Bila Keledai Merasa Seperti Kuda

Bila keledai merasa dan menjadi seperti kuda, kapak pun menelan beliung, apa yang baik ditukar dengan yang buruk. Memperlapang kandang musang dan mempersempit kandang ayam, memberi kesempatan kepada yang mendatangkan kejahatan dan tiada melindungi orang yang mendapatkan kesusahan. Nanti setelah berkelahi baru ingat silat, seperti saat ini, ketika semuanya sudah terjadi dan terlambat, barulah mengerti dan ingat. Terlambat!

Teriak-teriak penuh amarah dan kebencian merebak tak henti-hentinya di dalam benak rakyat penumpang hidup di atas perut Ibu Pertiwi sejak perkubuan Pemilu terjadi. Bahkan kata-kata kasar dan tidak senonoh pun seringkali terucap dari mulut-mulut yang mengaku berpendidikan dan sudah sangat layak menjadi pemilik surga. Tidak juga mau berhenti dan diam sejenak untuk berpikir dalam laut yang lebih tenang, tenggelam di dalamnya hingga ke dasar terdalam, agar lebih mengerti. Terlalu sombong untuk mau merendahkan hati belajar meski merasa sudah sangat merunduk dan menggunakan atas nama rakyat.

Politik bukan sekedar tulisan dan omong-omong di media massa, buku, dan pengalaman dalam keseharian. Politik adalah tentang kehidupan, tentang bagaimana mencapai tujuan di dalam kehidupan ini. Jika saja kita mau mengakui, berapa banyak dari kita yang memiliki tujuan, yakin dengan tujuan, mau berusaha keras mencapai tujuan, dan berhasil mencapai tujuan? Bahkan Allah pun memiliki surga dan neraka meski semua ingin masuk surga dan merasa memiliki kunci surga.

Selama ini dunia dibuai dengan kata demokrasi di mana demokrasi disosialisasikan lewat diadakannya Pemilu, baik Pemilu yang diadakan langsung maupun tidak langsung. Pendidikan pengertian soal demokrasi hanya terbatas dan dibatasi oleh kebebasan di dalam memilih dan bersuara, paling tidak itulah yang umum dan kebanyakan dipahami. Tidak diberikan pendidikan dan pemahaman yang lebih mendalam bahwa sesungguhnya demokrasi merupakan sebuah cara bagi rakyat untuk mendapatkan kedaulatan dan kekuasaan, yang tidak hanya terbatas oleh boleh tidaknya memilih dan bersuara pada saat sudah diberikan pilihan. Kedaulatan dan kekuasaan penuh ada di tangan rakyat jika rakyat berhak menentukan siapa yang akan dipilih dan dijadikan calon, termasuk kriteria-kriterianya.

Selama era reformasi, Indonesia melakukan pemilihan langsung tetapi rakyat selalu seperti membeli kucing dalam karung. Seperti Pilkada dan Pileg, rakyat tidak pernah tahu alasan mengapa mereka ditetapkan menjadi calon dan harus dipilih. Tidak juga mengerti dan paham mengapa mereka harus didukung dan dipilih selain lewat kampanye. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia tidak membuat rakyat menjadi berkuasa dan berdaulat, walau di era reformasi. Rakyat tetap dikuasai oleh kekuasaan oligarki partai yang menguasai seluruh pemerintahan serta lembaga-lembaga dan badan-badan usahanya. Mereka dibayar oleh rakyat tetapi lebih memprioritaskan partai, kan?!

Sekali lagi, sudah saya jelaskan berulang-ulang lewat berbagai tulisan, contohnya adalah Pilkada di berbagai daerah, di mana para gubernur ini dilegitimasi karena mendapatkan suara dominan penyoblos. Sementara penyoblos adalah bagian dari pemilih, sehingga seharusnya diperhitungkan suara pemilih yang tidak mencoblos untuk mendapatkan kebenaran. Seorang Gubernur bisa saja mendapatkan 40 persen suara penyoblos tetapi sesungguhnya hanya mendapatkan 16 persen suara dari total pemilih. Anehnya, kok bisa dilegitimasi menjadi Gubernur meski 84 persen pemilih tidak memilih dia menjadi Gubernur?! Di mana demokrasinya?! Mengapa tidak ada yang protes?!

Dengan contoh seperti itu saja, maka ribut soal Pilkada tidak langsung juga tidaklah mencabut demokrasi dari Indonesia sebab sesungguhnya sistem demokrasi yang berjalan pun bukanlah demokrasi yang sesungguhnya. Sehingga tidak ada bedanya bila melakukan Pilkada langsung ataupun tidak langsung, sebab yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana menentukan dan menetapkan calon yang akan dipilih. Jika selalu saja ditentukan oleh partai dan penguasa, untuk apa menggunakan kata demokrasi?! Jika pun independen, maka tetap harus dicalonkan oleh rakyat, bukan hanya didukung oleh KTP yang bisa dibeli.

