Masturbasi Otak Penguasa Otoriter

Namanya juga masturbasi maka yang mendapatkan kepuasan hanyalah diri sendiri. Apapun bisa dilakukan apalagi jika berstatus sebagai penguasa. Kezaliman yang dilakukannya pun bisa diolah dan diputar balik untuk mendapatkan opini terbalik demi orgasme otaknya sendiri. Sayangnya, semua ini justru ditunjang oleh pemikiran pragmatis kebanyakan rakyat yang membuat masturbasi otaknya semakin menjadi-jadi.

Di era Orde Baru yang menggunakan slogan Demokrasi Pancasila, rakyat memiliki kesulitan untuk bisa bebas mengeluarkan pendapat. Segala pendapat yang dianggap berbahaya dan menentang pemerintah dan penguasa maka akan dihancurkan dan dibinasakan. Tidak sedikit rakyat menjadi korban, bahkan tesis saya sendiri pun lenyap tak berbekas. Tulisan saya pada tahun 1997 tentang militerisasi di Indonesia tidak sempat disebarkan, berisi pendapat mengenai masa depan Indonesia berdasarkan sejarah dan situasi pada saat itu barangkali dianggap menentang dan tidak sejalan. Hingga saat ini saya masih sedih sebab dalam tulisan itulah efek dari perubahan politik yang tidak sesuai dengan budaya dan psikologi masyarakat diuraikan, dan saat ini jelas nyata terjadi. Seandainya saja kita semua mau bercermin dan belajar dari sejarah di negara-negara lain, ah!!!

Era Orde Baru berlalu dan era reformasi melanjutkan, kata demokrasi semakin diteriakkan untuk mendapatkan citra baik bagi penguasa baru dan membuat buruk penguasa sebelumnya. Dibuat nampak demikian dengan kebebasan di dalam mengeluarkan pendapat. Semua orang boleh bebas beropini dan berpendapat tanpa takut ditangkap dan dihilangkan. Namun sesungguhnya tidak sepenuhnya demikian, ada banyak cara penguasa yang zalim bisa mempraktekkan otoriternya di balik kata demokrasi.

Sebagai contoh adalah Munir yang “lenyap” 10 tahun lalu setelah melakukan pembelaan terhadap tokoh kontroversi saat ini yaitu Prabowo Subianto. Apa yang benar dan salah tetap bisa dibuat rancu lewat polemik pemikiran yang diolah-olah menggunakan sarana demokrasi di media massa. Siapa pelaku kekejaman yang sesungguhnya bisa dengan mudah “ditutupi” dengan memanfaatkan keluguan dan ketidakpahaman masyarakat kebanyakan. Manusia penonton yang hanya yakin dengan tontonan dan merasa sudah sangat tahu dan benar tanpa pernah mau belajar lebih mendalam menjadi “bola” yang sangat mudah ditendang dan dipermainkan. Masturbasi politik penguasa zalim yang otoriter pun bisa terus dilakukan.

Praktek pemilu dengan peraturan dan Undang-undangnya yang jelas sudah diketuk palu oleh Mahkamah Konstitusi dan disebutkan tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 45 pun bisa terus dilanjutkan, bahkan didukung oleh orang-orang yang selama ini berteriak soal demokrasi dan keadilan. Hanya lewat pola devide et ampera perkubuan yang sudah direncanakan dan sistematis saja, masyarakat Indonesia bisa dengan mudahnya lupa atas semua “dosa” penguasa yang zalim. Perkubuan bisa dengan mudahnya membutakan hati dan pikiran, masturbasi otak semakin menyebar dan semakin menghancurkan. Hanya dengan menuduh “berkubu” dengan lawan saja, semua pendapat yang menyangkut kezaliman penguasa otoriter bisa diyakini salah besar dan menjadi kesalahan. Ada yang ingat kesalahan KPU dan MK di pemilu legislatif?!

Satu lagi kasus yang menarik untuk dicermati adalah soal Anas Urbaningrum. Menjadi sangat menarik karena menjadi bukti bahwa keadilan itu memang bukanlah yang diperjuangkan. Penegak hukum yang arogan dan tidak mau dianggap salah lewat gengsinya telah mempraktekkan kezaliman otoriter hukum dengan memanfaatkan sarana dan fasilitas hukum. Hukum yang dipolitisasi dan politisasi hukum dijalankan dan diterapkan. Saksi-saksi yang dibawa jaksa jelas sudah membuktikan bahwa Anas tak bersalah, namun yang terus diangkat adalah apa yang diucapkan oleh Nazarudin, istri, dan kedua sopirnya. Bahkan bukti BBM yang baru dikeluarkan setelah KPK terpojok dengan ketiadaan saksi yang memberatkan pun didramatisir dan hiperbola. Padahal jelas terbukti bahwa BBM tersebut ada setelah BB seorang Anas disita.

