Bahasamu, Wahai Pemimpin!

Siapakah saya jika dirimu adalah “gue” dan saya adalah “elo”?! Di manakah Indonesia jika dirimu adalah “gue” dan Indonesia adalah “elo”?! Di manakah posisi Indonesia dalam dirimu jika bahasamu jauh lebih penting dari Indonesia?!

Mao melakukan perubahan membentuk nasionalisme yang sangat kuat di negeri Cina lewat revolusi budaya. Yang pertama kali dilakukannya adalah mengembalikan bahasa Cina baik yang daerah maupun nasional untuk kembali digunakan dengan baik dan benar. Mao sangat mengerti peranan bahasa di dalam perubahan dan membentuk bangsa dan Negara. Dia juga sangat paham bahwa bahasa merupakan benteng terkuat dari sebuah bangsa dan Negara yang melebihi dari senjata militer terkuat apapun. Hal yang sama juga dilakukan di Jepang dan Korea di masa lalu. Lihatlah perubahan Korea setelah terjadi perubahan dalam bahasa, di mana bahasa “gaul” menjadi lebih penting dari bahasa Korea yang sejatinya.

Revolusi Perancis berhasil merubuhkan aristrokrasi dan kaum borjouis namun ada satu hal yang tetap mereka pertahankan yaitu bahasa “elite”. Biar bagaimanapun bahasa “elite” ini patut dipertahankan untuk membuat Perancis tetap terjaga “keelitannya”. Aristokrat dan borjouis dihancurkan tetapi mereka sadar penuh bahwa dengan menjaga bahasa “elite” maka posisi Perancis akan tetap pada posisi “elite”. Bahkan kaum kelas bawah pun terus diajarkan dan dibiasakan menggunakan bahasa “elite” ini hingga saat ini untuk menjaga kehormatan, harga diri, jati diri, kesejatian, dan posisi bangsa dan Negara Perancis.

Demikian juga dengan Cuba dan Kolombia yang meski merupakan bekas Negara jajahan Spanyol, namun mereka tidak mau menjadi bangsa dan Negara yang dianggap hina dan rendah. Mereka mempertahankan tetap menggunakan bahasa Spanyol kelas atas dalam keseharian. Di sinilah kehormatan dan harga diri mereka tetap terjaga dan sulit untuk dihancurkan. Meski dijadikan sebagai bulan-bulanan Amerika dan Negara lain dan dianggap Negara yang penuh dengan narkoba dan kejahatan, tetapi mereka mampu bertahan. Sebagai catatan penting, mereka memang menjual narkoba tetapi di Negara mereka sendiri, hukuman mati diberikan bagi siapapun yang menggunakan narkoba. Hebat, kan?!

Bandingkan dengan Amerika yang memang tidak memiliki dasar budaya kuat kecuali penduduk Amerika asli yang dimusnahkan oleh pendatang dan penjajah. Amerika tidak memiliki bahasa sendiri dan hanya mengambil bahasa Inggris sebagai bahasa mereka, sementara dari keragaman penduduk, situasi, dan kondisi mereka saja sudah berbeda. Ditambah lagi dengan berkembangnya bahasa “gaul” dan bahasa “jalan” yang semakin memperlemah diri mereka sendiri, tak heran jika Amerika harus mengandalkan senjata dan strategi politik menyerang untuk mempertahankan diri. Sayang sekali, justru cara Amerika inilah yang dianggap benar, hebat, dan baik pada saat ini serta ditiru oleh sebagian besar rakyat Indonesia.

Bagi sebagian besar, bahasa sepertinya tidak dianggap penting dan hanya sekedar mampu berkata saja. Jika dipelajari secara serius, bahasa merupakan sarana dan alat untuk kita merasakan dan berpikir sekaligus sarana dan alat bagi kita untuk mengungkapkan rasa dan pikiran. Setiap kata yang terurai dari kita adalah cermin dari hati dan pikiran kita, yang memperlihatkan bagaimana struktur, pola, cara berpikir dan juga wawasan serta intelijensia. Tidak ada satu pun manusia jenius yang terlahir di dunia ini yang tidak menggunakan bahasa papan atas, sebab isi otak papan atas mereka secara otomatis terurai lewat bahasa yang mereka gunakan.

Jika kita mau mempelajari lebih mendalam lagi tentang bahasa, maka belajarlah dari bagaimana Allah berbahasa. Allah bisa memilih menggunakan bahasa apapun di dunia ini, namun mengapa Dia memilih menggunakan bahasa yang sedemikian indah dan berkelas? Mengapa Dia tidak memilih menggunakan bahasa yang gampang dan mudah, padahal Dia bisa lebih seenaknya dari semua makhluk ciptaan-Nya. Mengapa Dia begitu berhati-hati di dalam memilih kata, membuat pola, struktur, dan menyusun kata-katanya dalam kalimat-kalimat?! Bukankah Allah Maha Kreatif sehingga bisa membuat bahasa suka-suka?! Jika sedemikian tidak pentingnya bahasa, maka Allah tidak perlu repot-repot melakukan semua ini, kan?!

