan jadinya bingung, mana yang sebenarnya lebih tahu?!

Saya sangat tidak suka dengan penipuan lewat jilbab ini. Sebagai penganut agama Islam, rasanya saya merasa terhina. Meskipun saya sendiri tidak memakai jilbab, tak pantas saja orang menipu rakyat lewat jilbab hanya untuk mendapatkan kekuasaan. Terserah bagi yang menganggap ini benar dan dibenarkan karena sudah terlanjur buta oleh dewa perkubuan. Saya tetap berkeyakinan bahwa semua dusta itu akan terkuak pada masa dan waktunya.

Saat ini sudah waktunya kita berhenti tertipu oleh jilbab untuk kekuasaan, itu saja yang saya pikirkan. Percuma berkutat  pada perkubuan yang hanya membuat buta dan semakin mudah dibodohi. Move on, dong!!!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

2 Agustus 2014

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s