Tulisan-tulisan Anas yang dibuat dari balik jeruji yang merupakan haknya dalam penerapan demokrasi pun terpaksa dihentikan. Sudah terlalu banyak korban akibat kebakaran jenggot penguasa. Tekanan-tekanan yang tidak pernah diekpose dan diketahui masyarakat umum juga disembunyikan dengan sangat baik. Pengadilan, tuntutan, dan hukuman akibat kebencian dan dendam menggunakan fasilitas hukum telah dipraktekkan penguasa otoriter yang melakukan masturbasi otak. Sangat jauh dari kata keadilan dan demokrasi yang selama ini terus diumbar. Sayangnya, sekali lagi, pemikiran pragmatis sebagian besar rakyat yang mudah digiring lewat media massa membuat hal keji seperti ini menjadi mudah tertutup dan ditutupi.

Seperti yang pernah sebelumnya saya tulis dalam tulisan berjudul “Dilema MA dan MK, Rakyat Taruhannya”, bahwa sudah waktunya rakyat Indonesia menghentikan semua ini. Terus saja mengotakkan pikiran dan membatasi berdasarkan preferensi perkubuan hanya akan menghentikan langkah untuk maju. Berteriak tanpa paham apa yang sebenarnya dan mendalam mulai dari akar permasalahan hanya menjadi bukti kebodohan dan pembodohan. Ini bukan soal arogansi tetapi konsistensi perjuangan untuk mau melakukan perubahan menjadi lebih baik, sehingga seharusnya merdeka dalam berpikir dan terlepas dari tirani otak dan hati yang terbelenggu.

Pemikiran positif memang harus terus ada dan dijalankan ke depan, tetapi bukan berarti berharap pada mimpi pepesan kosong dan meyakininya tanpa berjuang untuk menjadi lebih baik. Selama ini kita sudah lupa dengan posisi, waktu, dan tempatnya masing-masing. Pakar politik dan hukum pun bisa dianggap bodoh oleh mereka yang tak mengerti politik dan hukum. Kontraktor dan artis yang tidak tahu sama sekali bagaimana membuat Undang-undang pun bisa menjabat di MPR dan DPR sehingga bikin kacau aturan dan menjadi kaki tangan penguasa. Lupa bahwa para pejabat itu hanyalah hamba rakyat yang seharusnya tidak arogam dan bermain-main dengan rakyat hanya untuk mendapatkan orgasme sendiri.

Rakyat tidak boleh terus menerus dijadikan objek mereka, tetapi adalah subjek yang seharusnya dihormati sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Indonesia. Rakyat juga sebaiknya tahu diri, sadar akan posisi, kapasitas, tempat, dan waktunya, dong! Jangan seperti para pejabat yang sudah kehilangan kemaluan mereka! Jika hal ini pun sudah dianggap salah, maka untuk apa teriak-teriak soal perubahan dan keinginan memiliki kehidupan yang lebih baik?! Makin asyik saja para penguasa otoriter itu bermasturbasi!

Bagus bila seluruh rakyat Indonesia ini paham politik tetapi sok tahu dan merasa paling tahu hanya akan memperburuk keadaan. Politik menyangkut seluruh aspek dalam kehidupam dan merupakan strategi untuk mencapai tujuan. Ekonomi, hukum, sejarah, budaya, sosiologi, pendidikan, kesehatan, agama, dan lainnya tidak bisa dipisah-pisahkan dalam politik. Yang memisahkannya adalah yang memang ingin rakyat tetap bodoh, makin bodoh makin senanglah mereka. Jika hanya dipelajari permukaannya saja dan copas dari apa yang sudah ada tanpa mau berpikir maka hanya akan menjadi alat permainan yang paling mudah dimanfaatkan. Apalagi kalau menggonggongnya keras, ini paling enak banget dijadikan bola yang ditendang sana sini untuk mencapai orgasme pelaku masturbasi otak. Masa, sih, nggak mau juga paham soal ini?!

Kritik, copas, jiplak itu mudah. Mengikuti kebiasaan dan menerapkan apa yang sudah biasa dilakukan juga gampang. Setiap perubahan membutuhkan kerja keras dan pengorbanan. Kalau mau mudah dan gampang saja, nggak usah banyak menggonggong. Hewan juga punya otak dan hati untuk berpikir, bekerja, meniru, protes, dan marah. Hanya manusia yang diberikan anugerah berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru dan terus baru. Oleh karena itu, belajar dan berpikir untuk menghasilkan dan menciptakan hal baru merupakan bentuk syukur dan hormat atas anugerah yang sudah diberikan Ilahi. Di sinilah keelitan sebagai manusia teruji. Elit itu bukan soal pendidikan, kedudukan, dan harta tetapi kemampuan untuk menjadi manusia yang mampu menempatkan diri sesuai posisi, waktu, dan tempatnya dengan baik dan benar. Mengapa hal ini diabaikan?!

Saya tidak mau terus menerus dikuasai pemimpin otoriter yang kerjanya masturbasi otak. Saya pun ingin orgasme dan saya ingin seluruh rakyat Indonesia merasakan orgasme yang paling platonik atomik. Terserah saja jika tidak mau, manusia hidup dengan pilihan dan pilihannya masing-masing. Toh, resiko semuanya tetap ditanggung masing-masing juga.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis

12 September 2014

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Politik, Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Masturbasi Otak Penguasa Otoriter

  1. Ihsan Fauzi says:

    OKe kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s