Dari semua kemarahan dan benci yang ada sesungguhnya menjadi cermin betapa mudahnya rakyat Indonesia dijebak dan digiring ke dalam sebuah lubang yang tidak ada ujungnya. Bila pun menyadari betapa sudah tertipunya selama ini, tetap saja tidak juga mau keluar dari sana. Malah terus asyik menggali lubang kematiannya sendiri sehingga kemarahan dan kebencian semakin menguat. Menyalahkan yang lain terus, sementara sesungguhnya semua itu adalah refleksi kemarahan dan kebencian pada diri sendiri, diakui tak diakui.

Siapakah yang sudah memilih dan mendukung para anggota dewan dan pimpinan daerah saat ini lewat pemilihan langsung? Kenapa mau saja memilih anggota dewan yang tidak memiliki kapasitas membuat Undang-Undang? Kenapa harus ribut karena inilah konsekuensi dan resiko dari sistem demokrasi yang selama ini dijalankan?! Kenapa tidak mau menerimanya?!

Sebal dengan SBY? Siapakah yang sudah memilih SBY sebagai Presiden RI?! Dari awal pun saya sudah ribut karena meski memenangkan 60 persen suara penyoblos, beliau sesungguhnya hanya mendapatkan 20 persen suara pemilih. Bagaimana bisa diangkat menjadi Presiden bila 80 persen rakyat Indonesia tidak memilih beliau menjadi Presiden? Siapa yang membuat aturan demikian?! Wajarlah jika kemudian dibuat banyak sekali aturan yang semakin bikin kacau, seperti koalisi-koalisi. Tanpa koalisi, maka tidak akan bisa memimpin karena bukan pilihan rakyat, mana mungkin didukung rakyat jika rakyat mengerti dan paham?! Terlambat banget bila sekarang baru marah-marahnya! Kenapa mau saja ditendang ke sana ke mari dengan perkubuan?!

Susah memang jika keledai merasa dan menjadi kuda. Mau diberitahu seperti apapun tidak akan pernah bisa masuk. Sudah terlalu enak hidup dalam bayangan, melihat, mendengar, merasakan hanya apa yang mau dilihat, didengar, dan dirasakan hingga lupa bahwa semua itu adalah bayangan. Tidak memiliki nyali dan tidak mau mencari tahu apa yang sebenarnya, sehingga terus menerus dipermainkan. Herannya, jika sudah tahu fakta dan kenyataannya pun masih saja sibuk membantah dan banyak beralasan. Betul-betul seperti keledai, yang meski merasa dan menjadi kuda pun tetap saja keledai. Makin berkoar, makin ketahuan isi dan dalamnya.

Sudahlah! Ini semua adalah bagian dari pendidikan politik yang bisa saja memang yang dibutuhkan oleh Indonesia. Kita semua boleh menginginkan dan meminta, tetapi Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Kita bisa saja tidak menerimanya, tetapi apa yang diberikan oleh-Nya adalah selalu yang terbaik. Kita sekarang tidak mengerti, tetapi siapa yang pernah tahu rencana Allah di depan?! Yang terpenting adalah terus berusaha belajar dan terus belajar sebab belajar merupakan hormat dan syukur atas rahmat dan anugerah dari-Nya. Belajar bukan hanya dari media massa dan omongan orang saja, bukan hanya dari trend yang ada, tetapi benar belajar untuk bisa melihat segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang dan tidak membatasi diri hanya dengan keinginan diri semata.

Keledai memang bukan kuda, namun keledai bisa lebih hebat dari kuda jika di posisi, waktu, dan tempat yang sesuai. Tidak perlu berusaha menjadi kuda, lebih baik tahu posisi, waktu, dan tempat yang tepat dan sesuai. Semua akan jauh lebih bermanfaat dan berguna jika tahu diri, tahu apa dan siapa diri dengan baik serta mau mengakui dan menerimanya. Bercermin tanpa menatap bayangan, beranikan diri untuk merdeka dari tirani kebodohan pemikiran dan dusta hati sendiri!

Salam hangat selalu,

Mariska Lubis
28 September 2014

About bilikml

Saya adalah saya yang memiliki cinta untuk semua. Biarlah semua yang saya tulis menjadi ibadah, hormat, dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa agar berguna dan bermanfaat bagi semua yang saya cintai, Indonesia. Long lasting love for lust.... Freedom toward never ending and never last happiness.
This entry was posted in Perubahan, Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Bila Keledai Merasa Seperti Kuda

  1. Eldorado Simbolon says:

    Izin Share yah kk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s