Lantas sekarang bagaimana jadinya Indonesia bila pemimpinnya saja lebih memilih menggunakan bahasa mereka sendiri dan asing?! Mengapa sedemikian egoisnya hingga hanya memikirkan diri sendiri dan tidak memikirkan Indonesia seperti apa yang selalu diungkapkan dan dijual?! Sebegitu tidak pentingnyakah Indonesia hingga selalu mendahulukan diri dan bahasa sendiri?! Kata bisa berdusta namun kata juga mengungkap semua dusta yang terurai lewat kata dan bahasa. Silahkan saja untuk menyanggah dan tidak mengakuinya, tetapi sungguh ilmu yang diberikan Allah itu sangatlah luar biasa. Seberapa hebat alasan, sanggahan, dan dusta yang terus terurai tetapi Allah sudah mengajarkan bagaimana “membaca” dengan mengkaji setiap kata bahkan huruf yang terurai dari setiap manusia. Sekarang barangkali tidak dimengerti oleh kebanyakan tetapi semua ada masa dan waktu untuk membuktikannya.

Jika dirimu adalah “gue” maka saya bukanlah dirimu, dan jika saya adalah “elo” maka saya dan dirimu bukanlah kita. Sementara seorang pemimpin bukanlah seorang penguasa yang seenaknya tetapi sebaiknya memiliki kerendahan hati untuk menahan diri dan melepaskan semua keegoisannya untuk bersama. Bukan soal suka atau tidak suka, namun “mau-maunya gue” menjadi cermin keangkuhan yang hanya mementingkan diri sendiri saja.

JIka bahasamu jauh lebih penting dari bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka apalah artinya Indonesia bagimu?! Seorang pemimpin yang terhormat selalu mampu menggunakan bahasa dengan baik dan benar karena tahu arti pentingnya bahasa bagi mereka yang dipimpinnya. Jika memang bahasa Indonesia itu tidak dipentingkan dan diprioritaskan, maka patut dipertanyakan “kelas” dan “kualitasnya” atau bagaimana posisi Indonesia yang sesungguhnya bagi dirinya. Pantaskah mengaku-aku merendah dan merakyat jika demikian?! Bahkan Allah pun tidak diikuti dan diabaikan ajaran yang mendasarnya saja, apalagi manusia?!

Saya ingin seluruh rakyat Indonesia mengerti dan sadar penuh dengan merendahkan hati untuk mau terus belajar dan belajar. Kita hanyalah manusia biasa yang penuh dengan dosa dan bisa berbuat salah. Buat saya, tidak perlu muluk-muluk, mulai saja mengikuti apa yang diajarkan oleh-Nya dari hal yang paling mendasar yaitu, membaca dan menulis. Membaca bukan hanya sekedar membaca kata dan mengartikannya secara harfiah, tetapi tahu persis apa arti setiap huruf, kata, kalimat, struktur, pola, dan susunannya agar mengetahui lebih jelas apa makna tersirat, tersurat, teks dan konteksnya. Seperti surat Al Insan dalam Al Quran yang bila dijumlahkan setiap hurufnya maka menjadi rangkaian kalimat-kalimat berisi petunjuk tubuh manusia, yang jika ditotal adalah sama dengan jumlah simpul saraf tubuh manusia. Luar biasa, bukan?!

Begitu juga dengan menulis, ajaran Allah yang pertama bagi saya adalah menulis. Dia memberikan contoh dengan menulis kitab-kitab suci yang turun secara bertahap, yang menjadi simbol bahwa semua ada prosesnya, sedikit demi sedikit hingga sempurna. Salah tak mengapa namun yang terpenting adalah terus menulis. Jika pun tidak menulis maka uraian kata yang terlontar dari mulut dan bibir sebaiknya mencontoh dari apa yang telah diajarkan dan diberikan contoh oleh-Nya.

Susah?! Ya memang tidak mudah, tetapi bukan tidak bisa bila tidak memiliki kemauan. Indonesia ini membutuhkan pemimpin yang benar-benar mampu menjaga Indonesia, peduli dengan Indonesia, dan memperioritaskan Indonesia. Oleh karena itu, hati-hatilah dengan bahasamu, wahai pemimpin! Bahasamu walau penuh dusta tetap mencerminkan siapa dirimu yang sesungguhnya! Saya tidak akan pernah mau terjerumus permainan politik bahasamu!

Semoga bermanfaat.

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis
13 September 2014

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s