Bila Keledai Merasa Seperti Kuda

Bila keledai merasa dan menjadi seperti kuda, kapak pun menelan beliung, apa yang baik ditukar dengan yang buruk. Memperlapang kandang musang dan mempersempit kandang ayam, memberi kesempatan kepada yang mendatangkan kejahatan dan tiada melindungi orang yang mendapatkan kesusahan. Nanti setelah berkelahi baru ingat silat, seperti saat ini, ketika semuanya sudah terjadi dan terlambat, barulah mengerti dan ingat. Terlambat!

Teriak-teriak penuh amarah dan kebencian merebak tak henti-hentinya di dalam benak rakyat penumpang hidup di atas perut Ibu Pertiwi sejak perkubuan Pemilu terjadi. Bahkan kata-kata kasar dan tidak senonoh pun seringkali terucap dari mulut-mulut yang mengaku berpendidikan dan sudah sangat layak menjadi pemilik surga. Tidak juga mau berhenti dan diam sejenak untuk berpikir dalam laut yang lebih tenang, tenggelam di dalamnya hingga ke dasar terdalam, agar lebih mengerti. Terlalu sombong untuk mau merendahkan hati belajar meski merasa sudah sangat merunduk dan menggunakan atas nama rakyat.

Continue reading

Posted in Perubahan, Politik | Tagged , , , , , , , | 1 Comment

Yang Penting Calonnya!!!

gambar-bendera-indonesiaRibut-ribut soal pemilu langsung versus melalui DPRD sepertinya sudah terlalu melenceng dari inti permasalahan yang utamanya. Kedua sistem ini sama-sama tidak melanggar konstitusi dan sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang sebenarnya sama saja. Yang paling penting untuk diubah saat ini justru adalah sistem pencalonannya. Mau calon yang dipilih langsung maupun yang dipilih oleh DPRD jika terus seperti saat ini, sama saja tidak menghormati rakyat yang memegang kekuasaan tertinggi di Indonesia!

Hingga saat ini saya masih sering geleng-geleng kepala dengan kepala-kepala berkotak kubu yang tidak juga bisa melepaskan diri dan menjadi manusia merdeka. Persoalan Pemilu bukanlah persoalan baru akibat Pilpres kemarin tetapi sudah merupakan persoalan panjang yang seharusnya dirunut dari awal. Jika masih saja terus dibatasi oleh perkubuan, maka tidak akan pernah bisa melihat dengan jernih apa masalah utamanya. Malah semakin mudah untuk dijadikan bahan permainan di dalam politik yang tidak akan mengubah apapun selain memperkuat kaki para tiran yang selalu menggunakan kata demokrasi dan rakyat sebagai sarana dan objeknya.

Continue reading

Posted in Perubahan, Politik | Leave a comment

Bahasamu, Wahai Pemimpin!

Siapakah saya jika dirimu adalah “gue” dan saya adalah “elo”?! Di manakah Indonesia jika dirimu adalah “gue” dan Indonesia adalah “elo”?! Di manakah posisi Indonesia dalam dirimu jika bahasamu jauh lebih penting dari Indonesia?!

Mao melakukan perubahan membentuk nasionalisme yang sangat kuat di negeri Cina lewat revolusi budaya. Yang pertama kali dilakukannya adalah mengembalikan bahasa Cina baik yang daerah maupun nasional untuk kembali digunakan dengan baik dan benar. Mao sangat mengerti peranan bahasa di dalam perubahan dan membentuk bangsa dan Negara. Dia juga sangat paham bahwa bahasa merupakan benteng terkuat dari sebuah bangsa dan Negara yang melebihi dari senjata militer terkuat apapun. Hal yang sama juga dilakukan di Jepang dan Korea di masa lalu. Lihatlah perubahan Korea setelah terjadi perubahan dalam bahasa, di mana bahasa “gaul” menjadi lebih penting dari bahasa Korea yang sejatinya.

Continue reading

Posted in Perubahan, Politik | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Cintaku Berhenti Di Bangku Sekolah

image

Mendengar kembali lagu Galih dan Ratna pada acara reuni silver SMP 5 Bandung angkatan 89 membuat senyum-senyum sendiri. Begitu banyak hal indah terjadi di masa sekolah yang sadar tak sadar berpengaruh pada kehidupan kita saat ini dan nanti. Meski pada saat itu belum punya pacar tetapi sepertinya cinta ini berhenti di bangku sekolah. Aaahhh!!

“Dua puluh lima tahun kereta membawa masa berlalu…
Wajah-wajah berubah ke sana ke sini seiring waktu…
Namun jiwa dunia muda tetap terpaut….
Pada selendang kenangan indah di masa lalu…
Yang tersimpan rapih dalam kotak kerinduan yang tak pernah terhapus…
Dan terkunci dalam rumah di hatiku” #ML 2014

Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa acara reuni akan menjadi ajang yang menyenangkan dan mengasyikkan. Maklum, biasanya reuni cuma dijadikan ajang eksistensi dan unjuk gigi sehingga membuat bosan dan menyebalkan. Menjadi anak-anak kembali mungkin terdengar gila tetapi momen reuni yang seperti inilah yang bisa membantu banyak diri kita untuk bisa ingat akan apa dan siapa diri yang sebenarnya tanpa harus munafik dan jaga image.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | 2 Comments

Masturbasi Otak Penguasa Otoriter

Namanya juga masturbasi maka yang mendapatkan kepuasan hanyalah diri sendiri. Apapun bisa dilakukan apalagi jika berstatus sebagai penguasa. Kezaliman yang dilakukannya pun bisa diolah dan diputar balik untuk mendapatkan opini terbalik demi orgasme otaknya sendiri. Sayangnya, semua ini justru ditunjang oleh pemikiran pragmatis kebanyakan rakyat yang membuat masturbasi otaknya semakin menjadi-jadi.

Di era Orde Baru yang menggunakan slogan Demokrasi Pancasila, rakyat memiliki kesulitan untuk bisa bebas mengeluarkan pendapat. Segala pendapat yang dianggap berbahaya dan menentang pemerintah dan penguasa maka akan dihancurkan dan dibinasakan. Tidak sedikit rakyat menjadi korban, bahkan tesis saya sendiri pun lenyap tak berbekas. Tulisan saya pada tahun 1997 tentang militerisasi di Indonesia tidak sempat disebarkan, berisi pendapat mengenai masa depan Indonesia berdasarkan sejarah dan situasi pada saat itu barangkali dianggap menentang dan tidak sejalan. Hingga saat ini saya masih sedih sebab dalam tulisan itulah efek dari perubahan politik yang tidak sesuai dengan budaya dan psikologi masyarakat diuraikan, dan saat ini jelas nyata terjadi. Seandainya saja kita semua mau bercermin dan belajar dari sejarah di negara-negara lain, ah!!!

Continue reading

Posted in Politik, Uncategorized | 1 Comment

Tragedi Penipuan Lewat Jilbab

Sudah tidak terkejut lagi sekarang jika melihat perempuan berjilbab namun sangat ketat dan tipis pakaiannya. Tidak aneh juga menemukan pekerja seks komersial yang menggunakan jilbab bahkam saat menjajakan diri dan transaksi dengan pembelinya. Begitu juga yang tertangkap dan diadili, jilbab seperti jimat saja yang mungkin bisa mengurangi rasa bersalah dan hukuman. Nah, yang paling parah adalah jilbab yang dipasang hanya ketika sedang berusaha mendapatkan kekuasaan. Keterlaluan!!!

Sungguh saya tak mengerti mengapa seseorang harus sampai sebegitunya menggunakan jilbab tanpa menghargai apa sebenarnya arti dan makna penggunaan jilbab itu sendiri. Rasanya malu hati sendiri melihat perempuan-perempuan berpakaian super ketat meski berjilbab. Tipis pula! Sampai pakaian dalamnya pun nampak jelas bentuk dan warnanya. Untuk apa, sih, pakai jilbab jika demikian?!

Continue reading

Posted in Politik | Leave a comment

Media Massa: Idealisme Vs Uang/Kepentingan

Kepala ini sudah terlalu malu menyaksikan dan membaca berita dan acara-acara di media massa. Kebebasan memang perlu tetapi ini seperti macan lepas kandang, sudah betul-betul kebablasan. Harga idealisme yang digembar-gemborkan saja sebatas uang dan kekuasaan. Sudah melewati batas perikemanusian, yang muncul adalah perkebinatangan manusiawi yang sangat dominan. Malu!

Seorang penulis dan wartawan berkata pada saya saat menjelang Pilpres kemarin, “Sudahlah, nggak usah ngomong soal idealisme. Anak-anakmu butuh hidup dan makan. Sekarang kita bicara soal uang saja, untuk apa susah karena mempertahankan idealisme?!”. Waduh!!!

Saya masih ingat sekali bagaimana seorang almarhum  Rosihan Anwar memberikan masukan penting bagaimana sulitnya menjadi wartawan yang berdedikasi dan berintegritas. Godaan dan tekanan itu selalu ada dan yang terpenting adalah kewajiban berupa tanggung jawab moral terhadap negara, bangsa, rakyat, dan seluruh isi dunia ini. Jika tidak sanggup menguasai diri dan lebih suka dengan uang dan kekuasaan, lebih baik tak usah jadi wartawan. Beliau bilang, “Jadi saja penjilat penguasa atau pedagang sekalian.”

Continue reading

Posted in Politik | 1 Comment